Sinema Bentara #KhususMisbar “BANGKU SEKOLAH DAN CITA-CITA”

Kamis – Jumat, 23 – 24 Mei 2019, pukul 18.00 WITA

Tidak sedikit sutradara mumpuni dunia yang menguji kepiawaiannya dengan menggarap film tentang anak, dunia pendidikan atau bangku sekolah, bahkan terbukti meraih penghargaan internasional. Giuseppe Tornatore lewat film Baaria (2009) dan Cinema Paradiso (1988), Peter Weir dengan Dead Poets Society (1986), Roberto Benigni dalam Life is Beautiful (1997), atau Richard LaGravenese melalui Freedom Writers (2007) hingga Laurent Cantet dengan film The Class/Entre les murs (2008). Demikian pula sutradara Indonesia, semisal Garin Nugroho dengan Surat Untuk Bidadari (1994) dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Riri Riza dengan Laskar Pelangi (2008) dan Sokola Rimba (2013), dll.

Sinema Bentara bulan ini menghadirkan film-film fiksi pendek dan panjang, juga dokumenter pendek yang mengetengahkan tema seputar pendidikan, sekolah, dan cita-cita. Program ini memaknai Hari Pendidikan Nasional yang jatuh tanggal 2 Mei.

Film-film terpilih yang ditayangkan kali ini menggambarkan perjuangan dan kegigihan para tokohnya dalam mengejar mimpi serta meraih cita-cita mereka di tengah berbagai keterbatasan atau sistem yang tidak berpihak.

Dimulai dari Arso,—perbatasan Indonesia dan Papua New Guinea—setitik asa yang digantungkan anak-anak Cendrawasih berhadapan dengan sistem pendidikan yang terbatas akan fasilitas infrastruktur dan sumber daya manusia. Situasi ini tecermin dari film berjudul Harapan Anak Cendrawasih karya sutradara asal Papua, FX Making (2012, Durasi: 7 menit).

Begitupula usaha siswa-siswi asal Bontang, Kalimantan Timur yang menghabiskan waktu ribuan jam untuk berlatih Marching Band demi penampilan 12 menit di Grand Prix Marching Band, Jakarta. Semuanya menuju satu impian yang akan mereka kenang selamanya, terangkum dalam film berjudul 12 Menit buah cipta sutradara Hanny R. Saputra (2014, Durasi:108 menit).

Akan diputar pula film pendek karya siswa SMK Tunas Harapan Pati, yang menceritakan bagaimana keteguhan siswa Olimpiade Sain Terapan Nasional Bidang Fisika yang baru diketahui oleh gurunya bahwa ia menderita miopia degenerativa, dua minggu sebelum lomba, tak bisa melihat dengan sempurna.Segala daya upaya dan kepasrahan membimbing mereka pada solusi atas permasalahan. Film pendek berdurasi 10 menit ini berjudul KUN (2016, Sutradara: Calista Bunga Anindya Kirana).

Selain itu, secara khusus akan ditayangkan pula film cerita panjang pemenang Piala Citra Festival Film Indonesia 1974 sebagai Film Terbaik yakni Si Mamad (Indonesia, 1973, Durasi: 110 menit, Sutradara: Sjuman Djaja) memperlihatkan bagaimana nilai-nilai pendidikan akan kejujuran penting di lingkungan sekolah juga masyarakat.

Akan ditayangkan pula film asal Prancis berjudul Jappeloup (2013, Durasi: 135 menit,  Sutradara: Christian Duguay) yang bercerita tentang bagaimana sosok Pierre Durand, Jr., pengacara, meninggalkan karirnya demi mengejar mimpinya menjadi atlet berkuda. Ia pun berlatih dan berusaha, hingga berhasil memenangkan Olimpiade musim panas tahun 1988.

Film tersebut meraih nominasi pada César Awards, France 2014 kategori Aktris Terbaik, nominasi Jutra Awards 2014 kategori Penata Suara Terbaik, nominasi Lumiere Awards, France 2014 kategori Aktor Terbaik, nominasi Montréal World Film Festival 2013 kategori Sutradara Terbaik.

Selain itu, ditayangkan pula film terpilih dari Jerman berjudul Goethe! (Jerman, 2010, Durasi: Sutradara: Philipp Stölzl) .

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama di ruang terbuka yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung oleh Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT, EAST Cinema, Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Goethe Institut Indonesien Jakarta, SMK Tunas Harapan Pati dan Udayana Science Club. Selain itu, akan diselenggarakan pula Diskusi Sinema bersama narasumber Agung Kesuma Yudha..

SINOPSIS FILM

Harapan Anak Cendrawasih (Indonesia, 2012, Durasi: 7 menit, Sutradara: FX Making)

Didukung oleh EAST CINEMA dalam program East Indonesian #1

Di Arso—perbatasan Indonesia dan Papua New Guinea—setitik asa yang digantungkan anak-anak Cendrawasih ini berhadapan dengan sistem pendidikan yang carut marut. Guru jarang datang, anak-anak terbengkalai. Kadang guru datang siang, tetapi lantas menyuruh murid pulang.

Untuk mengisi waktu, anak-anak bekerja di perusahaan kelapa sawit untuk  mendapatkan upah. Namun, para murid tetap memiliki cita-cita tinggi yang menanti untuk diwujudkan.

KUN (Indonesia, 2016, Durasi :10 menit, Sutradara: Calista Bunga Anindya Kirana, Produksi SMK Tunas Harapan Pati)

Didukung oleh SMK Tunas Harapan Pati

Film yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata, menceritakan tentang siswa Olimpiade Sain Terapan Nasional Bidang Fisika yang baru diketahui oleh pembimbingnya bahwa memiliki masalah penglihatan pada 2 minggu sebelum pelaksanaan lomba. Dokter menyatakan bahwa Kunardi menderita miopia degenerativa dan Kunardi tidak bisa dipakaikan kacamata.  Penyeselan, kekecewaan, kesedihan semua bercampur aduk menjadi satu. Pak Nuri ingat tentang konsep Mestakung dalam fisika.  Ketika kondisi kritis ada jalan keluar (1).  Ketika seorang melangkah akan  melihat jalan keluar (2). Ketika seorang Tekun melangkah ia akan mengalami Mestakung (Semesta Mendukung). Semesta adalah segala yang hidup di muka bumi ini, semuanya bertawasul dan berdzikir : “Jadilah”, maka jadilah ia [40:68].

Si Mamad (Indonesia, 1973, Durasi : 110 menit , Sutradara: Sjuman Djaja)

Didukung oleh Sinematek Indonesia

Mamad (Mang Udel) terpaksa melanggar kejujuran dirinya dengan berkorupsi kecil-kecilan, seperti mencuri kertas kantor untuk menghadapi kelahiran bayinya yang ketujuh. Perbuatan ini ternyata malah menyiksa dirinya apalagi ketika ia hendak menjelaskan duduk perkaranya kepada atasannya (Aedy Moward), yang bersikap realistis namun sebenarnya mengerti keadaannya. Mamad yang selalu diganggu perasaan bersalah belum bisa lega hatinya sebelum bisa menjelaskan masalahnya, sementara kesempatan untuk itu selalu lepas, bahkan puncaknya dirasakan sangat mengganggu oleh atasannya. Puncaknya ia dipecat dan kesedihannya yang mendalam membawanya ke liang kubur.

Film ini didasarkan pada cerita pendek karangan penulis Rusia, Anton Chekhov, yang berjudul Matinya Seorang Pegawai Negeri, sebuah kisah tentang Ivan Dmitritch Tchervyakov. Film ini memenangkan Piala Citra pada Festival Film Indonesia tahun 1974 antara lain sebagai Film Terbaik (dengan pujian) dan Pemeran Utama Pria (dengan pujian).

12 Menit (Indonesia, 2014, Durasi:108 menit, Sutradara: Hanny R. Saputra)

Didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI

Rene, pelatih Marching Band dari Jakarta, memutuskan pindah ke Bontang – Kalimantan Timur demi melatih di sana. Ia pikir, tugas dan bebannya sebagai pelatih akan sama seperti biasanya. Ternyata, Rene salah. Ia berhadapan dengan 130 anggota, 130 keraguan. Rene ingin mengajarkan mereka terbang padahal mereka merasa tak punya sayap. Semuanya merelakan ribuan jam berlatih demi penampilan 12 menit di Grand Prix Marching Band, Jakarta. Semuanya menuju satu impian yang akan mereka kenang selamanya.

Film ini diadaptasi dari novel 12 Menit karangan Oka Aurora.

Jappeloup (Prancis, 2013, Durasi: 135 menit, Sutradara: Christian Duguay)

Didukung oleh Alliance Française Bali dan Institut Français d’Indonésie

Pierre Durand, Jr., pengacara, meninggalkan karirnya demi mengejar mimpinya menjadi atlet berkuda . Ia pun membeli kuda, Jappeloup de Luze, dan berhasil memenangkan Olimpiade musim panas tahun 1988.

Film ini meraih nominasi pada César Awards, France 2014 kategori Aktris Terbaik, Jutra Awards 2014 kategori Penata Suara Terbaik, Lumiere Awards, France 2014 kategori Aktor Terbaik, Montréal World Film Festival 2013 kategori Sutradara Terbaik.

Goethe! (Jerman, 2010, Durasi: Sutradara: Philipp Stölzl)

Didukung oleh Goethe Institut Indonesien Jakarta

Film ini terinspirasi dari syair karya Johann Wolfgang von Goethe pada tahun 1772,  menceritakan mengenai Goethe yang bercita-cita menjadi seorang penyair namun gagal dalam ujian hukum, kemudian ia dikirim oleh ayahnya ke sebuah pengadilan provinsi untuk memperbaiki keadaannya. Goethe kemudian bertemu dengan Lotte yang mampu mengubah kehidupannya. Kisah cinta yang dramatis dan tak terpenuhi antara penyair dan Lotte adalah dasar untuk karya besarnya “The Sorrows of Young Werther”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s