Timbang Pandang “BENING EMBUN: PERJALANAN A. A. MADE DJELANTIK”

Jumat, 11 Januari 2019, pukul 14.00 WITA di Auditorium A. A. Made Djelantik, Lt. 4 Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Budayawan yang merupakan putra Raja Karangasem Anglurah Ketut Karangasem dan Makele Selaga ini menempuh pendidikan Hollandsch-Inlandsche School/HIS Denpasar, Bali, kemudian ke Meerleetgebreid Langer Orderwijs/MULO Malang, Jawa Timur dan Algemene Middlebare School/AMS Yogyakarta. Setamat dari AMS tahun 1938, ia nekat berlayar ke Belanda dengan cara menjadi pesuruh seorang meneer Belanda. Ia di wisuda sebagai dokter pada tahun 1946 di Gemente Universitet Amsterdam, Belanda. Ia orang Bali pertama yang menjadi dokter lulusan luar negeri.

A.A. Djelantik juga pernah diasingkan oleh Belanda ke Pulau Buru pada tahun 1948 karena dianggap dekat dengan pahlawan I Gusti Ngurah Rai. Selama pengasingan itu, Bulantrisna Djelantik, yang kelak sohor menjadi penari dan koreografer mumpuni, turut serta. Seluruh pengalaman itu tersurat juga dalam buku ini, yang ditulis oleh sejarawan Dr. Nyoman Wijaya. 

Termasuk juga ketika Djelantik bertugas sebagai ahli malaria WHO di di Somalia dan Afghanistan. Ia mulai lebih tekun menerjuni bidang kebudayaan sewaktu Bulantrisna menjadi penari legong di Peliatan, Ubud, dan intens berdiskusi dengan guru-guru tari terkenal, seperti Biang Sengog, I Kakul, I Maria, dan Wayan Lotring.

Seturut itu ia kemudian diminta mengajar di Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar (sekarang ISI Denpasar) dengan mata kuliah Estetika. Ia juga menulis buku ‘Balinese Painting’, melakukan penelitian dengan mendatangi para pelukis Bali –merumuskan pembabakan dalam seni lukis Bali: wayang, lukisan klasik kamasan, periode Pita Maha, dan modern. Dokter Anak Agung Made Djelantik (88) tutup usia pada hari Rabu, 5 September 2007, di Wings Internasional, RSUP Sanglah, Denpasar.

Program ini terlaksana atas kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan Badan Eksekutif Mahasiswa FK Universitas Udayana dengan Bulantrisna Djelantik, serta didukung juga Bentara Budaya Bali. Menghadirkan narasumber budayawan I Wayan Juniartha, dr. I Nyoman Sutarsa, MPH, FHEA (dokter, akademisi, pengamat sastra), penulis buku Dr. I Nyoman Wijaya, serta dr. Ayu Bulantrisna Djelantik, yang bukan saja membincangkan kisah hidup A. A. Made Djelantik, melainkan juga pandangan kebudayaan serta sikap kritisnya dalam mengelola kesehatan masyarakat Bali secara holistik melalui pendekatan yang lintas bidang

I Wayan Juniartha sehari-sehari dikenal sebagai jurnalis di The Jakarta Post. Sebagai budayawan, gagasan-gagasannya terbilang cemerlang dengan ide-ide segar serta mengkomunikasikannya dengan memikat. Ia juga Ketua Program Indonesia Ubud Writers and Readers Festival (UWRF).

Dr. Nyoman Wijaya adalah dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana. Ia telah menulis sejumlah buku biografi, antara lain Biografi Si Pengembala Itik, John Ketut Panca (Pustaka Pelajar, 2001), Serat Salib dalam Lintas Bali (Yayasan Samaritan, 2003), dan sebagainya. Dirinya juga aktif menyusun makalah, penulisan esai populer serta kajian sejarah.

dr. I Nyoman Sutarsa, MPH, FHEA, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, peraih berbagai penghargaan dalam dan luar negeri. Menyelesaikan program Master of Public Health di La Trobe University Australia (2011-2012) dengan beasiswa Australian Development Scholarship dan mendapatkan penghargaan Golden Key (untuk capaian prestasi akademis) dari Golden Key International Honour Society (2012). Kandidat PhD dalam bidang Health System and Policy di The Australian National University.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s