Sambutan Bentara Budaya Bali

SENI, TINGGALAN ARKEOLOGIS, DAN JEJAK HISTORIS

Pameran kali ini merujuk sosok Mahendradatta, Permaisuri Prabu Udayana, yang bergelar Gunapriya Dharmmapatni. Namun sesungguhnya yang dihadirkan adalah tinggalan arkeologis serta jejak historis masa kerajaan Bali Kuno yang banyak ditemukan di daerah dataran tinggi, sepanjang daerah aliran sungai Pakerisan dan Petanu, seputar Tampaksiring, Pejeng, Baduhulu, bahkan hingga Kintamani.

Tinggalan arkeologis dan historis di wilayah tersebut mencerminkan kepercayaan masyarakat Bali pada masa itu, yang pada beberapa teks lontar sering disebut sebagai Agama Tirtha, dimana air merupakan unsur penting dalam setiap ritual keagamaan. Tecermin pada sejumlah candi yang dapat ditemui pula pada seputar lokasi dimaksud, semisal Candi Gunung Kawi, Candi Kerobokan, Candi Kelebutan, dan Candi Jukut Paku.

Sosok Gunapriya Dharmmapatni disebutkan pada prasasti, antara lain: Prasasti Serahi (993 M), Prasasti Buahan (994 M), dan Prasasti Pucangan (1041 M). Sedangkan sosok Mahendradatta mengemuka dalam lontar, antara lain lontar Mpu Kuturan. Pernikahannya dengan Prabu Udayana melahirkan beberapa putra: Marakatta dan Anak Wungsu yang menjadi penerus wangsa ini di Bali, sedangkan putranya yang lain, yakni Airlangga, kelak bertakhta dan mendirikan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur.

Peninggalan – peninggalan arkeologis dan jejak historis tersebut menggambarkan suatu capaian agung dan luhur dari masa Kerajaan Bali Kuno, yang nilai-nilainya terwariskan serta mewarnai keberadaan masyarakat Bali hingga sekarang ini. Di dalam sejumlah prasasti, baik yang menggunakan bahasa Sanskerta atau bahasa Bali Kuno, ditulis dengan aksara Nagari atau aksara Kawi, berikut kombinasi penggunaannya (Prasasti Belanjong) menggambarkan tingkat kemajuan dan kebesaran Dinasti Warmadewa ini. Sedini itu, telah terdapat pemilahan keahlian dan tugas dalam masyarakat, semisal: pande mas (pandai emas), pande wsi (pandai besi), pande kangsa (pandai perunggu), pande tuwangga (pandai tembaga), serta kelompok ahli bangunan yang disebut undahagi.

Tidak jauh berbeda dengan ilmu sejarah, arkeologi juga pada dasarnya mempelajari perkembangan manusia. Kedua disiplin ilmu itu berupaya mengelaborasi tinggalan atau warisan para leluhur, baik itu artefak atau dokumen, guna menyusun suatu rangkaian sebab akibat dari sebuah riwayat atau kisah. Dengan kata lain, pameran kali ini berupaya memaparkan suatu pemahaman tentang masa silam melalui tinggalan arkeologi serta jejak historis. Peristiwa pameran kali ini juga menggambarkan upaya kita untuk memaknai keagungan masa lalu secara lebih menyeluruh, menautkannya dengan kenyataan kekinian kita, sekaligus memaknainya sebagai sebentuk pengharapan akan masa depan Bali yang lebih baik.

Bentara Budaya Bali bekerjasama dengan Balai Arkeologi Denpasar, pada pameran kali ini menampilkan aneka tinggalan arkeologis berupa replika maupun foto serta benda-benda asli seputar prasasti, sarkopagus, arca, inskripsi, dan lain-lain. Secara keseluruhan, semoga memberikan pemahaman kepada kita tentang warisan – warisan luhur masa lampau, baik berupa konsep-konsep abstrak, nilai-nilai simbolik, atau berbagai fungsi sosial kala itu yang terbukti juga memperkaya nilai-nilai sosial kultural kita kini.

Bentara Budaya sebagai ruang publik nirlaba yang didedikasikan Kompas Gramedia, tidak hanya memberi kesempatan seluas-luasnya bagi capaian seni tradisional berikut karya para maestronya, melainkan terbuka juga ruang bagi para kreator modern atau kontemporer untuk mengekspresikan kreasi serta meneguhkan eksistensinya. Sejalan semangat kuratorial itu, kami mengundang partisipasi 25 seniman yang tergabung dalam Komunitas Perupa Tampaksiring dan tiga fotografer terpilih, Ida Bagus Darmasuta, Agus Wiryadhi Saidi, dan Phalayasa, turut memaknai peristiwa kali ini.

Para Perupa Tampaksiring sedini awal telah membuat sket secara on the spot di berbagai tinggalan arkeologis dan jejak historis tersebut. Sedangkan para fotografer, dalam perspektif masing-masing, mencoba mengabadikan tinggalan leluhur itu dalam sejumlah karya serta secara khusus menampilkan pula sosok- sosok perempuan Bali kini, sebagai gambaran transformasi dan dinamika perubahan yang terjadi selama ini.

Pertemuan antara para perupa, seniman fotografi, dan arkeolog, serta sejarawan berikut hasil karya dan kajian mereka, adalah sebuah upaya yang penuh kemungkinan dan menjanjikan. Bolehlah kita berharap dari silang bidang dan timbang pandang ini, akan tercipta karya-karya, baik seni maupun tataran pemikiran, yang otentik atau original. Hal tersebut dimungkinkan justru lantaran para kreator terpanggil menggali – memaknai akar tradisi serta warisan kultural seraya menyadari dinamika yang bersifat universal – globalisasi dengan segala fenomenanya.

Pameran kultural ini selaras dengan visi membangun Rumah Peradaban, yakni program unggulan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi se-Indonesia, bertujuan menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam tinggalan arkeologi kepada masyarakat luas sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian. Ini adalah sebuah transfer of knowledge atau perluasan kesadaran akan pengetahuan, khususnya kepada generasi muda, guna meneguhkan karakter dan pekerti bangsa.

Eksibisi kali ini merupakan kelanjutan dari peristiwa serupa tahun lalu, yakni Pameran Arkeologi Situs Tambora – kerjasama Bentara Budaya dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, di Bentara Budaya Jakarta dan Bentara Budaya Bali. Secara khusus, sepanjang bulan April ini, sosok perempuan dirayakan di Bentara Budaya Bali, baik simbolis maupun harfiah dalam sejumlah program, antara lain: Perempuan Dalam Sajak Zawawi Imron, Sosok Perempuan Dalam Sinema, dan Kisah Perempuan Mengalun Dalam Keroncong.

Terima kasih kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bapak Drs. I Made Geria, M.Si., atas apresiasi dan perkenannya untuk membuka pameran ini secara resmi. Terima kasih juga kepada Bapak Drs. I Gusti Made Suarbhawa, atas timbang pandangnya guna mewujudkan kerjasama ini. Terima kasih kepada Balai Arkeologi Denpasar, para perupa Komunitas Tampak Siring, serta para sahabat fotografer yang antusias berkarya dalam kebersamaan.

 

 

warih wisatsana
Bentara Budaya Bali