Pustaka Bentara “SITAYANA” Karya Cok Sawitri

Minggu, 1 September 2019, pukul 19.00 WITA

Sebuah gagasan melahirkan sekian gagasan lain. Demikian juga peristiwa seni menginspirasi sejumlah peristiwa seni lainnya.Dalam semesta penciptaan tak ada “ilham” yang terlahir dari ruang kosong, selalu bertaut dengan berbagai kemungkinan dan kejadian; dan ke depan boleh jadi memicu rangkaian karya selanjutnya. Novel Sitayana (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2019) adalah cerminan pergulatan Cok Sawitri seturut sikap kritisnya pada aneka teks yang sempat dibaca dan diselaminya –teks-teks itu tidak hanya berupa tulisan atau tuturan lisan melainkan juga aneka sisi kehidupan yang membawanya lintas bahasa dan bangsa.

Novel Sitayana, sebagaimana diungkapkan Cok Sawitri, gaya penulisannya berbeda dengan novel Janda dari Jirah, Sutasoma, Tantri, Perempuan yang Bercerita juga Karna, Rarung atau Manggali Kalki. Beberapa tajuk itu sudah diterbitkan menjadi buku atau peristiwa seni, dan sebagian masih dalam proses “diheningkan” dahulu menunggu momentum kelahirannya. Dengan kata lain, proses cipta Cok Sawitri sebagai penulis maupun kreator lintas bidang adalah sebuah upaya ‘dekonstruksi’ berkelanjutan, ia bukan hanya mengkritisi berbagai hal dalam ranah sosial kultural, namun juga terus menerus mempertanyakan diri, sebentuk Mulat Sarira.

Bekerja sama dengan Komite Buku Nasional dan Penerbit Gramedia Pustaka Utama, serta didukung Bentara Budaya Bali, keberadaan novel Sitayana akan dirayakan bersama. Bukan hanya peluncuran buku, melainkan juga sebuah upaya bagaimana gagasan demi gagasan yang terangkum di dalamnya beralih kreasi/media ke bentuk seni pertunjukan dan ragam seni visual lainnya. Hal lumrah bagi tradisi seni pertunjukan Bali yakni semua bermula dari ‘sastra’. Tradisi seni pertunjukan Bali apapun bentuk dan jenis genrenya sebenarnya bermuara pada ‘teks’ (dibatasi pada kategori balih-balihan). Dayu Ani dari Bumi Bajra akan mempersembahkan penyikapan kreatifnya atas teks Sitayana yang memang sudah dibaca dan diselaminya selagi masih berupa draft. Peralihan ke seni pertunjukan ini akan menjadi pembuka acara Tamasya Tak Biasa. Begitu pula Dewa Ayu Eka Putri, Gek Han, Ngurah Sudibya, Gus Pang, Jojo Kriting, dkk akan menjadi kebersamaan dari perhelatan ini.

Tampil pula Jero Jemiwi dalam lantunan musikal yang syairnya dikreasi oleh Cok Sawitri dari bagian terpilih novel Sitayana.  Diaransemen oleh Gung Agung feat Unb’rocken (Komang dan Made), tanpa direncanakan menjadi ‘nyanyian Sitayana’ yang ‘khas’ dan unik. Di sisi lain, publik akan meresapi karya Syafiudin Vifick, yang bukan ‘filmaker’ juga bukan sutradara melalui film pendeknya buah kolaborasi dengan D’Lontar Animasi (terdiri dari I Wayan Daryatma Putra: 3D animasi, I Wayan Lovayana: team creative, Putu Widiastika: asisten cameramen, Rio Rizky Maulana Amantjik: team creative). Sejumlah gambar yang ditayangkan menyiratkan upayanya untuk menjaga keutuhan dalam keseluruhan, buah pertemuan dan percakapannya dengan Sitayana, melalui proses editing yang panjang berikut pengambilan gambar di lokasi atau di lapangan sebagai usaha menggali “kekerasan simbolik” yang dalam teks-teks selama ini dirujukkan pada Sita dan Rahwana, melibatkan April Artison, Wayan Martino dkk.

Novel Sitayana sebenarnya novel ke enam dari 10 novel yang prosesnya menuju tuntas ditulis –menunggu momentum diterbitkan cetak. Sebagaimana novel-novel lainnya, Sitayana melalui proses penulisan yang panjang, diselingi penggarapan novel Rarung dan Manggali Kalki. Sebagai draft dieksplorasi lebih jauh ketika Cok Sawitri mendapatkan residensi ke USA dari Komite Buku Nasional seturut kontak kreatif dengan Dewi Noviami.

Kebersamaan ini  juga dimaknai tayang film teater Rahim garapan Adrian Tan, yang berangkat dari cerpen Cok Sawitri bertajuk “Rahim”. Boleh dicatat, keseluruhan peristiwa di Bentara Budaya Bali kali ini adalah sebuah garapan dengan pendekatan inter-teks atau bahkan antar-teks –sebuah Tamasya Tak Biasa.

Cok Sawitri, lahir di Bali, 1 September 1968. Telah menerbitkan puisi, kumpulan cerpen, novel, esai, artikel seni dan kebudayaan. Cerpen-cerpennya telah diterbitkan secara mandiri maupun dalam antologi. Cerpen “Mati Sunyi” terbit dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas (2004), telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Cerpen “Rahim” dalam Mata Yang Indah, dikumpulan cerpen pilihan Kompas (2001). Kumpulan cerpen Baruni Jembatan Sorg terbit 2013. Novelnya yang telah terbit berjudul Janda dari Jirah, Gramedia Pustaka Utama (2007), telah diterjemahkan dengan judul The Widow Of Jirah, Sutasoma (2009), Tantri, Perempuan yang Bercerita (2011). Ketiga novel ini menjadi lim besar Khatulistiwa Award. Sitayana adalah novel terbaru Cok Sawitri.

Karya penulis dalam teater modern dan tradisi antara lain berjudul Puitika ¼ Melamar Tuhan (2000), Puitika Melamar Tuhan (2001), Anjing Perempuanku (2003), Aku Bukan Perempuan Lagi (2004), “Badan Bahagia”, episode pertama Pembelaan Dirah (2004), Monolog Rahim (2009), Percakapan Sunya Nirwana (2010), Bahaya Bukan Racun Tembakau (2011), Black BoX: Eksperimen Seni Pertunjukan di Bentara Budaya Bali (2014), adaptasi END Game (2014-2015), Dagang Obat Berijzah (2015), Ayahku Matahari, Ibuku Bidadari, Arja Siki (2015), dan Deklatari, eksperimentari dan puisi (2015).

Cok Sawitri juga aktif dalam kegiatan kemanusiaan, seperti mendirikan Forum Mitra Kasih Bali, mendirikan Kelompok Tulus Ngayah Bali, menjadi juru bicara Komponen Rakyat Bali 2006-sekarang, dan Ketua Pengurus di LBH Apik-Bali 2011-sekarang. Pada 2018, majalah Tempo memberi Penghargaan Seni Pertunjukan 2018 atas karyanya Sakyamuni Itu Saja Perlu Mati.  

Ida Ayu Arya Satyani lahir di Denpasar, September 1977. Biasa dipanggil Dayu Ani, ia adalah koreografer yang juga mengajar di Departemen Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Ia terlibat dalam Body Tjak The Celebration oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Keith Terry (San Francisco, 1999), The Missing Sun oleh Nelson Chia (Singapura, 2000-2001), Cultural Olympiad bersama Maha Bajra Sandhi (Athena, 2004), dan Recovery Bali (2006) di enam negara Erop. Karya terbarunya adalah koreografi untuk film The Seen and Unseen yang disutradarai Kamila Andini (2016).

Syafiudin Vifick adalah seorang visual storyteller. Dengan menggunakan medium fotografi, dia mengerjakan proyek‐proyek personalnya berupa foto essay dan travel story. Dia tertarik pada isu‐isu kemanusiaan (humanity), social – culture, lingkungan, antropologi dan isu‐isu kontemporer. Sehari‐hari Vifick mengerjakan fotografi komersiil dan juga menjadi kontributor di beberapa media. Karyanya dimuat di beberapa media, seperti Sriwijaya Air Magz, National Geographic Traveller Indonesia, senidiharilibur.com dan berbagai media lainnya. Di Bali, dia membentuk komunitas fotografi ‘Semut ireng’ yang konsen pada fotografi lubang jarum. Kemudian sekarang mendirikan program fotografi #SayaBercerita, yakni sebuah inisatif dan movement untuk bercerita melalui medium fotografi. Program tersebut berupa kelas fotografi, pameran fotografi dan pembuatan buku fotografi. Selain itu, Vifick aktif mengikuti pameran fotografi dan seni rupa, serta mengajar fotografi di berbagai daerah di Indonesia.

Digital Lontar Nusantara didirikan oleh I Wayan Lovayana, S.E.,M.M. sekaligus sebagai CEO.Digital Lontar Nusantara diniatkan menjadi perusahaan yang mengangkat nilai-nilai, sejarah, seni, budaya, cerita dan segala bentuk kearifan lokal serta filosofi warisan leluhur Nusantara agar tetap dilestarikan, dan hidup sebagai jati diri bangsa dengan dukungan dari inovasi dan teknologi terbaru. Selaras itu mereka memiliki visi yakni Smart learning, Smart Branding, dan Smart economy.  Mereka menjadikan teknologi Virtual Reality sebagai media untuk mempromosikan sebuah produk/tempat wisata dengan cara yang baru, melestarikan kearifan lokal dengan cara yang menarik, serta belajar dengan cara yang lebih menyenangkan.

Jero Jemiwi, merupakan Founder Bali Coaching Institute dan Happy Home Clinic. Aktif sebagai International Life Coach,  Clinical Hypnotherapist, Corporate Speaker & Trainer dan Certified NLP & NVC Practitioner. Kini ia menjadi Jero Mangku Istri Pura Alas Arum Batur (terpilih sejak usia 8 tahun dalam upacara Bali Mula bernama: Nyanjan).

Andrian Tan, lahir di Jakarta, 4 Januari 1979. Ia menyelesaikan pendidikan dalam bidang Desain Komunikasi Visual di Fakultas Seni dan Desain Universitas Trisakti. Sedari masa kuliah ia telah menekuni dunia fotografi, komputer grafis dan sinematografi. Ia terlibat dalam sejumlah produksi dengan jurusan Film IKJ. Setelah lulus dari Universitas Trisaksi, ia pernah bekerja di sejumlah stasius televisi, Music Video dan proyek grafis lainnya. Aktif pula sebagai produser, art director, editor, scriptwritter, sinematografer dan sutradara dalam sejumlah produksi. Selain mengerjakan produksi video dan film, ia juga mengkreasi aneka desain publikasi dan fotografi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s