Timbang Pandang “POTENSI SENI GRAFIS BALI”

Jumat, 2 November 2018, pukul 18.00 WITA

Dalam konteks seni rupa Bali, aktivitas seni grafis tampaknya masih belum begitu mengemuka jika dibandingkan dengan seni visual lainnya, semisal seni lukis dan patung, terlebih bila disandingkan dengan perkembangan seni grafis di daerah lain di Indonesia sebut saja di Yogyakarta ataupun Bandung. Agenda-agenda seni rupa di Bali yang khusus menampilkan karya- karya seni grafis masih terbilang langka sehingga pewacanaan tentang bidang seni ini di Bali boleh dikata jarang terdengar.

Timbang pandang kali ini akan membincangkan perihal potensi seni grafis di Bali bersama Wayan Sujana Suklu (Perupa, Akademisi) dan Made Susanta Dwitanaya (kurator dan pegiat Komunitas Studio Grafis Undiksha). Dibandingkan dengan ekspresi seni rupa lainnya, terlebih seni lukis dan patung, seni grafis boleh dikata tertepis, belum memeroleh apresiasi serta publikasi secara lebih memadai, serta terbatasnya animo kolektor dan peminat karya grafis. Selain itu akan ditelisik pula terkait capaian para pegrafis Indonesia dibandingkan pegrafis-pegrafis asing, sejalan dengan fenomena kreativitas yang mengemuka pada Kompetisi Internasional Triennial Seni Grafis Indonesia selama ini.

Kompetisi Triennial Seni Grafis diselenggarakan oleh Bentara Budaya sejak 2003. Kompetisi ini digagas sebagai upaya menggalakkan seni grafis konvensional di Indonesia. Bentara Budaya berharap kompetisi pameran grafis ini pada waktu mendatang dapat menjadi salah satu parameter perkembangan dan kualitas seni grafis Indonesia.

Pada penyelenggaraannya yang ke V tahun 2015 lalu, Kompetisi Triennial Seni Grafis Bentara Budaya untuk pertama kalinya dibuka untuk skala internasional, diikuti 197 peserta dengan total 354 karya. Para peserta berasal dari Indonesia, Amerika Latin, Argentina, Australia, Belgia, Brazil, Bulgaria, Canada, Cina, Italia, India, Jepang, Jerman, Kroasia, Kolombia, Malaysia, Mesir, Peru, Polandia, Serbia, Spanyol, Swedia, Thailand dan Turki.. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa seni grafis masih diminati oleh pegrafis dalam maupun luar negeri.

Sebagai Pemenang Pertama adalah: Jayanta Naskar (Pemenang I – India) dengan karya bertajuk “Reinvention of Myself” (teknik colour etching dan intaglio), Puritip Suriyapatarapun (Pemenang II – Thailand) dengan karya bertajuk “Our Whole Life Searching” (teknik lithografi), Muhlis Lugis (Pemenang III – Indonesia) dengan karya berjudul “Addiction” (teknik cukil kayu).

Timbang Pandang ini sekaligus juga bagian dari menyongsong penyelenggaraan Triennial Seni Grafis Indonesia VI – 2018 yang digelar Bentara Budaya, Kompetisi ini terbuka bagi para pegrafis dari Indonesia maupun mancanegara, amatir maupun profesional. Karya seni grafis asli dan belum pernah dipamerkan dan/atau mengikuti acara sejenis/serupa, dibuat tahun 2017 – 2018, serta dibuat dengan memenuhi kriteria teknik grafis seperti cetak datar, cetak dalam, cetak tinggi dan cetak saring. Karya tidak akan diterima dengan teknik monoprint, monotype, handcoloring, stensil, digital, collagraph, proof dan artist proof. Batas waktu penerimaan karya adalah 10 Desember 2018. Untuk informasi dan ketentuan selengkapnya dapat dilihat di: http://www.bentarabudaya.com.

I Wayan Sujana ‘Suklu’, lahir pada 6 Februari 1967. Berpameran tunggal di sejumlah tempat, antara lain: Komaneka Fine Art Gallery (2016), Singapore, Gaya Fusion Art Space, Jakarta, dll. Berpameran bersama di Museum Puri Lukisan (2017), Monumen Perjuangan Klungkung (2017), Galeri Nasional Jakarta (2013), Bentara Budaya Bali (2012), dll. Karya-karyanya memperoleh berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional, semisal The Winner of Indofood Art Awards Competition, serta kerap diundang dalam pameran prestisius di dalam dan di luar negeri, tunggal ataupun bersama, antara lain Olympics Fine Art, Beijing, China; Beijing International Art Biennale, China; Exploring Culture, Verona Italy, Coln Jerman; Bali Jeju, Korea Selatan; Bangladesh XI Biennale; Asian Art Mosaic, Yaddo Art, Singapore, dll.Kini juga sebagai pengajar di FSRD ISI Denpasar.

I Made Susanta Dwitanaya, lahir di Banjar Penaka Tampaksiring Gianyar pada 22 Juli 1987. Menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja Bali. Finalis dalam sayembara penulisan esai dan feature seni rupa antar mahasiswa se-Indonesia dalam rangka HUT majalah seni rupa Visual Art di Galeri Nasional Indonesia. Pada tahun 2012 lolos seleksi dalam workshop penulisan Kritik Seni dan Budaya Visual yang diselenggarakan Ruangrupa Jakarta dan Loka Karya Kurator Muda Indonesia yang diselenggarakan oleh Ruangrupa dan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta, 2014). Bersama Wayan Seriyoga Parta, Dewa Gede Purwita, dan Wayan Nuriarta, mengembangkan Gurat Institute sebuah lembaga studi dan riset independen dengan basis seni rupa dan budaya visual di Bali. Dua buku sudah tergarap oleh lembaga ini yakni Lempad For The World dan Nyoman Erawan, Ermotive ; Recontructing Visual Thought.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s