Artist Talk “Bali Megarupa” LINTAS MEDIA, BEBAS RUPA

Sabtu, 26 Oktober 2019, pukul 18.30 WITA

Praktik seni rupa kini yang semakin lintas batas, kobaloratif, dan partisipatif dalam menjejaki fenomena estetik telah melahirkan bentuk-bentuk ekspresi rupa di luar medium konvensional. Pendekatan instalasi karya perupa masa kini memaparkan pemandangan yang semakin total dan konseptual. Sejumlah perupa pun kian intens memanfaatkan media baru dalam praktek penciptaan kode simbolik media yang secara sadar digunakan sebagai power entitas estetik.

Zaman dan rezim teknologi terus-menerus tanpa henti menyempurnakan diri, dampaknya kemudian lahir kebudayaan material baru, struktur kode simbolik dibangun menjajaki ruang-ruang konkret dengan kesadaran baru. Bahkan dihadirkan gerak dan ilusi tiga dimensi. Teknologi digital era 4.0 menyediakan perangkat untuk menjawab kebutuhan ekspresi perupa melalui jelajah sifat dan karakter dari medium tersebut.

Kurator Wayan Sujana Suklu menyebut sebagain besar seniman dalam pameran bertajuk MUARA, Bali Megarupa, merefleksikan tradisi dengan sikap kritis serta empatik pada persoalan-persoalan kemasyarakatan. Sejauh mana nilai-nilai yang ditawarkan melalui kode simbolik ini melalui penyiasatan spatium (ruang) rupa (visual) diperlukan penghayatan dan penelusuran lebih mendalam. Pameran Bali Megarupa, kata dia, sedapat mungkin menangkap gejala-gejala rupa dengan basis idiom yang berbeda-beda tersebut.

Dari sinilah artist talk berpijak dan berharap menghadirkan berbagai pendapat dan pengalaman untuk pengayaan bersama tentang media baru yang kian menggejala di dunia seni rupa kita.

Profil Narasumber:

MADE BAYAK

Lahir di Gianyar 1980. Alumni ISI Denpasar. Menggelar sejumlah pameran dan workshop di antaranya Plasticology Cultural Exchange Program Art Presentation and Workshop, Bali and Kagoshima University Japan (2015), ENCOUNTER South East Asia Plus Trienalle at National Gallery of Indonesia Jakarta (2016), Plasticology and Bali Tolak Reklamasi Art Event Presentation at University L’Orientale Naples, Napoli Italia (2016), Festival Archive, Indonesia Visual Art Archive Jogjakarta at Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM Cultural Center Jogjakarta (2017), Bali Welcome to Paradise, Exhibition at Volkenkunde National Museum Leiden, Netherlands (2018), Plasticology Art Project Exhibition and Workshop Session at Pasar Hamburg, Germany (2018), Plasticology Workshop Session at Lyndon House Arts Center Athens GA, US (2019), kuliah umum, Art and Activism in Bali at Melbourne University, Australia (2019), Rainbow Dragon Plasticology Workshop Session at Orchard Grove School, Blackburn, Melbourne, Australia (2019). Menampilkan pertunjukan seni Tire Me as Bali Voice of Voiceless, Happening Art at RMIT Gallery Melbourne, Victoria, Australia (2019), Mengikuti Jogja Biennale 2019.

TJANDRA HUTAMA KURNIAWAN

Lahir di Blahbatuh Gianyar 1981, Sarjana Desain Komunikasi Visual ITS ( Institut Teknologi Sepuluh Nopember ) Surabaya. Memulai bisnis printing sejak 2005 hingga kini. Serius menekuni fotografi sejak 2010 dan pernah mengikuti berbagai pameran foto serta mendapatkan beberapa penghargaan baik nasional maupun international. Saat ini sebagai Ketua Perhimpunan Fotografer Bali. Pameran terseleksi: Epic Of Ramayana ( Wayang Wong Desa Tejakula) di Rumah Topeng (2017), Rejang Dancer di La Finca & Oberoi (2016), Tri Hita Karana di Conrad Tanjung Benoa (2015), 75 Tahun Maestro Tari Kebyar Duduk Ida Bagus Blangsinga di Bentara Budaya (2014). Prestasi & Penghargaan: FIAP Ribbon Street Life “French Digital Tour 2018”, “Gold Medal & Bronze Medal Digital Creative” Salonfoto Indonesia 2018, 1st Winner International Chinese New Year Photo Contest 2016, PSA Gold Medal Color & Gold Medal Movement dalam Salon Foto CCC 2016, Honorable Mention FIAP Biennial World Cup 2015, Granprize Winner Tamron Go To JAPAN 2014, Bronze Medal CNPS 2013.

KOKOKSAJA

Aktif di After Party Experiment, biasa disingkat APE adalah sebuah ruang eksperimen seni visual yang berbasis di BALI. APE dibentuk oleh dua seniman multimedia (Kokok Saja & Yudi Chandra) dengan latar belakang yang berbeda namun memiliki ketertarikan yang sama yaitu terhadap seni visual, teknologi dan interaktif. Hasil eksperimen dari APE banyak diimplementasikan ke dalam kolaborasi pertunjukan seni (tetater, musik, tari, lukis) dalam bentuk teknologi audio visual seperti video mapping, interactive visual, motion sensor performance, audio reactive visual, dan masih banyak lagi. Kegiatan kolaborasi multimedia yang pernah didukung oleh APE motion di antaranya Kukusan Paon, Koreografer Jasmine Okubo, Produksi Kita Poleng (2017), Galeri Indonesia Kaya, Sangkala, Koreografer Andhika Annisa, Produksi Cush Cush Gallery Denpasar (2018).

IB RATU ANTONI PUTRA ‘MONEZ’

S1 Design Komunikasi Visual dan S2 Kajian Seni di Institut Seni Indonesia Denpasar. Sebagian besar karya ilustrasi Monez menggunakan media digital di komputer. Monez juga telah memamerkan karya-karya digital dan lukisan secara luas, dari Asia hingga Afrika dan Amerika Serikat. Monez mencetak beberapa karya seninya dan membuatnya menjadi pakaian dan alat tulis di bawah satu merek yang disebut “Monstero” yang berdiri sejak 2009. Pernah menggelar pameran O’Neill 60 Years of Innovation Tour, Bali-Tokyo-South Africa, Belgia-Prancis-New York-Santa Cruz (2012), 75 Years of Batman, Jakarta, (2014), Tribute to Game oF Thrones, Singapore, (2014), Hey Ho Lets Go, Seminyak-Bali (2018), Dolanan, Uma Seminyak-Bali, (2018).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s