Film Kebangsaan

Kamis ke – 300

Penulis Naskah: Putu Wijaya

Sutradara: Happy Salma
Asisten Sutradara: Key Mangunsong
Penata Sinematografi: Bambang Supriadi
Penata Suara: Rizal Zaini
Penata Artistik: Arjuna Ireng
Penata Musik: Ricky Lionardi
Penyunting Gambar: Andhy Pulung

Setelah Rectoverso, Kamis ke 300 merupakan kali kedua Happy Salma duduk di kursi sutradara.

Berawal dari cerpen Kamis ke 200 yang pernah dimuat di harian Seputar Indonesia, tercetuslah keinginan membuat film berdasarkan cerpen ini.

Tentang sebuah keluarga yang kehilangan salah satu anggotanya, hilang entah kemana. Dihilangkan pemerintah.

Setiap Kamis, dimulai sejak 6 tahun lalu, di depan istana negara sekelompok orang berdiri, memakai baju hitam-hitam dan payung hitam. Sekedar mengingatkan kepada yang mengisi gedung di depan mereka, bahwa banyak kasus kemanusiaan di Indonesia belum tuntas. Dan bahwa sila kelima dari Pancasila belum tegak. 4 April 2013 lalu merupakan Kamis ke 300 para kerabat dan orang yang peduli berdiri di depan istana mengirim surat kepada Presiden. Telah 300 surat, dan tidak satupun ada balasan.

——————————————————————————————————————-

100% Sari 

Sutradara: Cassandra Massardi
Produser: Harry Simon Bakri
Skenario: Cassandra Massardi
Pemeran: Sudjiwo Tejo, Oka Lestari, Gerber Marlon, Tipi Jabrik
Durasi : 96 menit

Walaupun berlatar kisah cinta dengan setting terjadi di Bali, film karya sutradara Cassandra Massardi ini sesungguhnya tengah mengelaborasi sosok Ibu dalam pengertian Ibu Budaya, merefleksikan kenyataan yang telah dan tengah terjadi di Pulau tujuan utama pariwisata di Indonesia. Persoalan-persoalan identitas mengemuka melalui kisah kasih yang penuh problematik antara Gadis Bali bernama Sari dengan pria ‘bule’, serta bersimpang cinta dengan sosok pemuda setempat yang dipanggil Nyoman. Di sisi lain, Sang Ayah melarang Sari dengan berbagai alasan, tak merestui niat Sari. Dengan kata lain, terkait pula persoalan makna Kebangsaan bagi generasi yang berbeda. Tercermin melalui film ini adanya benturan antara nilai-nilai yang disebut tradisi dengan kemodernan serta kekinian, bermuara pada bagaimana masyarakat Bali bertransformasi.

—————————————————————————————————————

Atambua 39 Derajat Celcius

Karya Riri Riza. Menampilkan Gudino Soares Petrus, Beyleto, dan Putri Moruk. Penulis Naskah: Riri Riza.

Bahasa Indonesia. 2012. Drama. 90 menit. Semua umur.


Atambua 39 Derajat Celcius
Atambua 39 Derajat Celcius mengisahkan Joao yang menjalani kehidupan di kota
Atambua, kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Ia terpisah dengan ibunya sejak umur 5 tahun. Setelah referendum 1999, ibu dan adiknya tinggal di Liquica, Timor Leste. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Joao harus mengikuti ayahnya yang memilih tetap tinggal di Idonesia. Konflik psikologis keluarga yang menimpa Joao dan ayahnya dapat menggambarkan bahwa tidak mudah hidup dalam konflik dan perpecahan. Banyak keluarga dan saudara yang terpaksa berpisah karena pilihan politik. Judul film ini dipilih, karena 390 Celcius merupakan ambang batas manusia mengontrol pikirannya, di atas suhu itu, demam akan menguasai tubuh dan manusia sulit menjaga keseimbangan dan kesadaran diri.

——————————————————————————————————————-

Kisah Tiga Titik

Karya Lola Amaria. Menampilkan Lola Amaria, Maryam Supraba, Ririn Ekawati, Gary Iskak, Lukman Sardi, dan Donny Alamsyah. Penulis Naskah: Charmantha Adji.

Bahasa Indonesia. 2013. Drama. 105 menit. 15 tahun ke atas. 

kisah tiga titikFilm Kisah 3 Titik ini bercerita perihal 3 wanita pekerja yang mempunyai kesamaan nama yakni Titik. Yang pertama Titik Sulastri ( Ririn Ekawati ), adalah seorang janda beranak dua, bekerja sebagai pegawai kontrak yang mempunyai upah rendah di sesuatu pabrik garmen. Ke-2, Titik Dewanti Sari ( Lola Amaria ), wanita single yang usianya tidak muda lagi yang mempunyai posisi bergengsi di sesuatu perusahaan raksasa penuh skandal serta masalah. Serta yang paling akhir, Titik Kartika atau Titik Tomboy ( Maryam Supraba ), anak preman yang bekerja sebagai buruh pabrik rumahan yang berani serta tidak takut mati untuk keadilan. Tidak cuma nama mereka saja yang sama, mereka keduanya sama terjerat didalam kondisi yang bikin hidup mereka beralih 180 derajat.

———————————————————————————————————

Surat Untuk Bidadari

Karya Garin Nugroho. Menampilkan  Nurul ArifinJajang C. Noer, Windy, Hotalili, Ibrahim Ibnu, dan Viva Westi. Penulis Naskah: Garin Nugroho dan Armanto.

Bahasa Indonesia. 1994. Drama. 116 menit. Semua umur.

surat untuk bidadariDimanakah sosok malaikat saat seorang anak merindukan kasih sayang ayah-ibunya? Meski tak pernah mendapatkan balasan atas surat-surat pelipur lara yang dilayangkannya kepada bidadari, Lewa, bocah yatim piatu asal Sumba, tetap meyakini adanya keajaiban malaikat yang senantiasa melindungi hariharinya. Beratnya kehidupan masyarakat Sumba, dengan akses komunikasi dan transportasi yang sulit, rendahnya kesadaran pendidikan, serta terjeratnya penduduk pada golongan tuan tanah, tidak membuat Lewa merasa berduka. Ia teguh percaya, bahwa di sebalik rumitnya sikap, batin dan niatan buruk manusia, sejatinya malaikat selalu hadir memberkati. Garin Nugroho, sineas mumpuni Indonesia, menampilkan kontradiksi yang menyentuh antara indahnya harapan dengan pahitnya kenyataan, antara keinginan kanak-kanak yang lugu dengan tabiat manusia dewasa yang dengki, tamak dan pencemburu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s