Tentang Festival

FESTIVAL FILM INTERNASIONAL BENTARA BUDAYA BALI 2013

KEBANGSAAN DALAM SINEMA

Menyikapi kondisi terkini di Indonesia, terkait tantangan dan penerapan nilai-nilai kebangsaan, Bentara Budaya Bali bersama Udayana Science Club, Universitas Udayana, mempersembahkan Festival Film Internasional Bentara Budaya Bali 2013 yang kali ini mengusung tema Kebangsaan dalam bingkai cerita ‘Ibu dan Anak’.

Selain mengetengahkan sinema berbagai negara seperti Italia, Jerman, Belanda, India, Jepang, dan Iran, secara khusus juga menghadirkan film-film Indonesia terpilih bertautan dengan persoalan Kebangsaan, di antaranya karya Garin Nugroho (Surat untuk Bidadari), Riri Riza (Atambua 39 Celcius), Lola Amaria (Kisah Tiga Titik), dan Preview Film dari Sutradara Happy Salma (Kamis ke-300). Digelar pula acara untuk para penoreh sejarah, ‘A Tribute to Maestro : Film Hitam Putih’, karya sutradara legendaris Rashomon (Akira Kurosawa), The Kid (Charlie Caplin), serta Darah dan Doa (Usmar Ismail). Film-film lainnya adalah karya sutradara pemenang Cannes, Oscar, Berlin Festival dan peraih award lainnya, di antaranya Mehboob Khan (India), Bahman Ghobadi (Iran), Giuseppe Tornatore (Itali), Jean-Pierre Jeunet (Perancis), Wolfgang Becker (Jerman), Dennis Bots (Belanda), Kenji Nakanishi (Jepang) . Masing-masing film bersentuhan dengan persoalan kebangsaan, baik secara langsung maupun tidak, serta dituturkan melalui sosok Ibu dan/atau Anak.

Pikiran-pikiran tentang kebangsaan dan nasionalisme kerap kali sulit diimplementasi lantaran gagasan, cakupan nilai, serta tantangannya yang sedemikian kompleksnya. Terlebih Indonesia memiliki kekayaan kultural yang beraneka, tersebar dari Sabang sampai Merauke mencakup lebih dari 17.000 pulau. Negeri ini tidak hanya semata-mata berhadapan dengan masalah bagaimana menjaga keutuhan bangsa seraya mengukuhkan penghormatan akan kebhinnekaan, namun sekaligus juga berada dalam pusaran globalisasi, yang menuntut peran cerdas dan strategis kita di bidang sosial, politik, dan kebudayaan. Kondisi ini membutuhkan pandangan atas kebangsaan yang lebih utuh dan menyeluruh, yang memadukan sebentuk kesadaran akan nasionalisme yang berperikemanusian serta universal. Problematik di seputar “Kebangsaan” ini ditetapkan Dewan Kurator Bentara Budaya sebagai tema utama tahun 2013, yang direspon oleh empat venue (Bentara Budaya Jakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, Balai Soedjatmoko Solo, dan Bentara Budaya Bali) dengan aneka program seni budaya.

Festival mengagendakan berbagai diskusi; “Dilema Kebebasan, Sensor Dalam Film Indonesia”, “Atambua dan Sumba: Cerita Indonesia Di Balik Kamera”, “Sosok Perempuan Dalam Sinema: Melintas Batas Entitas”. Acara ini diharapkan dapat memberikan inspirasi sekaligus pandangan mendalam perihal pentingnya kesadaran kebangsaan di lingkungan generasi muda berikut implementasinya. Dibuka pula satu sesi mengenai keberadaan komunitas film indie, berikut karya-karya film cerita dan dokumenter mereka. Sebagai honorable speech dan narasumber, Garin Nugroho, Noorca M. Massardi, Happy Salma, Putu Fajar Arcana, Nunus Supardi, Lola Amaria, Jean Couteau, Koes Yuliadi, Maria Matildis Banda, Putu Kusuma Widjaja, Putu Satria Kusuma, Agung Bawantara, Antonella de Santis, dan lain-lain.

Festival ini didukung oleh lembaga-lembaga kebudayaan, di antaranya Institut Française Indonesia (IFI) Jakarta, Pusat Kebudayaan Perancis Alliance Française Denpasar, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, Pusat Kebudayaan Italia Istituto Italiano di Cultura Jakarta dan Konsulat Jenderal Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Japan Foundation Jakarta dan Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar, Konsulat Jenderal India di Denpasar, dan Bidang Kebudayaan Kedutaan Besar Iran di Indonesia. Di samping itu, program film bersama ini mendapat apresiasi dan dukungan dari Sinematek Indonesia, Lembaga Sensor Film Indonesia, Publicist Miles Films, Lola Amaria Production, Titimangsa Foundation, dan i netra production, STIKOM Bali, berikut komunitas-komunitas film di Tanah Air.

Festival juga membuka ruang untuk sineas independen, yang karya cerita dan dokumenternya juga terbilang mumpuni; Chairun Nissa (Institut Kesenian Jakarta) dengan film Purnama di Pesisir, yang meraih Penghargaan Special Mention for Short Film 9th Roma Independen Film Festival (2010) dan Official Selection 39th International Film Festival Rotterdam (2010); penggagas Festival Film Dokumenter Denpasar, Agung Bawantara, berikut karya-karya pemenangnya; Komunitas Film Buleleng; Rai Pendet (Tarian Bumi; terilhami novel karya Oka Rusmini) – ISI Yogyakarta, dan lain-lain.

Mendahului Festival Film Internasional Bentara Budaya Bali 2013 ini, diselenggarakan agenda workshop: Alih Bahasa (subtitling) Film oleh Ida Ayu Made Puspani; Penyutradaraan dan Mata Kamera oleh Putu Kusuma Widjaja; Seni Peran dan Adaptasi Naskah oleh Happy Salma, sedari 26- 31 Juli 2013.

Seluruh agenda dan program bersifat nirlaba dan tiap tayangan film tanpa pungutan/ bebas bea; serta sedini awal lebih diniatkan sebagai upaya untuk mengembangkan apresiasi masyarakat khususnya generasi muda terhadap film-film berkualitas, terutama karya-karya sineas kita yang terbukti memperoleh penghargaan dan sanjungan di dunia internasional.

IBU DAN ANAK DALAM BINGKAI KEBANGSAAN

Peran dan figur seorang ibu terbukti menginspirasi lahirnya karya-karya yang bernilai seni tinggi, baik dalam bidang sastra, musik, film, tari maupun ragam ekspresi lainnya. Para kreator tidak hanya berupaya mengeksplorasi sosok ataupun ketokohan ibu secara harfiah atau sehari-hari, namun juga mengelaborasi nilai-nilai luhur simbolisnya.

Dalam tataran yang lebih luas, Ibu juga kerap dihadirkan sebagai simbol kecintaan kita akan tanah air, atau Ibu sebuah bangsa. Indonesia sendiri mengenal idiom Ibu Pertiwi, yang merefleksikan bumi tempat pijak masyarakat negeri ini sekaligus bermakna sebagai sesuatu nan agung, tanah tumpah darah kelahiran, di mana segala hal di Nusantara diibaratkan bermuasal darinya. Dengan kata lain, dapat juga berarti Ibu Budaya.

Sementara itu, masyarakat Bali mengenal sosok Ibu yang termanifestasikan dalam berbagai rupa dan peran. Sebagai Dewi yang baik hati, maupun sosok-sosok luhur lainnya, dengan kepribadiannya yang penuh welas asih. Sosok Ibu nan agung tersebut dapat ditemui pada cerita-cerita setempat, kisah religi maupun wiracerita pewayangan.

Festival Film Internasional Bentara Budaya Bali 2013 mengedepan sosok Ibu berikut problematik yang menyertainya. Dihadirkan dalam ragam film cerita atau dokumenter, baik selaku Ibu dalam pengertian sehari-hari, maupun sosok simbolisnya. Selain merupakan penghormatan pada keluhuran kasih Ibu, diharapkan melalui festival ini pemirsa terpanggil untuk meresapi dan memaknai kembali nilai-nilai keharmornisan dalam keluarga, toleransi, dan kearifan lokal (local wisdom) sebagai kekayaan kultural bangsa, seraya menyandingkan dengan nilai-nilai serupa yang juga tumbuh di alam kultural negara-negara sahabat.

Bila selama ini kehidupan sinema atau layar lebar selalu dianggap dan dirayakan sebagai dunia para bintang nan glamor atau selebrasi bagi selebriti, maka festival ini lebih diniatkan untuk perluasan kesadaran akan pengetahuan (transfer of knowledge). Festival kali pertama ini tentulah sebuah torehan sejarah meski diselenggarakan secara bersahaja, jauh dari karpet merah nan glamoris. (ww)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s