Sinema Bentara #KhususMisbar “KEBENCANAAN, MITIGASI DAN KEMANUSIAAN”

Jumat-Sabtu, 19 – 20 Oktober 2018

Bukan satu hal kebetulan bila Sinema Bentara kali ini secara khusus mengetengahkan film cerita dan dokumenter terpilih tentang kebencanaan, mitigasi, berikut kisah-kisah kemanusiaan yang menyertainya. Tematik ini dipilih terkait kejadian bencana yang menimpa sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk yang terkini di Sulawesi Tengah, dengan tujuan membangun kesadaran sigap tanggap perihal kebencanaan, berikut upaya transfer of knowledge yang diharapkan dapat mendorong adanya perubahan cara pandang dalam menyikapi fenomena alam tersebut.

Disisi lain, pada kenyataannya Indonesia memang secara alami dilalui dua rangkaian pegunungan besar dunia, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik, serta menjadi titik pertemuan Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik; dimana bencana alam merupakan keniscayaan yang harus diterima dan dikelola agar dapat meminimalisir dampaknya. Dengan kata lain, Indonesia memang rawan terhadap bencana gempa bumi, letusan gunung api, hingga tsunami.

Beberapa film yang akan ditayangkan antara lain: La Soufrière (Jerman, Dokumenter, 1977, Durasi: 30 menit, Sutradara: Werner Herzog), Ekspedisi Gunung Agung (Indonesia, Feature-Dokumenter, Durasi : 44 menit, Produksi Kompas TV, 2017), Hafalan Shalat Delisa (Indonesia,Film Cerita, 2011, Durasi: 150 menit, Sutradara: Sony Gaokasak) dan Repdeman (Indonesia, Dokumenter, Durasi: 62 menit, Sutradara: Dandhy Laksono).

Melalui film Hafalan Shalat Delisa, kita menyaksikan bagaimana Delisa, gadis kecil yang selamat dari bencana Tsunami Aceh, berupaya bangkit di tengah kehilangan dan kesedihan ditinggal orang-orang terkasihnya. Adapun dokumenter Repdeman, layak disimak karena menghadirkan upaya pendokumentasian aset pengetahuan dari pengalaman hidup orang Mentawai dalam menyikapi bencana; bagaimana mereka berhasil selamat dari Tsunami serta terbebas dari trauma yang membayangi keseharian.

Pemirsa Sinema Bentara juga dapat meresepi dan menghayati kearifan atau local wisdom melalui film feature – dokumenter Ekspedisi Gunung Agung. Gunung Agung memang sumber spiritualisme masyarakat Bali, namun juga terbilang masih aktif dan menyimpan potensi letusan yang hingga kini belum dapat diprediksi secara pasti sebagaimana terjadi tahun 2018 ini.

Sutradara legendaris Jerman, Warner Herzog, sempat mendokumentasikan perjalanannya mengunjungi sebuah pulau ketika gunung api diperkirakan meletus melalui La Soufrière (1977). Bersama tim produksinya ia membentangkan tayangan jalan-jalan sepi seraya mewawancarai satu-satunya petani yang bersiteguh memilih tetap tinggal di pulau tersebut.

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang hangat, guyub, dan akrab, dimeriahkan Pasar Kreatif Misbar dan pertunjukan musik terpilih. Adapun pemutaran film ini didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali, NTB, NTT, Goethe Institut Indonesien, Kompas TV, Watchdoc Documentary, BPPT, ITB serta Guerilla, juga Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB).

SINOPSIS FILM :
LA SOUFRIÈRE
(Jerman, Dokumenter, 1977, Durasi: 30 menit, Sutradara: Werner Herzog)
Didukung oleh Goethe Institut Indonesien

Werner Herzog mengunjungi sebuah pulau ketika gunung api diperkirakan meletus. Herzog mendengar tentang letusan gunung berapi yang akan datang dan pulau Guadeloupe telah dievakuasi, namun satu petani menolak untuk pergi, Herzog tahu dia ingin pergi berbicara dengan sang petani untuk mencari tahu seperti apa hubungan menuju kematian yang dia miliki. Herzog mengeksplorasi jalan-jalan sepi kota-kota di pulau itu. Kru dari tiga perjalanan sampai ke kaldera, di mana awan uap dan asap belerang bergeser melayang seperti “pertanda kematian”. Herzog berbicara dalam bahasa Prancis dengan tiga orang berbeda yang ia temukan tersisa di pulau itu: satu mengatakan ia menunggu kematian, dan menunjukkan kesungguhan untuk melakukannya; yang lain mengatakan dia tetap menjaga hewan-hewan itu. Pada akhirnya, gunung berapi tidak meletus, sehingga menyelamatkan nyawa orang-orang yang tetap tinggal di pulau itu, termasuk Herzog dan krunya.

EKSPEDISI GUNUNG AGUNG
Feature-Dokumenter, Durasi : 44 menit, Produksi Kompas TV, 2017
Didukung oleh Kompas TV

Gunung Agung adalah sumber kemakmuran dan spiritualisme masyarakat Bali. Berdiri menjulang laksana singgasana para dewa, dipercaya sebagai pintu pencapaian keagungan Dewata. Hamparan kesuburan dan berkah keindahan alam, menghidupi setiap generasi masyarakat Bali. Namun, bentang alam yang kini didiami tidak hadir dengan sendirinya. Kesuburan yang tercipta, tanpa disadari adalah produk sisa-sisa letusan masa lalu. Seperti makhluk hidup, Gunung Agung juga tumbuh, beraktifitas, dan mengikuti siklus kehidupannya sendiri.

HAFALAN SHALAT DELISA
(Indonesia, Film Cerita, 2011, Durasi: 150 menit, Sutradara: Sony Gaokasak)
Didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali, NTB, NTT

Delisa, gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga, sebuah desa kecil yang berada di tepi pantai Aceh; dan mempunyai hidup yang indah. Abi Usman, ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak internasional. Delisa sangat dekat dengan keluarganya. Pada 26 Desember 2004, Tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka serta ratusan ribu orang lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara. Delisa berhasil diselamatkan Smith, seorang prajurit Angkatan Darat AS.

Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya, Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya. Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan.

REPDEMAN
(Indonesia, Dokumenter, Durasi: 62 menit, Sutradara: Dandhy Laksono)
Didukung oleh Watchdoc Documentary, BPPT, ITB serta Guerilla.

Merawat Ingatan. Karena bencana alam adalah siklus pengulangan dan kemampuan daya ingat manusia terbatas. Dokumentasi aset pengetahuan dari pengalaman hidup orang Mentawai dalam menyikapi bencana. Bagaimana bisa berhasil selamat dari gulungan tsunami, berupaya untuk memulihkan diri dari trauma pasca tsunami, bertahan hidup di Huntap dengan segala kesulitannya, atau yang memilih kembali ke kampung lama mendekat dengan sumber ekonomi laut. Sementara Megathrust Mentawai masih menyimpan energi besar yang terkunci selama ratusan tahun dalam lempeng bumi yang dikhawatirkan akan membangkitkan energi gempa yang besar. Mentawai dengan segala kompeksitas permasalahannya, masih ada menyimpan ingatan yang akan terus dijaga dan dirawat agar kehidupan anak cucu jauh lebih baik dan siap.

Film ini adalah inisiatif project yang dilakukan secara independent dan swadaya. Hasil kerja kolaborasi dari praktisi kebencanaan, video jurnalis, dan peneliti geologi dan kelautan serta peneliti sosial.

LIGHT UP NIPPON
(Jepang, 2012, Dokumenter, Durasi: 28 menit, Produksi The Japan Foundation)
Didukung oleh Pusat Kebudayaan Jepang, The Japan Foundation

LIGHT UP NIPPON adalah proyek peluncuran kembang api di 10 daerah yang terkena bencana secara serentak. Secara tradisional, kembang api di Jepang merupakan media untuk mengenang para korban dan juga merupakan simbol harapan serta doa yang bertujuan bagi pemulihan dan ketenangan jiwa. Setelah melalui berbagai tantangan dan kendala, dengan komitmen yang kuat dan kebulatan tekad, event kembang api pertama dalam proyek ini berhasil diselenggarakan pada 11 Agustus 2011. Kegiatan ini dapat terselenggara atas kerjasama para komite eksekutif sukarelawan LIGHT UP NIPPON, warga daerah yang terkena bencana, serta para pebisnis muda dari berbagai organisasi di Tokyo.

Dokumenter yang digagas The Japan Foundation ini telah ditayangkan di berbagai penjuru dunia. Proyek ini merupakan sebuah upaya gabungan kekuatan individual dari generasi muda Jepang.

 

Jadwal Pemutaran Film: 

Jumat, 19 Oktober 2018
16.00 WITA Hafalan Shalat Delisa (Indonesia, 2011, Durasi: 150 menit, Sutradara: Sony Gaokasak)
18.30 WITA Pasar Kreatif Misbar
19.00 WITA Ekspedisi Gunung Agung
(Indonesia, Feature-Dokumenter, Durasi : 44 menit, Produksi Kompas TV, 2017)
20.00 WITA Light Up Nippon
(2011, Jepang, Dokumenter, Durasi: 28 menit, Produksi The Japan Foundation)
Sabtu, 20 Oktober 2018
18.00 WITA Pasar Kreatif Misbar
18.30 WITA Repdeman
(Indonesia, Dokumenter, Durasi: 62 menit, Produser: Shusi Susilawati).
19.35 WITA Diskusi Sinema
Shusi Susilawati
(Produser & Penulis Naskah Repdeman)
20.35 WITA La Soufrière
(Jerman, Dokumenter, 1977, Durasi: 30 menit, Sutradara: Werner Herzog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s