Pengantar Direktur Eksekutif Bentara Budaya

FESTIVAL KEBANGSAAN, FESTIVAL ANTARBANGSA

Bukan kebetulan jika tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional di Indonesia. Itulah hari pertama shooting film Darah dan Doa atau Long Marc (1950), film kesekian Usmar Ismail–Bapak Perfilman Nasional–, tapi itulah film pertamanya yang dibuat dengan kemerdekaan gagasan dan nasionalisme. (Sang Pelopor: Tokoh-Tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa/Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, Jilid 5/, Penerbit Buku Kompas, Rosihan Anwar 2012).

Jauh sebelum itu sudah beredar film Loetoeng Kasaroeng (1926). Film-film lain pun sudah lahir di Indonesia. Namun produksi dan gagasan pemerintah kolonial Belanda atau Jepang. Lalu tahun 1949, Harta Karoen (berdasarkan karya Moliere dari Perancis), dan Tjitra (berdasarkan drama karya Usmar Ismail tahun 1943) dibuat oleh Usmar Ismail, tetapi tidak dengan modal sosial kemerdekaan kreativitas, apalagi nasionalisme. Gagasan pembuatan dan suasana kerja, masih didominir pemilik modal, yaitu perusahaan film Belanda atau Jepang di Indonesia saat itu. Barulah tahun 1950, setelah perusahaan film Belanda itu pergi, dan Usmar Ismail mendirikan Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). ”Semua (Harta Karoen dan Tjitra) produksi Belanda, dan dalam penulisan skenario maupun pembuatannya banyak diberi petunjuk oleh pimpinan orang Belanda yang tidak selalu saya setujui,” kata Usmar Ismail. Film, baginya harus merupakan hasil karya seni yang bebas dan harus bisa mencerminkan kepribadian nasional.

Itulah sebabnya, ketika tahun 2013 Bentara Budaya menetapkan tema tahunan ”Kebangsaan”, dan gagasan itu sinkron dengan maksud mulia Udayana Science Club (USC)–unit kegiatan mahasiswa di lingkungan Universitas Udayana (Unud) Denpasar, Bali, kesejalanan itu kami wujudkan dalam kegiatan besar Festival Film International 2013. Kegiatan akan berlangsung empat hari 30 Agustus-2 September 2013 mengambil tempat di Bentara Budaya Bali (BBB), dan Auditorium Fakultas Kedokteran Unud, Jalan PB Sudirman, Denpasar

Gagasan tentang festival film bertema kebangsaan dengan bingkai cerita menyangkut ”Ibu dan Anak” ini bukan sikap latah. Konteksnya begitu berbeda dengan zaman Usmar Ismail, tetapi kegentingannya bisa sama derajatnya dalam konteks saat ini. Festival yang akan mengagendakan workshop, pemutaran film, serta diskusi bersama para sineas ini diberi tajuk Festival Film Bentara Budaya 2013.

Yang luarbiasa menggembirakan, acara ini mendapat dukungan penuh dari sejumlah lembaga internasional dan perwakilan negara-negara lain seperti Institut Française Indonesia (IFI) Jakarta; Pusat Kebudayaan Perancis Aliance Française Denpasar; Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien; Pusat Kebudayaan Italia Istituto Italiano di Cultura Jakarta; dan Konsulat Jenderal Italia di Denpasar; Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis; Japan Foundation Jakarta; dan Konsulat Jepang di Denpasar; Consulate Genderal of India Bali; serta Bidang Kebudayaan Kedutaan Besar Iran di Indonesia. Pusat-pusat kebudayaan itu mendukung penyediaan film, termasuk izin dari produser dan royalti, sebagaimana judul dan sutradara yang telah ditetapkan oleh panitia festival.

Sejumlah karya sineas peraih penghargaan Cannes atau Oscar, akan ditampilkan seperti Mehboob Khan (India), Bahman Gobhadi (Iran), Giuseppe Tornatore (Itali), Jean-Pierre Jeunet (Perancis), Wolfgang Becker (Jerman), Dennis Bots (Belanda), serta karya sutradara Indonesia di antaranya karya Garin Nugroho (Surat untuk Bidadari), dan Riri Riza (Atambua 39 Derajat Celcius).

Meski forum ini forum internasional, ekspresi kebudayaan dan kesenian antar bangsa pada dasarnya memiliki paradigma paradoksal: citarasa internasional dan universal itu rupanya bersumber pada pengalaman puitik otentik, yaitu pengalaman kebudayaan lokal yang ”benar” dan ”menyentuh” secara universal.

Semoga pengalaman otentik yang ”benar” dan yang ”menyentuh” secara universal itulah yang akan bertaburan. Di samping harapan bagi hadirin dan semua pihak yang terlibat untuk menyerap segenap ilmu, dan problematik industri film global….

Hariadi Saptono
Direktur Eksekutif Bentara Budaya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s