Sinema Bentara #KhususMisbar “KISAH SUTRADARA DAN FILM ANTI KORUPSI”

Minggu – Senin, 24 – 25 Maret 2019, pukul 18.00 WITA

Sinema Bentara kali ini terbilang khusus karena memaknai Hari Film Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Maret. Film yang dipilih sebagaian besar tertaut pada memoar atau kisah seseorang yang tumbuh menjadi sutradara, termasuk juga film-film yang merupakan buah cipta dari para pelopor sinema di Indonesia, antara lain Asrul Sani melalui film Pagar Kawat Berduri (1961, 123 menit), dan Teguh Karya lewat Di Balik Kelambu  (1983, 94 menit). Serta tidak ketinggalan Nuovo  Cinema Paradiso (Italia, 1988, 124 menit) yang merupakan refleksi perjalanan hidup sang sutradaranya sendiri, Giuseppe Tornatore.

Sejalan itu, ditayangkan pula film-film yang menyoal anti korupsi, antara lain: Sekeping Tanggung Jawab

(Indonesia, 2018, Durasi: 7 menit 5 detik, Sutradara: Fitto E. Arunfieldo) dan Jimpitan (Indonesia, 2018, Durasi: 12 menit 49 detik, Sutradara: Wiwid Septiyardi), bekerja sama dengan KPK RI. Hal ini mengingat film-film bertema anti korupsi sudah menjadi gagasan dan perhatian para founding father perfilman Indonesia, semisal lewat film Si Mamad  (Sumandjaja, 1973), Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954) –keduanya telah sempat ditayangkan pada program Sinema Bentara terdahulu, juga film Daerah Hilang (Bachtiar Siagian, 1956) dan Tahu Sama Tahu (1953).

Perfilman Indonesia boleh dikata memiliki sejarah yang panjang, dimulai dari berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900, hingga film bisu pertama yang dirilis, Loetoeng Kasaroeng (1926) oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Namun dalam perkembangan berikutnya, hari pertama pengambilan gambar film berjudul Darah dan Doa, pada tanggal 30 Maret 1950 ditetapkan sebagai peringatan Hari Film Nasional dan sang sutradaranya, Usmar Ismail kemudian dikenal sebagai Bapak Perfilman Nasional.

Usmar Ismail, kelahiran Bukittinggi, 20 Maret 1921, dianggap pelopor bangkitnya perfilman nasional. Bersama sejumlah seniman ia mendirikan Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia) pada tahun 1950. Ia sempat meneruskan studi di Universitas California, Los Angeles, melalui beasiswa Rockefeller (1952). Kegemarannya menulis cerpen dan sajak menjadi bekal baginya untuk berkarier sebagai penulis skenario dan sutradara. Usmar, yang pernah berprofesi sebagai wartawan, juga berperan dalam lahirnya teater modern di Indonesia melalui dibentuknya kelompok sandiwara Maya pada tahun 1943. Dari tangannya lahir pula judul-judul film yang hingga kini masih melegenda, antara lain Enam Djam di Djogja (1951), Lewat Djam Malam (1954), Tiga Dara (1956), Asmara Dara (1958), Anak-Anak Revolusi (1964) dan masih banyak lagi.

Tonggak sejarah tersebut diikuti pula sejumlah nama sutradara dan tokoh perfilman mumpuni tanah air lainnya, semisal Asrul Sani, Teguh Karya, Sumandjaja, Ami Prijono, Chaerul Umam, Misbach Yusa Biran, hingga generasi belakangan seperti Garin Nugroho, Riri Riza, Mira Lesmana, Nia Dinata, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, Kamila Andini, Rudi Soedjarwo, Ifa Ifansyah, dan lain-lain.

Pemutaran film kali ini masih diselenggarakan dalam konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton film bersama yang guyub, hangat, dan akrab dengan layar lebar di halaman Bentara Budaya Bali serta dimaknai diskusi sinema bersama narasumber terpilih. Acara ini didukung oleh Pusat Perfilman Sinematek Indonesia, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar dan KPK RI.

SINOPSIS FILM

DI BALIK KELAMBU

(Indonesia, 1983, Durasi: 94 menit, Sutradara: Teguh Karya)

Didukung oleh Pusat Perfilman Sinematek Indonesia

Film ini mengisahkan tentang Hasan (Slamet Rahardjo), anak menantu Abah (Maruli Sitompul). Diceritakan bahwa Abah sangat tidak bahagia dengan Hasan karena dia membandingkannya dengan anak menantunya yang lain, Bakri (August Melasz) yang kaya dan mempunyai pabrik. Keadaan menjadi lebih buruk ketika karena Hasan dan Nurela (Christine Hakim) istrinya masih tinggal di paviliun ibu mertua Hasan. Dari sinilah masalah mereka mulai timbul sepanjang cerita.

Film ini memenangkan Piala Citra di Festival Film Indonesia 1983 untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Teguh Karya), Aktor Terbaik (Slamet Rahardjo) dan Aktris Terbaik (Christine Hakim),    Aktor Pendukung Terbaik (Maruli Sitompul), Aktris Pendukung Terbaik (Tuti Indra Malaon),  Penyuntingan Terbaik (George Kamarullah).

PAGAR KAWAT BERDURI

(Indonesia, 1961, Durasi: 123 menit, Sutradara: Asrul Sani)

Didukung oleh Pusat Perfilman Sinematek Indonesia

Dalam sebuah kamp Belanda pada masa revolusi fisik terdapat sejumlah pejuang yang ditawan. Hampir semua berusaha lari, tetapi tidak mudah. Sementara yang lain mencoba mencari jalan untuk meloloskan diri, Parman (Sukarno M. Noor) justru bersahabat dengan Koenen (B. Ijzerdraat), salah seorang perwira Belanda. Parman mendekati Koenen dengan maksud mencari informasi. Parman mendapat informasi bahwa Herman dan Toto akan dibunuh. Mereka kemudian dibekali catut untuk memotong kawat berduri. Herman lolos, namun Toto tertembak. Kemudian Parman di jemput, sebab dialah yang mendalangi pelarian itu. Tahulah para pejuang, bahwa Parman ternyata bukanlah seorang pengkhianat.

CINEMA PARADISO

(Indonesia, 1988, Durasi: 155 menit, Sutradara: Giuseppe Tornatore)

Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Film ini mengisahkan tentang cerita masa kecil seorang sutradara film, Salvatore yang mendapat kabar dari ibunya bahwa teman di masa kecilnya telah meninggal. Salvatore yang sudah 30 tahun tidak pernah kembali ke Sisilia dan tidak berhubungan dengan keluarga (Ibu dan adik perempuannya) seketika terdiam mendengar kabar kematian Alfredo. Alfredo adalah seorang proyeksionis di bioskop Cinema Paradiso yang mewarnai kehidupan sang sutradara di masa kecilnya.

Film tersebut memenangkan Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards ke-62.

FILM-FILM PILIHAN ACFFEST 2018

SEKEPING TANGGUNG JAWAB

(Indonesia, 2018, Durasi: 7 menit 5 detik, Sutradara: Fitto E. Arunfieldo)

Didukung oleh KPK

Kodrat, pemuda pincang yang bekerja sebagai Caraka, ditugaskan mengantar amplop berisi uang sumbangan untuk anak yatim. Di tengah jalan, sekeping uang koin jatuh dari sobekan amplo lalu menggelinding. Berhasilkah Kodrat mendapatkan sekeping koin tersebut?

JIMPITAN

(Indonesia, 2018, Durasi: 12 menit 49 detik, Sutradara: Wiwid Septiyardi)

Didukung oleh KPK

Poniman (30), seorang petugas ronda yang berusaha untuk mengganti jimpitan (iuran beras) yang dikumpulkannya dari rumah-rumah warga. Pasalnya, tanpa sepengetahuannya, beras tersebut telah dijadikan bubur oleh istrinya Juminten (25) untuk sarapannya dan anakanya, Septu (10) sebelum disetorkan ke Pak RT.

Jadwal Pemutaran Film

Minggu, 24 Maret 2019

16.00 WITA    Pagar Kawat Berduri

18.00 WITA    Pasar Kreatif Misbar

18.30 WITA    Di Balik Kelambu

Senin, 25 Maret 2019

18.00 WITA    Pasar Kreatif Misbar

19.00 WITA    ACFFEST 2018

                        Sekeping Tanggung Jawab

                        Jimpitan

19.30 WITA    Cinema Paradiso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s