Sinema Bentara #KhususMisbar “KISAH TERSEMBUNYI LINTAS NEGERI”

Sabtu-Minggu, 29-30 September 2018 Pukul 18.00 WITA

Sinema Bentara bulan ini menghadirkan film-film pendek terpilih peraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang mengedepankan cerita seputar panorama kekayaan kultural setempat, berikut adat-istiadat, kepercayaan dan kearifan lokal, yang sebagian dibayang-bayangi perang dan konflik, berikut situasi sosial ekonomi yang melatarinya.

Pada tayangan hari pertama, akan dihadirkan film-film pendek buah cipta sineas Indonesia bagian Timur, juga sutradara-sutradara dari jazirah Timur, seperti Irak, Syria, Afghanistan, kerjasama program EAST CINEMA dari WaterTreeFilm dan Bentara Budaya Bali.

Salah satunya, kita akan menyaksikan bagaimana perjuangan seorang Pianist asal Yarmouk, Syria, berupaya berbagi kebahagiaan dengan bermain piano guna menghibur anak-anak dan masyarakat setempat yang dilanda teror dan konflik, hingga berjuang melanjutkan hidup dengan melakukan perjalanan berbahaya ke negeri Eropa.

Adapun pada hari kedua, ditayangkan film-film pendek yang terangkum dalam OMNIBUS 2.0, terinspirasi dari cerita rakyat atau kisah-kisah tersembunyi yang mengandung pesan dan kearifan lokal Bali, seperti cerita Manik Angkeran, Pedanda Baka (Si Bangau), Kebo Iwa, I Rajapala, kreasi mahasiswa program studi Film dan Televisi FSRD ISI Denpasar angkatan 2015. Kerjasama ini didukung Udayana Science Club.

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang hangat, guyub, dan akrab, dimeriahkan Pasar Kreatif Misbar dan pertunjukan musik terpilih. Acara dimaknai pula timbang pandang perihal proses kreatif para sutradara muda, serta perkembangan film-film pendek di masa mendatang bersama Desak Putu Yogi Antari T.Y., S.Sn., M.Sn. dan Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si…

SINOPSIS FILM

BAKA
(Bali-Indonesia, 2018, Durasi: 21 menit 43 detik; Sutradara: IB Giri Semara Putra)
Kerjasama Program Studi Film dan Televisi FSRD ISI Denpasar Angkatan 2015 (Omnibus 2.0)

Empat orang bersaudara yatim piatu yang bernama Anom (13), Gede (10), Raka (8), Mas (6) tinggal di sebuah gubuk di pinggir kota. Anom yang merupakan kakak tertua harus membanting tulang untuk menghidupi ketiga adiknya dengan mengamen. Suatu hari Anom bertemu dengan Baka, yang kemudian bersikap baik kepada keluarganya. Tidak disangka sikap baik tersebut hanyalah pamrih semata. Film ini terinspirasi dari Kisah Pedanda Baka (Si Bangau)

BULAN KE-13
(Bali-Indonesia, 2018, Durasi: 20 menit 50 detik, Sutradara: IB Kade Dwi Eidya Utama)
Kerjasama Program Studi Film dan Televisi FSRD ISI Denpasar Angkatan 2015 (Omnibus 2.0)

Berkisah tentang seorang anak bernama Daruma, yang mendambakan sosok Ibu, Celina yang diyakininya tinggal di Bulan. Film ini terinspirasi dari cerita rakyat I Rajapala.

BAKTI
(Bali-Indonesia, 2018, Durasi: 21 menit 55 detik, Sutradara: Ni Putu Cempaka Ary S.)
Kerjasama Program Studi Film dan Televisi FSRD ISI Denpasar Angkatan 2015 (Omnibus 2.0)

Pasangan suami-istri telah menikah lebih dari 10 tahun, namun belum dikaruniai anak. Setelah berupaya menjalani sebuah ritual, mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Tude. Anak ini memiliki keinginan makan yang besar tanpa kenal rasa puas. Suatu hari, keluarganya jatuh miskin, dan ibunya jatuh sakit. Merasa ingin membantu keluarga, Tude mengiyakan ajakan pamannya untuk bekerja. Meski merasa tertipu oleh pamannya sendiri, Tude tidak ada pilihan lain untuk membantu biaya pengobatan ibunya.

Film ini terinspirasi dari cerita rakyat Kebo Iwa.

MANAH
(Bali-Indonesia, 2018, Durasi: 19 menit 57 detik, Sutradara: I Kadek Yuliana Putra)
Kerjasama Program Studi Film dan Televisi FSRD ISI Denpasar Angkatan 2015 (Omnibus 2.0)

Gede, seorang pemuda hidup dari keluarga sederhana, menghabiskan harinya dengan bermain sabung ayam hingga berjudi menjadi rutinitas sehari-hari tanpa mempedulikan kondisi keuangan keluarganya.

Film ini terinspirasi dari cerita rakyat Manik Angkeran.

HALAMAN BELAKANG
(Palu – Indonesia, 2013, Durasi: 12 menit, Sutradara: Yusuf Radjamuda)

Mengabaikan suara-suara gaduh dari dalam rumahnya, seorang anak menyibukkan diri dengan bermain sendiri di halaman belakang rumahnya. Dia mulai terbiasa.

Film ini meraih penghargaan: Ladrang Award – Festival Film Solo 2013 (Indonesia); Film Pendek Terbaik- Apresiasi Film Indonesia 2013; Jakarta International Film Festival 2013; Sutradara Terbaik- Festival Sinema Perancis 2013 (Institut Francais Indonesie); In Competition – Jogja Netpac Asia Film Festival 2013; In Competition – Piala Maya 2013; In Competition – Muhr Asia Africa Shorts – Dubai International Film Festival 2013; Finalist XXI Short Film Festival 2014; In Competition Tissa International Film Festival – Morocco 2014; In Competition Vladivostok International Film Festival 2014; Official Selection Hanoi International Film Festival 2014.

HANA
(Ambon – Indonesia, 2016, Durasi: 11 menit, Sutradara: Rifky Husain)

17 tahun setelah konflik Ambon, Hana, 27 tahun memutuskan untuk mengembalikan kunci rumah milik keluarga Dominggus yang diwasiatkan oleh ibunya. Kunci dan pertemuan Hana dengan Oma Ace membuka cerita di masa lalu.

MARY MOTHER
(Afghanistan, 2016, Durasi: 20 menit, Sutradara: Sadam Wahidi)

Mary dan anak perempuannya tinggal di sebuah desa terpencil di Afghanistan. Anak lelaki satu-satunya bertugas di Propinsi Kunduz sebagai tentara. Suatu hari Mary mendengar tentang jatuhnya propinsi Kunduz oleh Taliban. Ia kemudian memutuskan memulai perjalanan untuk menemukan anak lelakinya.

Film ini telah diputar di lebih dari 60 film festival di dunia, dan memeroleh berbagai penghargaan seperti: Best Cinematography Award -Silver Akbuzat Russia 2016; Audience Choice Award – Silver Akbuzat Russia 2016; Special Jury Award – Delhi International Short Film Festival India 2016; Special Jury Award – International Short and Independent Film Festival Bangladesh 2016; Special Jury Award – Jaipur International Film Festival India 2017; Best Edit Award Women International Film Festival of Heart Afghanistan; Best Short Film Award – Reel Sydney Festival of World Cinema Australia 2017; Special Jury Mention Award, Fabriano Film Festival, Italia 2017, Gold FIFOG Award International Oriental F.F of Geneva Switzerland 2018 dan lain sebagainya.

PIANIST OF YARMOUK
(Syria, 2017, Durasi: 12 menit, Sutradara: Vikram Ahluwalia)

Kisah nyata Aeham Ahmad, seorang pemusik klasik terlatih yang ingin lari dari perang di Syria. Dikelilingi oleh perang, kelaparan dan kehilangan tempat tinggal, Aeham mengunjungi anak-anak Yarmouk dan menyebarkan pesan persahabatan untuk dunia. Ketika perang mengancam kehidupannya, Aeham dipaksa untuk pergi meninggalkan Syria bersama istrinya, melakukan sebuah perjalanan berbahaya menyebrangi lautan dan daratan.

Film ini telah diputar di berbagai festival film internasional, di antaranya: Short Film Corner – Festival de Cannes, France 2018; Feminist Border Arts Film Festival, USA 2018; Nazra Palestine Short Film Festival (Gaza), Palestine 2017; Arab Film Festival (Los Angeles), USA 2017; Boston Palestine Film Festival, USA 2017; Nazra Palestine Short Film Festival (Naples), Italy 2017; Arab Film Festival (San Francisco), USA 2017; Twin Cities Arab Film Festival, USA 2017; Nazra Palestine Short Film Festival (Venice), Italy 2017; Asia Peace Film Festival, Pakistan 2017; The Short Cinema, UK 2017; Winner: Best Film Direction -London X4, UK 2017; dan lain sebagainya.

VENICE OF THE EAST
(Irak, 2017, Durasi: 26 menit, Sutradara: BahaaAlkadumy)

Seorang lelaki Yahudi tua mendapatkan kesempatan mengunjungi kota kelahirannya di Irak untuk meninggal di sana, tetapi dia hanya mendapat ijin 5 hari saja.

WATER
(Afghanistan, 2014, Durasi: 14 menit, Sutradara: Sayed Jalal Rohani)

Marzia adalah seorang gadis berusia 8 tahun yang mengumpulkan barang bekas. Suatu hari ia mengumpulkan botol pepsi kosong ketika seorang guru memanggilnya.

DYAB
(Irak, 2016, Durasi: 21 menit, Sutradara: Mazin M Sherabayani)

Dyab, seorang anak Kurdistan berusia 12 tahun tinggal di Arbat, sebuah kamp pengungsi setelah desanya, Shingal mendapatkan serangan hebat dari kaum ekstrimis. Impian Dyab tetaplah menjadi seorang sutaradra film dan aktor. Ia menceritakan kepada kita bagaimana penderitaan tinggal di negeri yang tak berhenti berperang.

Film ini diputar dalam berbagai festival film internasional, di antaranya: Sharjaha International Children’s Film Festival, UAE 2016; Lyon International Film Festival, France 2016; Leben Film Festival, Germany 2016; Cheapcuts International Documentary Film Festival, UK 2016; Ramsgate International Film & TV Festival, UK 2018; Rassam International Film Festival, Iran 2018; Alexandria Mediterranean International Film festival, Egypt 2016; Afrin International Short Film Festival, Syria 2016; Babel Film Festival, Iraq 2016; Docademia Film Festival, USA 2017; Diessen am Ammersee Kurz International Film Festival, Germany 2016; , Second Asia Youth Micro-Film Exhibition, China 2016, dan lain sebagainya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s