Bali Tempo Doeloe #22 NYAMA SELAM, SISI HARMONI BALI

Minggu, 5 Mei 2019, pukul 19.00 WITA 

Nyama Selam (Nyama: saudara, Selam: Islam) adalah sebutan bagi masyarakat Muslim yang tinggal di Bali. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut umat Muslim yang telah menjadikan kebudayaan Bali sebagai bagian kehidupannya. Keberadaan Nyama Selam sering dianggap sebagai salah satu wujud harmoni dan toleransi antar umat beragama di Bali.

Penduduk Bali beragama Islam telah ada sejak zaman dulu, di masa kerajaan-kerajaan Hindu yang jaya di Bali. Namun hal itu bukanlah strategi penyebaran Islam di Bali yang dicanangkan pada Wali,tetapi justru raja-raja di Bali yang mendatangkan umat Islam dari Jawa untuk berbagai keperluan. Beberapa catatan menyebutkan jika Nyama Selam mulanya berasal dari orang Jawa, Bugis (Sulawesi Selatan), Sasak (Lombok), ataupun Melayu yang datang ke Bali karena alasan dagang maupun politik. Setibanya di Bali mereka berbaur dengan masyarakat lokal. Sejarah pun menyebut jika komunitas ini telah menjalin hubungan baik dengan lingkungan Puri, sehingga dianggap sebagai bagian dari kerajaan.

Contoh bentuk akulturasi Nyama Selam di Bali

Hingga kini keberadaan Nyama Selam dapat ditemukan di beberapa lokasi, seperti Kampung Loloan (Jembrana), Desa Pegayaman (Buleleng), Kecicang (Karangasem), Yeh Sumbul, Kampung Nyuling, Kepaon (Denpasar), Kampung Jawa (Denpasar), dan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, komunitas-komunitas ini rupanya memiliki kebiasaan yang mengacu pada unsur percampuran budaya Islam dan Bali.

Akulturasi atau pembauran budaya antara kaum Muslim dengan umat Hindu berlangsung dalam proses sejarah yang panjang. Pembauran yang harmoni ini tecermin pada laku budaya yang mempertemukan kedua belah pihak dalam peristiwa kebudayaan yang penuh persaudaraan, merefleksikan toleransi, tenggang rasa dan penghormatan pada keberagaman. Misalnya, upacara “petik laut”, yakni tradisi nelayan yang ke laut bisa mewarnai pergaulan nelayan Islam maupun nelayan Hindu di Bali Barat. Atau tradisi “Ngejot” yakni membawa makanan ke tentangga sebagai sarana silahturahmi yang dilakukan Nyama Selam dan Nyama Bali (istilah untuk umat Hindu di Bali) di Pegayaman, Buleleng menjelang perayaan hari besar masing-masing. Nyama Selam Pegayaman pun memiliki tradisi unik dalam menyambut Lebaran. Mereka merayakan hari besar tersebut dalam beberapa rangkaian, dimulai dari Penapean, Penyajaan, Penampahan Lebaran, Lebaran, dan Umanis Lebaran. Ada pula Nyama Selam yang turut mengambil peran dalam proses ritual masyarakat lokal Bali. Komunitas Islam Belalungan yang ada di Desa Bungaya (Karangasem) misalnya turut andil dalam pelaksanaan ritual Usaba Dangsil, yang merupakan ritual terbesar yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Bungaya. Bentuk-bentuk akulturasi yang lain tecermin pula pada beberapa arsitektur atau bangunan masjid yang menggunakan ornamentik Bali, atau bentuk kesenian Bordah (Burdah) di Pegayaman Buleleng.

Seni Burdah di Pegayaman, Buleleng

Bali Tempo Doeloe #22 akan memperbincangkan proses akulturasi tersebut dan keberadaan Nyama Selam di Bali, sekaligus juga mengkritisi kenyataan era kontemporer kini, di mana kemajuan teknologi berikut kehadiran gawai dengan beragam media sosialnya, tak jarang menimbulkan “ketegangan sosial” atau kesalahpahaman sebagai akibat hoaks atau berita palsu, serta limbah sosial berupa hujatan, kecaman, hasutan berbau SARA dan perilaku negatif lainnya. Di satu sisi, kehadiran gawai dan kemajuan teknologi IT mengukuhkan kesamaan hak dalam memperoleh informasi serta mendorong  tumbuhnya semangat egaliter dan demokratisasi di segala lini.

Sebagai narasumber yakni Ketut Syahruwardi Abbas (Penyair, Nyama Selam dari Pegayaman, Buleleng) dan Dr. I Ketut Sumadi, M.Par (Akademisi IHDN Denpasar, Pemerhati Budaya). Acara akan dimaknai pula pemutaran video tentang akulturasi dan Nyama Selam di Bali.

Bali Tempo Doeloe adalah sebuah agenda yang memutar seri-seri dokumenter tentang Bali Tempo Doeloe, dipadukan dengan diskusi bersama para pengamat dan pemerhati budaya, dalam memaknai perubahan kondisi Bali dari masa ke masa. Dialog berkala dan berkelanjutan yang telah digelar sedari tahun 2013 ini tidak hanya mengetengahkan sisi eksotika dari Bali masa silam, melainkan juga menyoroti problematik yang menyertai pulau ini selama aneka kurun waktu, termasuk kemungkinan refleksinya bagi masa depan.

Beberapa tematik yang pernah dihadirkan dalam program ini antara lain: “Denpasar Dalam Tantangan Zaman”, “The Gods Of Bali: Antara Ritual Sakral Dan Pertunjukan Profan”, “Gema Gamelan Bali ke Masa Depan”, “Citra Dalam Sinema”, “Rudolf Bonnet dan Arie Smit: Cerita Seni Rupa Bali”, “Mistik dan Turistik Bersisian di Nusa Penida”, “Bioantropologi: Tenganan Pegringsingan Dalam Dua Perspektif”, “Jejak DAS Pakerisan Dalam Arkeologi dan Seni”, dan lain-lain.

Unduh Materi Diskusi di sini :

Belajar Kerukunan di Bali: Semangat Teruna Goak

Nyama Selam, Sisi Harmoni Bali

Ketut Syahruwardi Abbas lahir di Pegayaman, Buleleng, tahun 1959. Ia menulis sajak, cerpen, esai, makalah agama dan budaya, dan lakon drama. Tulisannya dimuat tersebar di berbagai media antar lain: Bali Post, Harian Nusa Tenggara, Koran Tokoh, Harian Republika, dan Kompas.

Buku kumpulan puisi tunggalnya “Antara Kita” terbit tahun 2018. Sajak-sajaknya terhimpun dalam berbagai antologi: Serumpun (bersama penyair-penyair Brunei, Malaysia, Indonesia, dan Singapura) terbitan Yayasan Panggung Melayu (2015), Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 “Matahari Cinta Samudera Kata” terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia dan Yayasan Sagang (2016), Antologi Puisi “Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta” diterbitkan Yayasan Museum Nyoman Gunarsa (2016) dll. Artikelnya dimuat dalam buku “Bali di Persimpangan Jalan” Editor: Usadi Wiryatnaya dan Jean Couteau (Nusa Data Indo Budaya, 1995). Salah satu naskah monolognya dimuat dalam buku Kumpulan Naskah Monolog KDRT, WPI Bali 2008. Pernah menjadi wartawan di Karya Bhakti, Bali Post Minggu, Harian Nusa Tenggara dan Majalah Berita EDITOR. Kini ia duduk sebagai Penasehat di Jatijagat Kampung Puisi, Denpasar.

Dr. Ketut Sumadi, M.Par, sedini remaja senang menulis puisi, cerpen, esai sastra di Mingguan “Bali Post”. Aktif menerbitkan berbagai jurnal dan buku melalui penerbitan Sari Kahyangan Indonesia. Ia merupakan Ketua Redaksi Pangkaja, Jurnal Ilmiah Pascasarjana IHDN Denpasar, Ketua Redaksi Vidya Duta, jurnal Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar, dan Ketua Redaksi Hitangkarah, jurnal terbitan Yayasan Sari Kahyangan bekerjasama dengan Komunitas Pengkajian Agama, Budaya, dan Pariwisata.

Sejak tahun 1980 dan sampai kini tetap menjadi wartawan, kontributor Bali Travel Newspaper. Tahun 2003 ia menyelesaikan pendidikan Magister (S2) Bidang Kajian Pariwisata Budaya di Universitas Udayana Denpasar. Tahun 2010 meraih gelar doktor dalam Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana. Ia sekaligus terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana Periode 2004 – 2008. Beberapa bukunya yang sudah terbit, “Menimba Mata Air Keabadian Pahlawan Bangsa”, “Tuhan Di Sarang Narkoba, Weda Di Ruang Tamu”, “Bali Island Of God”, “Desa Adat Kuta dan Pariwisata Budaya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s