Dialog New Music For Gamelan CERITA DAN KARYA MAESTRO I WAYAN BERATHA

Minggu, 28 April 2019, pukul 19.00 WITA

I Wayan Beratha merupakan komposer kelahiran tahun 1926, berasal dari Banjar Belaluan Denpasar. Sang kakek,  I Ketut Keneng (1841-1926) adalah seorang seniman karawitan dan pagambuhan yang sohor pada zamannya. Sejak kecil Beratha bersentuhan dengan gamelan Bali, bakatnya terasah melalui binaan sang ayah,  I Made Regong. Selain berguru pada ayahnya, Beratha juga menimba ilmu dari sejumlah tokoh seni, di antaranya Ida Bagus Boda dari Kaliungu tentang karawitan dan tari palegongan, mendalami tari klasik dan Gong Kebyar dari I Nyoman Kaler, serta mempelajari tari jauk dari I Made Grebeg.

Di tahun 1957 di Banjar Belaluan, Beratha mendirikan Sekaa Gong Sad Merta. Ia juga  mengajar tari dan tabuh di sejumlah sekaa gong di Bali, di antaranya; di Kerambitan Tabanan, Banjar Delodpeken, Singaraja, Banjar Pikat Klungkung, dan lain-lain. Beratha melahirkan sejumlah karya monumental, antara lain koreografi tari Yudha Pati, Tari Kupu-Kupu, dan Tari Tani. Beratha jugadikenal sebagai kreator gending Semar Pegulingan di Abiankapas Kaja Denpasar, dan juga pencipta gamelan Semara Dana, yang menggabungkan Gamelan Semarpegulingan dengan Gamelan Gong Kebyar. Ia sudah menciptakan sekitar 20 karya tari, gending, dan sendratari, antara lain Sendratari “ Jayaprana” , Tabuh “Gesuri” , Sendratari “ Ramayana”, Sendratari “ Maya Denawa” , Instrumentalia “Palgunawarsa”, yang mendapat penghargaan tertinggi dalam festival gong kebyar seluruh Bali, Tari “Panyembrana” dan lainnya.

Sepanjang tahun 1956 hingga 1999, Beratha dan tim keseniannya berulang ke luar negeri, mungkin 100 kali, mengunjungi lebih dari 35 negara, antara lain Paris, Perancis, di Istana Ratu Yuliana, Iran, India, Australia, Jerman Barat, Italia, dan Jepang, dll. Selain ke Tiongkok selama tiga bulan, kunjungan pentas ke Amerika berlangsung enam bulan yakni ketika mengisi acara di New York World’s Fairs. Murid-murid karawitan binaan Beratha banyak yang menjadi pengajar gamelan sohor di luar negeri, salah satunya Ketut Gede Asnawa di Amerika.

Beratha juga turut berperan atas lahirnya sekolah seni tradisi modern seperti Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) yang dulunya disebut KOKAR (konservatori karawitan), ASTI, hingga ISI. Atas pengabdiannya dalam bidang kesenian, khususnya gamelan Bali, Beratha mendapatkan gelar kehormatan Empu Seni Karawitan pertama dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar(2012), serta sejumlah penghargaan lain: Anugerah Seni Nasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1972), Piagam Kerti Budaya (1979), Dharma Kusuma dari Gubernur Bali (1981), dan  Penghargaan Ciwa Nataraja dari ISI Denpasar (1992).

Dialog New Music For Gamelan di Bentara Budaya Bali kali ini akan membincangkan perihal kreasi dan komposisi gamelan buah cipta I Wayan Beratha, berikut upaya pencarian dan capaian estetik komposer yang disebut sebagai pembaharu gemelan kebyar ini. Meski tidak mendapat pendidikan Barat, namun Beratha mampu melahirkan komposisi-komposisi musik yang bersifat lintas kultur, memadukan antara unsur-unsur musik Bali dengan berbagai unsur musik dari gamelan Jawa hingga musik Barat. Selain itu, akan diulas pula perjalanan hidup dan kesejarahan I Wayan Beratha serta sumbangsihnya bagi perkembangan kesenian dan kebudayaan, khususnya transformasi dalam gamelan Bali selaras perubahan sosial kultural yang terjadi pada masyarakat Bali sendiri. Tampil sebagai narasumber yakni komposer I Wayan Gde Yudane dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt (editor buku “I Wayan Beratha, Seniman Bali Kelas Dunia”.

Dialog kali ini juga diniatkan dalam rangka menyongsong program Komponis Kini “A Tribute to I Wayan Beratha” yang direncanakan diselenggarakan pada tahun 2019 secara berseri setiap bulannya.

Komponis Kini merupakan sebuah program yang dimulai pada tahun 2016 dengan tajuk utama “A Tribute to Lotring”,  digagas untuk menciptakan atmosfer berkesenian bagi seniman-seniman gamelan di Bali dan di tanah air, dengan mengedepankan upaya-upaya penciptaan baru (new gamelan) yang berangkat dari kekayaan warisan seni-seni gamelan tradisi. Ini sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya. Selain menampilkan pertunjukan musik, acara juga akan diperkaya dengan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan; sebentuk pertanggungjawaban penciptaan. Sebagai kurator adalah I Wayan Gde Yudane, Wayan Sudirana dan Dewa Alit.

Profil Narasumber :

I Wayan Gde Yudane, lahir di Kaliungu, Denpasar, menghasilkan karya musik konser, teater, instalasi maupun film. Meraih penghargaan Melbourne Age Criticism sebagaiCreative Excellent pada Festival Adelaide, Australia (2000) berkolaborasi dengan Paul Gabrowsky; Penghargaan Helpman sebagai Musik Orisinal Terbaik, Adikara Nugraha dari Gubernur Bali sebagai Kreator Komposisi Musik Baru (1999). Tampil di Festival Jazz Wangarata, Australia (2001), keliling Eropa dengan Teater Temps Fort, Grup France and Cara Bali, juga Festival Munich dan La Batie. Karyanya: musik film ‘Sacred and Secret’ (2010), Laughing Water and Terra-Incognita, dan Arak (2004), serta sebagainya. Bersama Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram, ia terpilih menghadirkan karya komposisi terkininya pada program Festival Europalia di Perancis, Belgia, dan Jerman serta mendapat apresiasi yang cemerlang.

Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., adalah guru besar ilmu sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Sejak tahun 2000, Darma mendapat kepercayaan sebagai juri Hadiah Sastra Rancage. Bukunya terbit di Belanda berjudul A Literary Mirror: Balinese Reflections on Modernity and Identity in the Twentieth Century (KITLV/Brill 2011). Tahun 2017, bersama Diah Sastri, menulis buku Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud. Ia juga menyunting buku Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali (2016). Bersama Henk Schulte Nordholt (Belanda) dan Helen Creese (Australia), menyunting buku Seabad Puputan Badung Perspektif Belanda dan Bali (2006), diterbitkan tepat pada peringatan 100 Tahun perang Puputan Badung. Sebagai penyunting antologi puisi Dendang Denpasar Nyiur Sanur (2013), antologi cerpen Denpasar Denpasar Kota Persimpangan, Sanur Tetap Ramai (2015).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s