Timbang Pandang “CRAFTING THE ARCHIPELAGO”

Minggu, 10 Februari 2019, pukul 18.00 WITA

Selaras pameran Bali Architecture Week 2019: Popo Danes and Friends diselenggarakan pula timbang pandang seputar tematik program kali ini yakni “Crafting The Archipelago”. Kultural (budaya) bersifat luas, mulai dari yang ancient (kuno) hingga kawasan perkotaan (urban). Berkembangnya sebuah kota tidak berarti bahwa pertumbuhan daerah tersebut berkembang dengan baik. Terkadang, karena pertumbuhan kota yang telalu cepat dan tidak terencana dengan baik, dapat menimbulkan dampak bagi kawasan dan sekitarnya.

Melati Danes Space & Style

Sebagaimana terhampar pada pameran retrospektifnya di Bentara Budaya Bali tahun 2011, berikut karya-karya terkininya, bukan berlebihan bila Popo Danes merujukkan buah cipta atau pola perancangannya pada istilah New Regionalism. Hal mana ini sekaligus mencerminkan begitu luwes dan lenturnya masyarakat Bali dalam menerima modernisasi, namun tetap terlihat upaya mempertahankan identitas ke-Bali-annya. Pola-pola perancangan Popo Danes tak hanya merefleksikan proses akulturasi yang terjadi pada masyarakat Bali, namun secara esensial tersiratkan pula tahapan penemuan diri sebagai arsitek mumpuni. Dengan kata lain, seraya terus menerus mengajukan pemertanyaan pada diri dan lingkungannya, Popo Danes terbukti turut memberikan sumbangan pemikiran serta inspirasi dalam upaya menjaga karakter Bali sewaktu menyikapi kekinian.

Karya-karya Popo Danes juga dinilai kuasa menyelaraskan antara capaian estetik dan fungsinya secara keseluruhan. Tidak heran bila ia berupaya untuk menjadikan rancangannya tidak hanya tepat guna, namun juga tepat makna karena merangkum keunikan dan acuan filosofis dari bangunan dimaksud. Terangkum di dalamnya keelokan, kemolekan serta keunikan.

Timbang pandang kali ini juga akan mengkritisi prinsip-prinsip dasar arstitektur tradisional (untuk membedakan dengan arstitektur kontemporer), sudah sejak awal mengacu kepada bioklimatik. Iklim tropis yang membentang di negara-negara Asia Tenggara pada umumnya terpengaruh oleh curah hujan, kelembaban udara, radiasi matahari, suhu udara, dan kecepatan angin. Benarkah unsur-unsur inilah yang menjadi elemen penting bagi suatu wilayah sehingga disebut beriklim tropis?

Akan diketengahkan pula pembahasan bagaimana perkembangan arsitektur Bali kini berikut tantangan yang dihadapi pada masa-masa mendatang. Termasuk bagaimana menemukan nilai universal tradisi yang bersumber dari upaya hidup selaras dengan karakter Pulau Bali dan meneruskan pemahaman tersebut ke dalam cara kerja bangunan yang dibuat hari ini dengan segala konsekuensinya. Sebagai narasumber yakni Popo Danes dan alumni Popo Danes Architect.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s