Dialog Budaya Bali Gate #2

Medan Seni Rupa Bali Dalam Interaksi Global Art

Senin, 22 Juli 2019, pukul 18.30 WITA – selesai

Wacana seni rupa global yang sekarang ini sedang dikembangkan meyakini global contemporary art bukan lagi sekadar contemporary art yang lepas dari perkembangan linier yang digariskan sejarah seni rupa. Global contemporary art yang dipengaruhi globalisasi pada awal 1990 merupakan perkembangan baru sesudah perkembangan seni rupa kontemporer yang muncul pada 1980an.

Kebaruan global contemporary art adalah kesamaan global akibat munculnya generasi baru yang bebas dari ketakutan akan terjadinya katastropi akibat perang nuklir di selurh dunia—belum pernah ada sebelumnya. Munculnya revolusi media komunikasi global yang pada mulanya ditandai terbentuknya global youth culture. Munculnya pengaruh globalisasi pada perekonomian yang dalam kenyataan membuat perkembangan dunia tidak lagi didominasi perkembangan dunia Barat.
Pada kondisi itu muncul pendatang baru yang dulunya dikenal melalui sederetan sebutan: dunia non-Barat, dunia ketiga, negara-negara Selatan, atau, developing countries. Kini pendatang baru ini berada pada posisi sejajar pada perayaan kesamaan. Kondisi ini memaksa wacana apa pun tentang perkembangan global memperhitungkan mereka. Muncul kemudian berbagai pertanyaan—siapa mereka, apa pandangan mereka, bagaimana sejarah perkembangan mereka—untuk meyakini kesamaan global akibat globalisasi bukan kesamaaan semu yang kembali dibayangi dominasi perkembangan Barat.

Sejarawan seni rupa terkemuka Hans Belting meyakini, global contemporary art, yang bukan sekadar contemporary art, bertumpu pada wacana post-colonial. Kesimpulan ini berpangkal pada kajiannya membedakan pemahaman world art dengan global art. Pemahaman world art menurut Hans Belting didasarkan kacamata kolonial karena pengertian “dunia” pada world art dibentuk berdasarkan pengkajian museum-museum antropologi, etnologi, dan, arkeologi yang dibangun di zaman kolonial (pemahaman ini tecermin pada pandangan budayawan terkemuka Prancis André Malraux tentang “museum without walls”). Namun museum-museum ini dibedakan dari art museums yang menandai perkembangan seni rupa di dunia Barat. Pemahaman global art menurut Hans Belting tidak bisa lain harus meniadakan pembedaan dunia Barat dan dunia tradisi-tradisi. Posisi keduanya harus disejajarkan. Maka global art dalam wacana ini adalah intercultural global contemporary art.

Ada perbedaan mendasar di antara pemahaman tradisi pada museum space dengan tradisi di real space. Tradisi pada museum space dipisahkan dari perkembangan, bahkan dilihat sebagai kontradiksi perkembangan. Di real space, tradisi sama sekali tidak berhenti pada ruang yang dibentuk di masa lalu. Semua tradisi mengenal perkembangan. Tidak terkecuali ketika mengalami interaksi dengan perubahan-perubahan zaman yang berpangkal pada perkembangan di dunia Barat. Tradisi di real space itu, yang berkembang paralel dengan perubahan zaman tidak pernah menjadi wacana di forum seni rupa dunia dan karena itu tidak diketahui seluk beluknya. Ketika world art diidentikkan dengan modern art, pembahasan tradisi ditenggelamkan ilusi homogeneity seni rupa dunia.

Ketika pemahaman world art berubah pada perkembangan seni rupa kontemporer, pengetahuan tentang tradisi dalam konteks perubahan tetap tidak muncul. Contemporary art discourses seperti discourse of difference, multikulturalisme, atau, wacana post colonial berkaitan dengan kekinian dan tidak membangun wacana sejarah.

Tradisi dalam konteks perubahan itu blank spot pada upaya memahami intercultural global contemporary art karena mestinya tidak tiba-tiba para pendatang baru di forum seni rupa global, bisa “menarikan kesamaan.” Blank spot ini membuat upaya memahami intercultural global contemporary art terperangkap pada pemahaman tradisi-tradisi dalam konteks lama yaitu tradisi-tradisi yang statis, kendati ada kesadaran tentang sulitnya membayangkan kehadiran tradisi-tradisi yang tidak berubah di forum global contemporary art.

Kemungkinan yang terbuka dalam upaya membangun pemahaman intercultural global contemporary art realitas adalah mengkaji tradisi di real space melalui pendekatan fenomenologis. Untuk ini hanya tradisi yang kuat yang bisa menyediakan materi kajian. Bali, (sebagai locus) dan Balinesia (sebagai masyarakat dan tradisinya) memenuhi persyaratan ini. Tradisi Bali bisa mempertahankan intensitasnya ketika menerobos perubahan-perubahan zaman dan memasuki contemporary space. (Jim Supangkat).

Tentang Bali Gate

Program Kolaboratif  Gurat Institute

Bali Gate (gerbang Bali) sebuah ruang berbagi berbagai pemikiran yang melibatkan pegiat dari lintas disiplin. Program ini diinisiasi oleh Gurat Institute (GI) khususnya divisi Litbang yang bergerak dalam bidang kajian, dokumentasi dan publikasi. GI mengupayakan sebuah ruang untuk mendialogkan berbagai topik  terkait dengan pembahasan seni dan budaya dari perspektif yang multidisiplin. Seiring dengan semangat pengembangan dan kesadaran akan pentingnya kerjasama atau kolaborasi, mendorong kami untuk proaktif menjalin kerjasama antar lembaga demi kemajuan bersama. Alhasil tercetuslah program Bali Gate, kerja sama dengan Bentara Budaya Bali yang direncanakan dapat menjadi program reguler dan berkesinambungan.

Jim Abiyasa Supangkat Silaen lahir pada 2 Mei 1948 di Makassar, Sulawesi Selatan. Jim mendapat pendidikan seni antara lain di Sanggar Seniman Bandung (1964-1966); Fakultas Arsitektur, Universitas Parahiyangan, Bandung (1969-1971); Jurusan Seni Patung, Fakultas Seni Rupa, ITB (1970-1975); mahasiswa pendengar di Jurusan Filsafat, UGM (1974-1975); dan pasca-sarjana di Psychopolis Art-Academie Den Haag, Belanda (1978-1979).

Awalnya Jim adalah seorang wartawan dan seniman. Karya yang dihasilkannya berupa patung dan lukisan. Selama periode 1970-1989, karyanya telah mengikuti berbagai pameran. Di tahun 1975, Jim adalah salah satu penggagas dari Gerakan Seni Rupa Baru. Gerakan tersebut berusaha untuk mengubah batasan dalam seni rupa, yang dianggap terlalu sempit dan kaku dalam ‘seni rupa lama’. Pada tahun 1990, Jim memutuskan untuk menjadi kurator independen setelah pada tahun sebelumnya berpartisipasi dalam ARX (Artists Regional Exchange), sebuah forum seni rupa kontemporer di Perth, Australia. Melalui forum tersebut, Jim menyadari perlunya kurator profesional di Indonesia, karena saat itu masih belum ada. Menurutnya, pada masa itu seorang kurator dan kritikus sebaiknya tidak juga merangkap sebagai seniman agar tetap obyektif dan profesional. Untuk itu, Jim meninggalkan profesinya sebagai wartawan dan seniman, agar lebih fokus dalam menjadi kritikus dan kurator.

Pada tahun 1992, Jim untuk pertama kalinya menjadi kurator dalam event seni berskala internasional dalam “Asia-Pacific Triennial” di Queensland Art Gallery, Australia. Beberapa event seni yang dikuratorinya di luar negeri antara lain: the Havana Biennale, Kuba; the international Cheju Biennale, Korea Selatan; Sao Paolo Biennale, Brasil; Tradition/Tensions: Contemporary Asian Art, New York, USA; the Singapore Biennial; dan the Asian Art Triennial di the Fukuoka Asian Art Museum, Jepang. Beberapa event seni di dalam negeri yang dikuratorinya antara lain: “Seni Kontemporer Non-Blok Negara” (1995); CP Biennale (2003); dan CP Biennale II (2005). Hingga tahun 2016, Jim masih aktif menjadi kurator dan kritikus. (Profil ini ditulis tahun 2016, sumber IVAA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s