Diskusi Seni Rupa “MELAMPAUI SENI PATUNG”

Senin, 8 Oktober 2018, pukul 19.00 WITA

Karya Octora Chan

Pada dua dasawarsa terakhir, khazanah seni rupa kita telah membongkar batas-batasnya sendiri. Perkembangan mutakhir ini bukan hanya imbasan dari gejolak seni rupa internasional, tapi juga indikator bahwa berbagai sektor masyarakat kita sedang mengejar ekspresi budaya yang baru. Seni patung tak terkecuali, tertantang oleh berbagai bentuk, medium dan juga disiplin yang tak lagi dapat dirangkum oleh seni tersebut. Tidak mengherankan, penggunaan bahan yang tidak diakui oleh seni patung konvensional, kini malah makin terdepankan; makin dominannya “rekayasa” ketimbang memahat dan mencetak; leburnya batas antara seni patung, kriya, desain dan berbagai disiplin lain; masuknya berbagai pihak “non-seniman” menjadi kreator-produser—semua itu niscaya memerlukan bukan hanya penamaan baru namun juga gelanggang penilaian yang juga baru.

Bersama Nirwan Dewanto (kurator, sastrawan, Direktur Program Komunitas Salihara), akan dipaparkan apa dan bagaimana karya-karya trimatra dalam hubungannya dengan perkembangan seni rupa nasional dan internasional. Akan dibicarakan pula capaian dari seniman-seniman muda penekun karya trimatra, termasuk di dalamnya seni patung, berikut problematik yang dihadapi mereka dalam kancah pergaulan seni internasional.

Komunitas Salihara mengadakan Kompetisi Karya Trimatra, tiga tahunan sejak 2013. Selain menanggapi perkembangan senirupa terkait dinamika seni patung dimaksud, secara lebih khusus, Kompetisi tersebut bermaksud merangsang dayacipta di kalangan seniman muda, yaitu mereka yang berusia di bawah 35 tahun.

Pada penyelenggaraannya yang kedua, tahun 2016 lalu, Kompetisi Trimatra Salihara berhasil menyaring 166 perupa muda dan terpilih tiga orang pemenang yang hadiahnya mendapatkan kesempatan residensi.
Mereka adalah Suryo Herlambang (Juara 1), Reza Zefanya Mulia (Juara 2), dan Ajeng Martia Saputri (Juara 3). Suryo Herlambang melakukan residensi di The Pickers’ Hut Glaziers Bay, Tazmania, Australia, sementara dua perupa lainnya yakni Reza Zefanya Mulia dan Ajeng Maria Saputri residensi di Tentacles Art Space, Bangkok, Thailand.

Nirwan Dewanto adalah seorang sastrawan, penulis seni rupa. Pernah menjadi redaktur majalah Kalam bersama sastrawan Goenawan Mohamad. Pada tahun 1996 menerbitkan koleksi esai yang diberi judul Senjakala Kebudayaan. Ia pernah menempuh sejumlah program residensi, antara lain di International House di Tokyo, Jepang; University of Wisconsin di Madison, Wisconsin, USA; International Writing Program di University of Iowa, Iowa City, USA. Buku terbarunya adalah Museum of Pure Desire (2017) & Buku Merah (2017) & Buku Jingga (2018). Buku puisinya, Jantung Lebah Ratu (2008) & Buli Buli Lima Kaki (2010) meraih Khatulistiwa Literary Award, serta the Origin of Happiness (terjemahan dalam bahasa Inggris dan Jerman). Pada tahun 2012 Nirwan berperan sebagai Uskup Agung Semarang, Albertus Soegijapranata, dalam film Soegija yang disutradarai Garin Nugroho.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s