Timbang Pandang “SAINS, SENI, DAN UPAYA KREASI LINTAS BIDANG”

Buku Puisi dr. Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa

Kamis, 2 Januari 2020, pukul 16.30 WITA          

Di Auditorium A.A. Djelantik, Gedung Fakultas Kedokteran Lt. 4 Universitas Udayana

Program timbang pandang kali ini akan membincangkan perihal “Sains, Seni, dan Upaya Kreasi Lintas Bidang”, berangkat dari buku kumpulan puisi karya dr. Arya Warsaba Sthiraprana Duarsa bertajuk “Autobiografi Kejahatan”, diterbitkan Bali Mangsi Foundation (2019). Selain seorang dokter, Sthiraprana Duarsa dikenal tekun menulis puisi, serta aktif berkesenian sedari remaja. Bukunya yang pertama berjudul “Bagian dari Dunia” terbit tahun 1994, lalu disusul “Pulang Kampung” (2008) dan kumpulan cerpen “Rumah Kenangan” diterbitkan 2014.

Dokter yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat (Hukmas) di RSUP Sanglah ini menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan Magister Manajemen di Universitas Pendidikan Nasional, Denpasar. Ia menjadi dokter sejak tahun 1995, dan terhitung sudah 24 tahun ia menjadi dokter umum di RSUP Sanglah.

Selama ini sains dan seni kerap dipandang sebagai dua kutub yang berlawanan. Namun, boleh dikata proses kreatif serta pengalaman yang diselami oleh dr. Sthiraprana Duarsa justru membuktikan bahwa antara sains dan seni, khususnya sastra, dapat berjalan beriringan dan saling menopang.  

Bahkan jauh sebelum itu, sejumlah fenomena sejarah juga menunjukkan adanya keterhubungan dan interseksi antara sains dan seni. Era Renaisans bukan hanya menandai masa perkembangan peradaban Yunani, melainkan juga revolusi sains dan seni. Copernicus dan Galileo memulai revolusi sains yang berpuncak pada karya Leonardo da Vinci (arsitek, musisi, pelukis, penulis, dan pematung/pemahat), Michelangelo (pelukis, pemahat, pujangga, dan arsitek) dan Rembrandt (pelukis terbesar dalam sejarah Eropa). Atau dalam revolusi teori relativitas Einstein yang memperluas mekanika Newton dari konsep “ruang dan waktu” menjadi “ruang-waktu”. Revolusi sains akibat teori relativitas Einstein membuka cakrawala baru berpikir dari yang konsep absolut ke konsep relatif. Sains bukan hanya memerlukan logika, namun juga impresi (imajinasi)–sebagaimana dijumpai pula dalam seni—yang dibangun dari konsep-konsep matematika (sarana berpikir ilmiah).

Sains menjelaskan kebenaran dan rasionalitas hukum-hukum alam yang logis, sementara seni menunjukkan keindahan alam yang imajinatif. Sains dan seni sama-sama mengungkapkan fenomena alam yang rasional dan eksploratif-prediktif. Karena kedua kajian itu (seni dan sains) merupakan fokus perhatian manusia sejak dahulu kala karena terkait dengan eksistensi manusia dikaitkan dengan rasionalitas dan imajinasi dan keduanya memerlukan improvisasi sehingga dapat dikatakan seorang ilmuwan sejati adalah seniman sejati juga.

Tampil sebagai narasumber timbang pandang yakni Hartanto Yudho Prastyo (pengamat dan pegiat seni budaya), dr. I Nyoman Sutarsa, MPH, FHEA (dokter, akademisi, pengamat sastra) dan Warih Wisatsana (penyair, kurator). Ketiganya bukan hanya akan berbagi perihal bagaimana sains dan seni bertemu serta melahirkan ragam kreasi yang bersifat lintas bidang, namun juga fenomena bentuk-bentuk kesenian masa kini yang lintas batas serta memerlukan sebuah upaya kolaborasi yang selaras jiwa zaman.

Seturut percepatan teknologi informasi dan audio visual, kini lahir berbagai bentuk seni multi-media dan tidak sedikit pula yang berangkat dari alihkreasi atau upaya penciptaan dari satu bidang seni (berbagai bidang seni) menjadi bidang seni yang lain. Semisal dari puisi menjadi video art, pertunjukan, atau seni rupa. Melalui alihkreasi dan kolaborasi semacam itu, dengan sendirinya akan memungkinkan perluasan apresiasi dan sosialisasi sastra menyentuh publik aneka latar. Ini sekaligus juga menjadi bagian dari pencarian dan penemuan seniman-seniman mutakhir.

Profil Narasumber:

Hartanto Yudho Prastyo lahir di Surakarta, 1958 dan tinggal di Denpasar. Ia pernah bekerja sebagai wartawan majalah Matra. Menulis sejak SMP, karya-karyanya dimuat Bali Post, Nusa Tenggara, Suara Karya, majalah Hai dan Jurnal Kebudayaan CAK. Puisinya terbit dalam antologi Ladrang (1995). Belakangan menjadi “petani” di Bali Utara.

dr. I Nyoman Sutarsa, MPH, FHEA, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, peraih berbagai penghargaan dalam dan luar negeri. Menyelesaikan program Master of Public Health di La Trobe University Australia (2011-2012) dengan beasiswa Australian Development Scholarship dan mendapatkan penghargaan Golden Key (untuk capaian prestasi akademis) dari Golden Key International Honour Society (2012). Kandidat PhD dalam bidang Health System and Policy di The Australian National University.

Warih Wisatsana, selain menulis puisi, esai dan ulasan seni rupa, tinjauan sastra, serta seni pertunjukan, bergiat juga sebagai kurator seni. Ia juga bertindak sebagai editor berbagai buku dan bersama Jean Couteau menulis buku biografi Agung Rai (Museum ARMA). Pernah berkolaborasi degnan perupa Made Wianta, Nyoman Erawan, koreografer Nyoman Sura, serta sebagai sutradara pertunjukan, antara lain: Odipus Sang Raja bersama Nyoman Cerita dan Nyoman Wenten. Kini sebagai kurator Bentara Budaya. Tulisannya dimuat di Kompas, Tempo dan http://www.wisatsana.wordpress.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s