Timbang Pandang “Dialog Budaya Bali Gate #1”

Minggu, 16 Juni 2019, pukul 16.00 WITA

Bali sebagai pintu gerbang  menuju wilayah Indonesia Timur bukanlah hal yang baru, membaca jalur perdagangan rempah yang dimulai sebelum jalur sutra maka kita akan segera melihat peta sebaran jalur kuno tersebut yang dalam beberapa catatan sengaja disembunyikan oleh pedagang Tiongkok. Jalur tersebut melewati Sumatra, Jawa, Bali, hingga kemudian sampai di Maluku. Kita sepertinya perlu mengusut lebih jauh prasasti Blanjong di wilayah Sanur. Isinya menyatakan kemenangan raja adipati Sri Kesari memerangi para perompak dari Swal dan Gurun.

Pertama adalah perihal penyebutan gelar “Raja Adipati” yang dalam konteks struktur kerajaan merujuk kepada “patih” yang menguasai suatu wilayah, jadi mungkinkah Sri Kesari yang dihubungkan dengan Warmadewa merupakan penguasa di suatu wilayah bawahan? Kemudian mengapa memerangi perompak dari Swal dan Gurun? Para arkeolog meyakini Swal adalah pulau Nusa, sedangkan Gurun? Mungkinkah dari wilayah Indonesia Timur? Hal ini tentu saja menjadi menarik ketika membaca Bali sebagai sebuah wilayah yang berfungsi sebagai pintu gerbang. 

Catatan Tiongkok tentang jalur rempah ternyata lebih dulu dibandingkan jalur sutra yang sohor itu. Jalur yang terentang dari Cina, Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, kemudian berakhir di Maluku. Jalur rempah dalam konteks ini Pulau Bali berperan sebagai tempat bongkat muat ketika akan atau setelah mendapatkan rempah di kepulauan Maluku. Jika benar maka Bali ditahun 800an Masehi sudah tentu menjadi tempat peristirahatan para pelayar pemburu rempah tersebut, karena dalam kenyataannya Bali dengan topografi wilayah kecil tidak menghasilkan hasil bumi yang istimewa sebagaimana rempah di Maluku, lebih terdepankan  laiknya pintu masuk ke wilayah Timur Nusantara.

Di era Majapahit, jika merujuk kepada catatan babad yang masih awet hingga kini bahwa kekuasaan Dalem di Bali sampai ke wilayah Banyuwangi, Lombok, Sumbawa. Hal ini tentu saja mengindikasikan bahwa Bali menguasai wilayah sekitarnya sekaligus menegaskan sebagai titik pusat terpenting dalam peradaban di masa Majapahit sampai masa setelahnya.

Paska masa kolonial dalam pergolakan nasional, digagas kemudian Negara Indonesia Timur yang merupakan negara bagian  menjangkau wilayah Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dan Kepulauan Maluku, sebagai ibu kotanya adalah Makassar. Negara ini dibentuk setelah dilaksanakan Konferensi Malino pada tanggal 16 sampai 22 Juli 1946 dan Konferensi Denpasar dari tanggal 7 sampai 24 Desember 1946 yang bertujuan untuk membahas gagasan berdirinya negara bagian tersendiri di wilayah Indonesia bagian timur yang digagas oleh Belanda.hingga  pada akhir Konferensi Denpasar 24 Desember 1946, negara baru ini dinamakan Negara Timur Raya, tetapi kemudian diganti menjadi Negara Indonesia Timur pada tanggal 27 Desember 1946.

Jika ditinjau dari sumber kesejarahan, Negara Indonesia Timur meliputi Keresidenan yang tertulis dalam Staatsblad 1938 nomor 68 jo Staatsblad nomor 264. Sebagaimana Keresidenan Sulawesi Selatan, Keresidenan Sulawesi Utara, Keresidenan Bali, Keresidenan Lombok, Keresidenan Maluku.

Sebagaimana pemaparan tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa Bali memiliki peran sentral sebagai sebuah pintu gerbang untuk meneropong wilayah Timur Indonesia sekaligus melihat ke wilayah Barat Indonesia. Bali dari masa lampau hingga kini tetap memili peran penting, oleh sebabnya membangkitkan kembali wacana keterbukaan Bali sebagai sebuah pintu masuk peradaban sangatlah menarik, karena ia memiliki catatan sejarah tentang centre point yang di lalui jalur rempah, juga pusat di masa kerajaan, hingga masa kolonial dan kemerdekaan. Pintu masuk untuk meninjau kembali masa kerajaan, hingga masa kolonial dan kemerdekaan. Pintu masuk untuk meninjau kembali peradaban masa lampau untuk pijakan di masa kini menuju masa depan.

Tampil sebagai narasumber dialog yakni antropolog I Ngurah Suryawan, sosiolog Basri Amin, serta kurator I Wayan Seriyoga Parta.

Bali Gate (Gerbang Bali)

Program Kolaboratif  Gurat Institute

Bali Gate (gerbang Bali) sebuah ruang berbagi berbagai pemikiran yang melibatkan pegiat dari lintas disiplin. Program ini diinisiasi oleh Gurat Institute (GI) khususnya divisi Litbang yang selama ini bergerak membuat kajian, dokumentasi dan publikasi, mengupayakan sebuah ruang untuk mendialogkan berbagai topik  terkait dengan pembahasan seni dan budaya dari perspektif yang multidisiplin. Seiring dengan semangat pengembangan dan kesadaran akan pentingnya kerjasama atau kolaborasi, mendorong kami untuk proaktif menjalin kerjasama antar lembaga demi kemajuan bersama.  Alhasil tercetuslah program Bali Gate memulai kerjasama dengan Bentara Budaya Bali, yang direncanakan dapat menjadi program reguler dan berkesinambunagn.masa lampau untuk pijakan di masa kini menuju masa depan.

Profil Narasumber :

I Ngurah Suryawan, dilahirkan di Denpasar Bali 25 Februari 1979. Pendidikan formal ditempuhnya di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali (2006). Pendidikan Magister diselesaikannya di Program Magister Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana (2009). Pendidikan Doktor diselesaikan di Program Ilmu-ilmu Humaniora (Antropologi) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (2015).

Program penelitian pascadoktoral dimulainya dari tahun 2016-2017 tentang ekologi budaya orang Marori dan Kanum di Merauke, Papua dalam skema ELDP (Endangered Languages Documentation Programme) dan Australian National University (ANU). Menjadi peneliti tamu di KITLV (Koninklijk Instituut voor taal-, Land- en Volkenkunde), Universiteit Leiden 2017 – 2018 untuk menulis penelitiannya tentang terbentuknya elit kelas menengah di pedalaman Papua. Kini ia sedang melakukan penelitian pada masyarakat pegunungan Bali, khususnya Batur. Buku terkininya Mencari Bali yang Berubah ( 2018).  

Wayan Seriyoga Parta, M.Sn. Lahir di Tabanan Bali 1980, mengawali karir seni rupa dari mengelola program di Komunitas Klinik Seni Taxu dan menjadi redaksi Buletin Komunitas Seni Rupa Kitsch (2004-2005). Sejak tahun 2006 menjadi staf pengajar seni rupa di Universitas Negeri Gorontalo. Ia merupakan Founder Gurat Institute. Founder & Kurator Arc of Bali Art Award, juga menginisiasi Celebes Art Link Makassar, Makassar Inisiatif Art Movement.

Inisiator & Konseptor Berawa Beach Arts Festival, serta terlibat dalam penelitian hubungan kebudayaan Kei – Bali tahun 2015 – 2018. Aktif menjadi kurator pameran sekala lokal dan Nasional sejak tahun 2003 hingga kini. Aktif dalam mendorong perkembangan seni budaya di kawasan Indonesia Timur. Esai-esainya khususnya dibidang seni rupa, telah dimuat dimedia cetak dan katalog pameran. Tulisan ilmiahnya telah diterbitkan dalam berbagai jurnal nasional serta dalam bentuk buku.†

Basri Amin, pengajar Wawasan Budaya di Universitas Negeri Gorontalo. Peminat studi-studi kota pulau, sejarah sosial orang muda dan kajian literasi. Pernah belajar komunikasi antar budaya di Universitas Sam Ratulangi, Manado; belajar sosiologi budaya di University of Hawaii at Manoa (UHM), USA dan antropologi sosial di University Leiden, Nederland.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s