Kuratorial Pameran Fotografi

MEMBAHASAVISUALKAN SOSOK HISTORIS-ARKAIS :
TANTANGAN FOTOGRAFI

Manusia, tak terpisahkan dari sejarah, dan selalu mengingatnya. Seperti itulah yang terjadi pada kita yang tak bisa lepas dari ingatan masa lalu ketika saat yang sama , kita sedang berjalan ke masa depan. Sejarah dengan bebagai tinggalan arkais merupakan jejak peradaban yang sering kali membangun teks baru yang dibahasakan dari generasi ke generasi. Teks baru yang diformulasikan oleh satu generasi tentulah tidak harus sama dengan generasi berikutnya. Setiap generasi memiliki horizon harapan dan pandangan dunia yang berbeda sesuai kondisi zamannya.

Sejarah meninggalkan sosok dan artefak yang tercatat dalam prasasti dan tinggalan arkeologis. Keduanya dibahasaverbalkan oleh para ahli dalam tulisan dan hasil penelitian. Situs-situs purbakala yang berisi arca, prasasti, candi, relief, dan sebagainya dapat juga dibahasakan secara visual dengan menghadirkannya berupa foto maupun lukisan. Persoalan yang mengemuka adalah bagaimanakah memvisualkan seorang “sosok sejarah” yang hidup sungguh jauh berabad di masa lampau? Sejarah bukanlah tafsir mimpi yang bisa dijelaskan lewat “pawisik” atau cara-cara supranatural lainnya. Sejarah adalah kepastian, bukan narasi imajinatif nan fiksional yang sering jatuh menjadi mitos. Dalam situasi kelampauan yang begitu jauh, tentu sangat sulit menemukan jejak-jejak visual mereka, apalagi bermaksud membahasavisualkan sosok lampau itu pada saat kini.

Sunggguh sebuah tantangan, ketika Bentara Budaya Bali mengajak kami untuk ikut memamerkan foto dalam pameran bertajuk Mahendradatta: Jejak Arkeologis dan Sosok Historis. Pameran yang akan melibatkan para arkeolog, perupa, dan fotografer ini tentu akan memberi ruang bagi ketiganya untuk “mengungkapkan” Mahendradatta dari sudut pandang masing-masing. Bingkai tema yang harus kami eksekusi adalah “sosok perempuan dalam tinggalan historis dan arkeologis, serta figur-figur masa kini cerminan dinamika perubahan yang terjadi”.

Untuk menghasilkan foto terpilih yang akan dipamerkan, kami melakukan hunting foto ke berbagai situs peninggalan kerajaan Bali Kuna yang ada di sepanjang DAS Pakerisan. Interpretasi kami terhadap tinggalan historis-arkeologis kerajaan Bali Kuna, Mahendradatta, Udayana, dan situs DAS Pakerisan, melahirkan kesepakatan kami untuk setidaknya menghadirkan tiga hal, yaitu, situs, perempuan, dan air yang terangkum dalam frame foto. Keputusan untuk memasukkan ketiga hal itu bukanlah suatu yang mudah, karena “pemburuan” kami adalah pemburuan “live” bukan rekayasa fotografi dengan menyiapkan model tertentu. Bagi kami model itu adalah “subyek apa adanya di situs itu”. Dengan cara pandang seperti ini, kami ingin menghadirkan bahwa makna historis-arkeologis harus dipandang dari sudut pandang kekinian, di mana kita masih melihat bahwa masyarakat memperlakukan tinggalan kepurbakalaan itu sebagai kawasan suci yang sakral, sekaligus menjelaskan bahwa benda arkais itu adalah saksi sejarah tentang peradaban yang sedang berlangsung sampai sekarang ini.

Denpasar, 29 April 2016

Ida Bagus Darmasuta
Agus Wiryadhi Saidi
Phalayasa Sukmakarsa


Profil Fotografer 

phala
Phalayasa Sukmakarsa, lahir dan besar di Denpasar. Sempat aktif di Sanggar Minum Kopi. Karya-karya fotonya pernah dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Beberapa pamerannya antara lain : Pameran Fotografi “Teater Kita: Panggung Baru” di SIX POINT, Sanur (2014), Pameran Fotografi di Rompyok Budaya, Jembrana dan di Undiksha, Singaraja.

Dunia Air (Agus Wiryadhi Saidi)

Agus Wiryadhi Saidi, lahir di Denpasar, 23 November 1960. Tahun 2014 bersama perupa Nyoman Erawan dan lima seniman lainnya mengadakan pameran bertajuk “Beyond a Light” di Bentara Budaya Bali. Disusul pameran “Morning of the World” di Griya Santrian dan “Teater Kita: Panggung Baru” di Six Point, Sanur. Karya fotonya pernah dimuat di berbagai media cetak di Bali, Kompas (Jakarta), majalah ipad (online) The B Side di Malaysia (2012) dan menghiasi sampul depan buku “Performing Arts in Postmodern Bali” yg terbit di Jerman (2013). Tahun 2014 dan 2015 meraih juara II pada lomba foto Sanur Village Festival.

Kasih Ibu Gunung Kawi (Ida Bagus Darmasuta)

Ida Bagus Darmasuta lahir di Denpasar, 10 April 1962. Ia menulis naskah drama Bunga Layu Mekar Kembali (1989), Jika Tangan Telah Menyatu (1990), dan Bondar (1990), telah ditayangkan oleh TVRI Denpasar. Pada tahun 2007, ia memperoleh Penghargaan Sastra Rancage atas jasanya membina dan memfasilitasi penerbitan buku sastra Bali modern. Berpameran bersama perupa Nyoman Erawan “Beyond a Light” di Bentara Budaya Bali (2014), Pemeran Fotografi “Teater Kita: Panggung Baru” di Six Point, Sanur dan Rompyok Budaya (2014). Menerbitkan buku “Jejak Kanvas: Puisi Fotografi” (2013).