Kuratorial Pameran Sketsa Perupa Tampaksiring

DAS Pakerisan On The Spot Proses Series,
Amarawati Art Community Tampaksiring; Situs Sejarah Dalam Tatapan Para Perupa

Oleh; I Made Susanta Dwitanaya

Sekilas Profil Komunitas Perupa Tampaksiring ; Amarawati Art Community

Komunitas Perupa Tampaksiring ; Amarawati Art Community adalah sebuah wadah bersama yang didirikan sebagai ajang pembelajaran, sharing gagasan, serta kerja kreatif para anggotanya yang merupakan para perupa di wilayah kecamatan Tampaksiring Gianyar.Meskipun memakai label wilayah yakni Tampaksiring, Amarawati Art Community hadir bukan dalam rangka membangun pengentalan primordial ataupun kewilayahan yang membatasi gerak aktivitas kesenian dalam wilayah – wilayah terotorial tertentu, masing masing anggota tetap memiliki kebebasan untuk membuka diri dan mengembangkan aktivitas berkeseniannya secara personal, sesuai dengan pilihan strategi artistik masing masing. Amarawati Art Community hadir sebagai sebuah panggilan jiwa para anggotanya yang merasa lahir dan bertumbuh di wilayah Tampaksiring dan ingin menghidupkan basis kesenirupaan ataupun kesenian secara lebih luas di Tampaksiring.

Tanpa bermagsud untuk bernostalgia dan beromantika dengan sejarah, Tampaksiring merupakan wilayah yang menjadi bagian dari peradaban pada masa pra sejarah , hingga sejarah pada masa Bali Kuno. Temuan arkeologis berupa nekara (bulan Pejeng) di pura Penataran Sasih, gugusan situs situs kepurbakalaan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan, kawasan Pejeng yang diyakini oleh beberapa kalangan sebagai pusat kerajaan Bali Kuno, hingga pada masa kemerdekaan berdirinya Istana Kepresidenan Tampaksiring pada masa pemerintahan presiden Soekarno. Adalah beberapa nukilan historis Tampaksiring. Dalam ranah kesenirupaan pada decade 1920an hingga 1930an di Tampaksiring lahir beberapa pelukis tradisional seperti Ida Bagus Grebuak, Ida Bagus Muku, dan I Wayan Tohjiwa, tiga nama pelukis dan karya – karyanya dimasukkan dalam katagori gaya Tampaksiring dalam pameran karya koleksi Rudolf Bonet di Erasmus Huis Jakarta pada tahun 2008. Sejak tahun 1940an di Tampaksiring juga mulai berkembang aktivitas mengukir dengan media Batok Kelapa, Tulang, Tanduk, hingga Gading dengan gaya tradisional (pewayangan), aktivitas mengukir pada beberapa media tersebut terus berkembang hingga kini dan tentu saja mengalalami berbagai perkembangan baik dari segi bentuk, motif, tema dan desain, hingga bertumbuh menjadi industri rumah tangga yang menghidupi sebagaian besar masyarakatnya. Dalam bidang pertanian Tampaksiring juga memiliki dua buah Subak tua yakni Subak Pulagan dan Kumba yang menggunakan sumber air dari situs petirtaan Tirta Empul. Dalam bidang Seni Pertunjukkan di Tampaksiring juga terdapat beberapa jenis tarian Baris yang sudah mulai langka di Bali, seperti Baris Bedil, Baris Tamiang, Baris Dadap, dll.

Berbagai hal yang tumbuh di Tampaksiring seperti nilai historis, kehidupan kesenian serta alamnya menjadi “bahan” eksplorasi yang menarik jika diinterpretasi dan diwujudkan dalam konteks aktivitas proses kreatif kesenirupaan. Hal itulah yang kemudian melatar belakangi beberapa perupa baik dari kalangan perupa muda maupun perupa senior di Tampaksiring untuk menghimpun diri dalam wadah bersama tanpa membedakan sekat sekat akademik atau otodidak berupa sebuah komunitas yang bernama Amarawati Art Community. Komunitas ini terbentuk dari proses diskusi diskusi yang panjang antara para perupa yang sama sama berasal dari wilayah Tampaksiring. Dinamika obrolan yang berlansung dari satu rumah ke rumah perupa, atau dari momen momen kumpul yang cair tersebut akhirnya mengerucut pada kesepakatan bersama untuk membuat sebuah komunitas. Pada tanggal 8 Januari 2016, bertepatan dengan hari Purwanining Tilem Kapitu, (Hari Siwaratri) di dahului oleh proses persembahyangan bersama di Pura Tirta Empul, maka Komunitas Perupa Tampaksiring yang menamai diri sebagai Amarawati Art Community resmi terbentuk. Penamaan Amarawati ini didasari dari teks singkat Prasasti Tengkulak yang berbunyi “Katyagan Ing Pakerisan Ngaran Amarawati” yang arti bebasnya kurang lebih “Asrama pertapaan di Pakerisan bernama Amarawati”. Dari teks singkat tersebut dapat termaknai bahwa situs situs peninggalan kepurbakalaan di kawasan DAS Pakerisan tersebut selain berfungsi sebagai Pedharman raja raja pada masa Bali Kuno baik dari dinasti Warmadewa dan lain sebagainya, juga berfungsi sebagai asrama bagi para pertapa, para rohaniawan yang tentu saja lekat dengan aktivitas pendidikan spiritualitas manusia Bali pada waktu itu. Spirit Amarawati sebagai tempat pembelajaran rohani pada masa Bali kuno itulah yang kemudian coba dimaknai sebagai sebuah ruang belajar bersama bagi para anggota Amarawati Art Community.

 

DAS Pakerisan On The Spot proses Series, Sebuah upaya “memaknai” sejarah lewat seni rupa

Menyikapi tawaran dari pihak Bentara Budaya Bali melalui Warih Wisatsana, kepada para perupa yang tergabung dalam Komunitas Perupa Tampaksiring ; Amarawati Art Community untuk merespon pameran tentang Ratu Mahendradata, serta pameran benda benda arkeologis pada masa Bali Kuno yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Denpasar, di Bentara Budaya Bali pada bulan april ini. Maka Amarawati Art Community bersepakat untuk mengadakan proses berkarya on the spot, entah itu berupa sketsa, drawing, water colour painting, dan lain sebagainya di situs situs kawasan DAS Pakerisan. Hal ini bertimbang pada keterkaitan sosok Mahendradata atau Sri Gunapriya Darmapatmi yang merupakan permaisuri dari Raja Dharma Udayana dari dinasti Warmadewa. Sebagian dari situs – situs DAS Pakerisan seperti Tirta Empul, Mangening, Gunung Kawi merupakan jejak – jejak peninggalan arkeologis yang terkait dengan dinasti Warmadewa maupun Raja Udayana dan keturunannya. Keterkaitan tersebutlah yang melatar belakangi Amarawati Art Community untuk menghadirkan karya karya yang berbasis proses on the spot di situs situs tersebut.

Proses berkarya on the spot ini, berlangsung seminggu sekali sejak awal hingga pertengahan bulan april ini merupakan sebuah upaya dari para perupa yang tergabung dalam Amarawati Art Community untuk menyerap suasana, dan spirit, dari situs situs kepurbakalaan di sepanjang DAS Pakerisan tersebut untuk dijadikan energi dan inspirasi dalam berkarya. Metode eksekusi visual yang dipilihpun beraneka ragam, mulai dari teknik dan medium yang dipakai hingga pendekatan genre kekaryaan masing masing misalnya sebagian memakai pendekatan realistik dengan menghadirkan refleksi kebentukan dari objek objek yang ada di situs situs tersebut, sebagian lagi memilih melakukan stilirisasi, hingga menjadi layaknya sebuah karya yang interpretatif, image situs situs tersebut bukan lagi hadir secara realistik namun bisa deformatif, dekoratif, bahkan imajinatif sesuai dengan karakteristik visual masing – masing.

Adapun para perupa Amarawati Art Community yang terlibat dalam pameran ini adalah; I Made Suwisma, Jro Mangku Nyoman Sutrisna , I Wayan Gede Suwahyu, Jro Jiwatman, I Made Bayak Muliana, I Putu Edy Asmara Putra, I Made Sudarsa, Ngakan Ketut Parweka, Ida Bagus Sudana Astika, Ida Bagus Asmara Wirata(Gus Chenk), Ida Bagus Dewangkara(Gus Apeng), I Nyoman Suarnata (war), I Made Renaba, Pande Wayan Suputra, I Made Kartiyoga, I Wayan Arinata, Dewa Gede Suputra, I Made Adi Putra Sentana, Ngakan Putu Agus Artha Wijaya, I Wayan Gede Kesuma Dana, I Made Ardiana, Ni Komang Atmi Kristia Dewi, Ni Komang Kartika Tri Dewi, Damar Langit Timur, I Nyoman Kandika.

Menilik karya karya yang ditampilkan para perupa Amarawati Art Community dapat terbaca dalam tiga pendekatan; pertama adalah para perupa yang berupaya menangkap citra reflektif dari objek (situs) secara apa adanya. Karakteristik bentuk, suasana, dan gambaran realistik situs situs tersebut dihadirkan tanpa pretensi dan keinginan untuk menghadirkan pemaknaan lebih jauh selain perkara kebentukan. Persoalan apa yang “tampak” adalah fokus minat para perupa yang memilih jalur eksekusi karya model yang pertama ini, setidaknya hal itu tampak pada sebagian besar karya para peserta pameran ini, yaitu, I Made Suwisma, Jro Mangku Nyoman Sutrisna , I Wayan Gede Suwahyu, Jro Jiwatman, I Putu Edy Asmara Putra, I Made Sudarsa, Ngakan Ketut Parweka, Ida Bagus Sudana Astika, Ida Bagus Asmara Wirata(Gus Chenk), I Made Renaba, Pande Wayan Suputra, I Made Kartiyoga, I Wayan Arinata, Dewa Gede Suputra, I Made Adi Putra Sentana, Ngakan Putu Agus Artha Wijaya, I Wayan Gede Kesuma Dana, I Made Ardiana, I Nyoman Kandika, Ni Komang Kartika Tri Dewi.

Sedangkan sebagian kecil memilih pendekatan kedua dan ketiga yakni pengolahan pada persoalan teknis (non realistik) misalnya pada karya Atmi yang dekoratif, ataupun Ida Bagus Dewangkara (Gus Apeng) yang memilih mengeksplorasi teknik siluet dengan perulangan bidang bidang bulatnya. Atmi maupun Gus Apeng sama sama melakukan pengolahan objek (situs) dengan bahasa ungkap personal mereka masing masing. Citra objek yang realisatik bukan menjadi tujuan mereka melainkan bagaimana sebuah objek yang dilukis hadir dalam bahasa ungkap eksploratif mereka masing masing tanpa kehilanagan karakteristik objek (situs) tersebut. Sedangkan kecenderungan model eksekusi berkarya yang ketiga yakni interpretasi personal atas objek (situs) tampak pada kecenderungan karya Suarnata, Bayak, bahkan pada peserta termuda dari pameran ini yakni Damar Langit Timur. Karya mereka bertiga memperlihatkan upaya untuk member makna lebih dari sebuah objek (situs) melalui pendekatan simbolik maupun meminjam ikon di luar ikon kasat mata dari objek yang di lukis. Damar misalnya tidak melukis tentang gambaran suasana Tirta Empul secara kasat mata, imajinasinya tentang mitos mayadenawa yang menjadi bagian dari situs Tirta Empul tampaknya menjadi inspirasi pada karyanya. Sedangkan Made Bayak justru tampak sangat terobsesi pada simbol simbol yang ada di pura pengukur ukuran dan Gua Garba. Sedangkan Suarnata (War) tampaknya terinspirasi dengan nilai nilai luhur semisal spiritualitas, yang terdapat dalam artefak artefak sejarah sem,isal situs di kawasan DAS Pakerisan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Amarawati Art Community lewat proses berkarya on the spotnya ini dapat pula termaknai sebagai sebentuk bagaimana masyarakat hari ini yang hidup di sekitar situs tersebut memandang warisan sejarah yang ada di sekitar mereka. Lewat kerja kerja kreatif semisal berkarya on the spot ini para perupa yang merupakan anggota masyarakat di sekitar situs sejarah dalam konteks ini adalah situs sepanjang DAS Pakerisan mencoba memaknai masa lalu, sebagai sebentuk refleksi untuk pembelajaran tentang hari ini, sembari memproyeksi masa depan. Tentu masih banyak kerja kerja kreatif yang bias dilakukan,dan menjadi semacam PR bagi komunitas perupa ini kedepannya, serta tentu saja tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat luas (bali) sebab tentu saja DAS Pakerisan bukan hanya milik masyarakat di sekitar situs tersebut tapi telah menjadi milik dunia. Sinergi lintas bidang, seperti sejarah, arkeologi, seni rupa, science, dan lain sebagainya pasti selalu menjanjikan kemungkinan kemungkinan yang menarik untuk dieksplorasi dalam kerja kerja kreatif bersama.Kedepan , dalam konteks DAS Pakerisan sepertinya hal ini menarik untuk dilakukan. Semoga.


Profil Para Seniman 

Pura Gunung Kawi, cat air diatas kertas, 30cm x 40cm

I Made Adi Putra Sentana. Pura Gunung Kawi, cat air diatas kertas, 30cm x 40cm

I Made Adi Putra Sentana, lahir pada 6 Oktober 1991. Pernah mengikuti berbagai pameran bersama seperti : “All Agree“ Pameran bersama ISI Denpasar dan University Of Western Australia di ISI Denpasar (2010); Pesta Kesenian Bali XXXII “Silva Tri Hita Karana” (2010); Pameran Perupa Batu – Malang – Bali , ISI Denpasar (2011); Pameran Sketsa, Bali Creative Festival, Sanur (2011); Pameran “Part Of Life” di Museum Seni Batuan (2012); Pameran “Art Heart Earth”, Galang Kangin Artspace, Denpasar (2013); Pameran Bersama di Bumi Bali Bagus Architec (2014).

damar langit timur dewa indra 25x20cm drawing pen on paper 2016

Damar Langit Timur. Dewa Indra 25x20cm drawing pen on paper 2016

Damar Langit Timur, lahir di Batubulan, 28 Juli 2006. Karya-karyanya pernah ditampilkan pada sejumlah pameran diantaranya : “1000 pictures ASEAN Children Exhibition” Nusa Dua Bali (2011); Pameran bersama serangkaian acara Musim Semi Penyair, Alliance Francaise Denpasar (2012); Pameran Restropektif Sanggar Anak tangguh di Bentara Budaya Bali (2012); Pameran bersama di Sand gallery Sanur, Bali (2013).

I Made Sudarsa , Gunung Kawi, 30 x 40 cm, Ink on Paper 2016

I Made Sudarsa, Gunung Kawi, 30 x 40 cm, Ink on Paper 2016

I Made Sudarsa, lahir di Tampaksiring, 11 Januari 1976 . Alumni ISI Denpasar ini pernah mengikuti pameran Kamasra di Bali Cliff Resort, Jimbaran (1996); Pameran bersama Dies Natalis XXX STSI Denpasar (1997); Pameran Angkatan 96 di Kampus STSI Denpasar (1999); Pameran Pelukis Gianyar Timur di Balai Budaya Gianyar (2000). Peraih “Kamasra Prize” dari STSI Denpasar (1998) dan “SketsaTerbaik” STSI Denpasar (1997).

Pande Wayan Suputra Guinung Kawi, 20 x 30 cm Ink on Paper 2016

Pande Wayan Suputra. Gunung Kawi, 20 x 30 cm Ink on Paper 2016

Pande Wayan Suputra, kelahiran Tampaksiring, 27 November 1987. Alumni ISI Denpasar ini menampilkan karya-karyanya di sejumlah pameran seperti : “Natural Colour” pameran bersama di ISI Denpasar (2006); “Membaca Bali” di ISI Denpasar (2007); Pameran Karya Tugas Akhir di ISI Denpasar (2009). Pameran tunggalnya bertajuk “Once Upon Time In Bali” digelar di Ganesha Gallery, Four Sesion Jimbaran (2014)

Ida Bagus Asmara Wirata (Gus Chenk) , 29 x 42 cm, Ink on Paper, 2016

Ida Bagus Asmara Wirata (Gus Chenk) , 29 x 42 cm, Ink on Paper, 2016

Ida Bagus Asmara Wirata adalah seniman kelahiran Tampaksiring, 18 Agustus 1972. Alumni Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar di Batubulan. Ida Bagus Asmara Wirata telah mengikuti berbagai pameran seni.

I Wayan Gede Kesuma Dana, 29 x 41,5 cm, Pen on Paper, 2016

I Wayan Gede Kesuma Dana, 29 x 41,5 cm, Pen on Paper, 2016

I Wayan Gede Kesuma Dana, lahir di Tampaksiring, 26 Oktober 1992. Alumni Pendidikan Teknologi Informasi, Universitas Pendidikan Ganesha, ini menekuni bidang ilustrasi dan desain grafis. Karya-karyanya pernah diikutsertakan dalam sejumlah kompetisi ilustrasi dan desain grafis.

Ida Bagus Dewangkara (Gus Apeng), Stupa Pegulingan, 42 X 29 cm, Ink on Paper 2016

Ida Bagus Dewangkara (Gus Apeng), Stupa Pegulingan, 42 X 29 cm, Ink on Paper 2016

Ida Bagus Dewangkara, lahir di Tampaksiring, 19 Juli 1984. Menamatkan studi seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia pernah berpameran di beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta, Magelang, Solo dan Bali.

Ida Bagus Made Sudana Astika, Gunung Kawi, 30 x 42 cm, Mixed Media on Paper

Ida Bagus Made Sudana Astika, Gunung Kawi, 30 x 42 cm, Mixed Media on Paper

Ida Bagus Sudana Astika, lahir di Tampaksiring, 16 Februari 1976. Peraih “Kamasra Prize” dari STSI Denpasar (1998) dan “Sketsa Terbaik” STSI Denpasar (1998) ini pernah mengikuti sejumlah pameran di antaranya : Pameran bersama Kamasra di Bali Cliff Resort, Jimbaran (1996); Pameran HUT ke- 4 Kamasra di Gedung Mario Tabanan (1997); Pameran bersama Pelukis Gianyar Timur di Balai Budaya Gianyar (2000).

I Nyoman Suarnata (War) Treasure Image 30 x20 cm, Mixed Media on Paper

I Nyoman Suarnata (War) Treasure Image 30 x20 cm, Mixed Media on Paper

I Nyoman Suarnata, lahir di Tampak Siring, 16 Oktober 1981. Mengikuti sejumlah pameran berskala nasional dan internasional seperti: “ARTI11 and ART FAIR” di Dayang Art, Den Haag and Amsterdam (2011); “My Balinese friends” Pameran Internasional Korea-Indonesia, Sika Gallery, Ubud (2014); “Gudang Garam Indonesia Art Award 2015” Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2015); “Portable Sculpture Object Functional Art” Sudakara Art Space Sanur (2015). Pameran tunggalnya, “Deadline” digelar di Adi’s Gallery, Ubud (2011); dan “Artificial Imagine” Condrad hotel, Nusa Dua (2014).

Ngakan Ketut Parweka, Situs Gunung Kawi, 29 x 42 cm , Ink on Paper 2016

Ngakan Ketut Parweka, Situs Gunung Kawi, 29 x 42 cm , Ink on Paper 2016

Ngakan Ketut Parweka, alumni ISI Denpasar ini lahir di Tampaksiring 6 Januari 1976. Karya-karyanya tampil dalam berbagai pameran seni rupa diantaranya : Pameran Kamasra di Bali Cliff Resort, Jimbaran (1996); Pameran bersama Dies Natalis XXX STSI Denpasar (1997); Pameran bersama HUT ke- 5 Kamasra di Sahadewa Gallery Denpasar (1998); Pameran Pelukis Gianyar Timur di Balai Budaya Gianyar (2000). Meraih “SketsaTerbaik” pada Dies Natalis XXX STSI Denpasar tahun 1999.

Kartika dewi situs 1 25x20cm drawing pen on paper 2016

Kartika Tri Dewi. Situs 1 25x20cm drawing pen on paper 2016

Ni Komang Kartika Tri Dewi, lahir di Guwang, 25 Februari 1982. Karya-karya alumni ISI Denpasar ini tampil di pameran Sketsa Angkatan 2000, Art Center Denpasar (2001); Pameran Cat Air Angkatan 2000, ISI Denpasar (2002); Indonesian Art Festival III di STKW Surabaya (2003); pra Biennale Bali di Gaya Fusion, Ubud (2005); pameran “Arm Our Family” di Warung Yayaa Gallery, Sanur (2012).

I Made Ardiana Prasada Mangening, 25 x 20 cm, Mixed Media on Paper 2016

I Made Ardiana. Prasada Mangening, 25 x 20 cm, Mixed Media on Paper 2016

I Made Ardiana, S.Pd, lahir di Tampaksiring 16 April 1992. Aktif Mengikuti Pameran di beberapa tempat di Bali, seperti Denpasar, Ubud, dan lain sebagainya. Meraih sejumlah prestasi, antara lain Pemenang Lomba Karikatur antar siswa SMA (2009), Pemenang Lomba Sketsa antar mahasiswa seni rupa IKIP PGRI Denpasar (2012).

Ni Komang Atmi Kristiadewi Pengukur Ukuran, 40 x 30 cm Akrylic on Paper 2016

Ni Komang Atmi Kristiadewi. Pengukur Ukuran, 40 x 30 cm Akrylic on Paper 2016

Ni Komang Atmi Kristiadewi, lahir di Denpasar, 24 Juni 1990. Berpameran tunggal “Polusi Rasa” di TEN Fine Art Gallery, Sanur, Bali (2011) dan “ APAH “ Sudakara Art Space, Sanur, Bali (2015). Beberapa pameran bersama, antara lain: “The SENSE“, Santrian Gallery Sanur, Bali, “ULU TEBEN”, Militant Art, Bentara Budaya Bali, “Ilustrasi Cerpen Kompas “, Bentara Budaya Jakarta, “PABUAN”, Penciptaan Seni Rupa Dan Desain, Lingkar Art Space, Denpasar, “Sama-Sama”, Indonesia-Malaysia-Philipine Art Exchange Project Exhibition, Bentara Budaya Bali, dll.

Putu Edy Asmara Putra , Mangening 40 X 30 cm, Water Colour on paper

Putu Edy Asmara Putra. Mangening 40 X 30 cm, Water Colour on paper

Putu Edy Asmara, lahir di Tampaksiring, 5 April 1982. Meraih penghargaan : The Winner of Storiette Ilustration KOMPAS, The Winner of Radar Bali Art Award 2008, Best Art Work of The Final Study (Tugas Akhir) 2008-2009, Bachelor exam, at ISI DENPASAR (Indonesian Institut of Art Denpasar). Pameran tunggalnya “Don’t Cry For Me Indonesia”, Instalation and Performing Art, Danes Art Veranda, Denpasar (2008). Berpameran bersama : Langkawi Art Biennale, “IMIGRATION”, Malaysia, “MY BALINESE FRIEND”, Korean-Indonesian International Exchange Exhibition Sika Gallery, Ubud, “Neo Barbarian II”, Indonesian-Thailand International Artis Exchange, Bentara Budaya Bali dll

I Made Kartiyoga , Diam Dalam Hening, 30 x 21 cm Ink on Paper

I Made Kartiyoga, Diam Dalam Hening, 30 x 21 cm Ink on Paper

I Made Kartiyoga S.Pd, lahir di Gianyar, 05 Oktober 1986. Pernah berpameran, antara lain : Pameran bersama Gamasera (Gabungan Mahasiswa Seni Rupa Singaraja), Pameran tugas akhir II di Disbudpar, Singaraja, Bali, Pameran di Hotel Matahari Singaraja, Bali, Pameran “Nartzis” Ubud, Bali, Pameran “ Membaca Mitos” di Tirta Empul, Pameran bersama di Museum Batuan, Pameran bersama di Museum Neka, dll.

made bayak un identified symbol 1, 50x25cm pencil on paper 2016

Made Bayak. un identified symbol 1, 50x25cm pencil on paper 2016

Made “Bayak” Muliana, lahir di Gianyar 27 Juni 1980. Karya-karyanya dipamerkan di berbagai eksibisi berskala nasional dan internasional seperti: “Urban Spirituality” pameran di Sudakara Art Space Sanur (2015); Pameran bersama di Mayya Gallery, Frankfurt, Jerman (2013); Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas 2012, Bentara Budaya Jakarta (2013); ”Political Art from Far East” pameran di Polandia Biennale di Hanover, Jerman (2011); “Neo-Nation” Jogjakarta Biennale 2007; “Waspada!!” Pameran di Centre Culture of France, Jakarta (2005); dsb. Beberapa kali menggelar pameran tunggal diantaranya: Plastikologi “Trashed Island” (2014); “Artists Don’t Lies” (2012) “Art For Artists Sake” (2008). Meraih penghargaan “Top 20 Sovereign Art Price 2013” Espace Louis Vuitton Singapura; Finalis E-Idea Competition 2011 untuk Sustainable Design Category; 20 Nominations Bazaar Art Award 2010; dsb.

I Made Suwisma, Situs Gua Garba, 21 x 29 cm, Pencil on Paper, 2016

I Made Suisma, Situs Gua Garba, 21 x 29 cm, Pencil on Paper, 2016

I Made Suisma, lahir di Tampaksiring, 29 September 1956. Seniman yang sejak kanak belajar melukis secara otodidak ini telah menampilkan karya-karyanya di berbagai eksibisi seperti: Pameran Lukisan 1 kilometer dalam rangka HUT kota Gianyar (2015); “Semeton Indonesia” Museum Puri Lukisan Ratna Warta Ubud (2002); Pameran Bersama Pelukis Gianyar Timur, Balai Budaya Gianyar (1999-2001); Pameran Bersama Pesta Kesenian Bali, Art Center Denpasar (1999); ” Reincarnation” , Museum Puri Lukisan Ratna Warta Ubud (1998); Pameran Bersama di Subrata Gallery Ubud (1997).

Ngakan Agus Artha Wijaya , Kebo Edan, 30 x 40 Pencil On Paper 2016

Ngakan Agus Artha Wijaya , Kebo Edan, 30 x 40 Pencil On Paper 2016

Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, lahir di Pejeng, 13 Agustus 1990. Karya-karyanya ikut serta dalam pameran “Prajuritkemayu”, ViaviaResto and Alternative Art Space, Yogyakarta (2015); “Anggap Saja Rumah Sendiri”, Bentara Budaya Yogyakarta (2015); “Proklamasi Seni”, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2014); “Plural Power”, Balai Budaya Jakarta (2014); Pameran FKI Yogyakarta (2014); Pameran Kesenian Melayu, STSI Padang Panjang, Sumatra Barat (2013); “Part Of Life” di Museum SeniBatuan (2012), dan sebagainya. Meraih Runner Up Lomba Melukis di Kanvas, Nusa Dua Fiesta (2010); Karya Lukis Terbaik pada pameran “From to Basic” Art Centre, Denpasar (2010); Karya Terbaik Tugas Akhir, FSRD ISI Denpasar (2014).

I Wayan Arinata, Candi Tebing Gunung Kawi, 29 x 21 cm, Ink on Paper, 2016

I Wayan Arinata, Candi Tebing Gunung Kawi, 29 x 21 cm, Ink on Paper, 2016

I Wayan Arinata, lahir di Tampaksiring, 28 April 1992. Menempuh studi seni di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja. Karya-karyanya hadir di berbagai pameran seni rupa seperti : Pameran Lukisan 1 kilometer dalam rangka HUT kota Gianyar (2015); “I Faktor” Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa , Mahaart Gallery , Denpasar (2013); ” Golden Point” , Eks Pelabuhan Buleleng (2012); “Big Sale Art” dan Melukis Bersama HUT Gamasera , Taman Kota Singaraja (2012); Melukis Bersama, HUT Gamasera, Kampus FBS Undiksha (2011).

Dewa Gde Suputra, Stupa Pegulingan Dalam Sketsa 42 x 21 cm, Ink on Paper

Dewa Gde Suputra, Stupa Pegulingan Dalam Sketsa 42 x 21 cm, Ink on Paper

Dewa Gede Suputra, lahir di Tampaksiring 12 September 1990. Menempuh studi seni di ISI Denpasar. Beberapa pameran yang pernah diikuti antara lain : “Imagination Line” di Sixpoint Art Space, Sanur-Bali (2015); ”Treasure In Life’s” Monumen Perjuangan Rakyat Bali (2015); “ART EXPO(SE)’’ Roda Art Project, Maha Art Space (2014); “Lokalisasi Seni” Origami, Lingkar Art Space (2014); “Out Of Frame” Roda Art Project, Maha Art Space (2013); “ ARTWRONG” Origami di ART Center Denpasar (2013); “ Tanah Air” Pameran instalasi, Roda Art Project, Batubulan (2013); “Expression” Utak-Utik Gallery, Ubud (2011); “Panen Hasil Studi” di Musium Bali, Puputan Badung (2010).

I Made Renaba, Candi Tebing Gunung Kawi, 29 x 42 cm, Ink on Paper

I Made Renaba, Candi Tebing Gunung Kawi, 29 x 42 cm, Ink on Paper

I Made Renaba, lahir di Tampaksiring, 20 April 1985. Pengalaman pameran : Pameran Lukisan 1 Kilometer Hut Gianyar, By Pass Darma Giri Gianyar (2015), Pameran Tugas Akhir Gedung Kriya Hasta, Kampus Isi Denpasar (2009), Pameran Hut Bali TV yang ke 5 , Pasar oleh oleh Bali (2007), Pameran bersama Maestro dan Perupa Muda Bali, Kuta (2007), Pameran Kelompok KAMASRA “ Membaca Bali” di Green Room Kampus ISI Denpasar (2006), Pameran “Tanda Dalam Jejak” , di Dewangga Gallery Ubud (2006), Pameran “Nuansa Alam” di Art Center Bali (2005), dll.

Jro Mangku Jiwatman, Pelataran Dalam Pura Pengukur Ukuran, 40 x 30 cm, Ink on Paper 2016

Jro Mangku Jiwatman. Pelataran Dalam Pura Pengukur Ukuran, 40 x 30 cm, Ink on Paper 2016

Jero Jiwatman, lahir 18 Agustus 1972. Menempuh pendidikan di SMSR Ubud (1989-1994) dan STSI Denpasar (1997-2004). Sedari tahun 1990 aktif berpameran di dalam dan luar negeri.

Jro Mangku Nyoman Sutrisna, Gua Garba, 42 x 29 cm, Pencil on Paper 2016

Jro Mangku Nyoman Sutrisna, Gua Garba, 42 x 29 cm, Pencil on Paper 2016

Jro Mangku Nyoman Sutrisna, lahir di Tampaksiring , 1 Januari 1965. Menamatkan pendidikan di PSSRD Unud. Aktif berpameran di beberapa tempat di Bali.

I Nyoman Kandika Lingga , 29 x 42 cm, Pencil on Paper 2016

I Nyoman Kandika Lingga , 29 x 42 cm, Pencil on Paper 2016

I Nyoman Kandika, lahir di Gianyar, 11 April 1981. Menamatkan pendidikan di FSRD ISI Denpasar. Beberapa pamerannya: Pameran Tugas Akhir “ Momentum of Life” di Bentara Budaya Bali (2015), Pamerana bersama “ Bali Colours in Harmoni” di Six Point Art Space (2014), Pameran bersama Roda Art Project “ Art Expo “ di Maha Art Gallery (2014), Pameran bersama “ Kuta Protection” (2013), Pameran bersama Exist III di Gedung Pameran ISI Denpasar (2012), dll.

I Wayan Gede Suwahyu , Pura Pegulingan, 21 x 29 cm, Pencil on Paper

I Wayan Gede Suwahyu , Pura Pegulingan, 21 x 29 cm, Pencil on Paper

I Wayan Gede Suwahyu, lahir di Tampaksiring , 13 Februari 1961. Suwahyu saat ini adalah seorang abdi Negara, polisi aktif dan menjabat sebagai kepala BNN Kota Denpasar. Di sela aktivitas menjadi kepala BNN dan Polri Suwahyu aktif berkarya dan berpameran di beberapa galeri di Bali.