Timbang Pandang EUROPALIA ROAD TO INDONESIANA

Minggu, 6 Mei 2018, pukul 18.00 WITA

Boleh saja Indonesia sohor dengan ribuan pulau, keragaman kultural yang memukau sekaligus mencerminkan keberadaan 700 bahasa dari 300 kelompok etnis penghuni Nusantara, berikut keyakinan akan Bhinneka Tunggal Ika-nya yang mewarnai dunia. Namun, bagaimanakah mempresentasikan semua itu kepada publik lintas bangsa melalui Europalia Arts Festival, agar tergambarkan warisan keadiluhungan tersebut, capaian kecemerlangan kini, serta kemungkinan masa depan yang gemilang?

Indonesia terpilih sebagai negara tamu (guest country) pada Festival Seni Budaya Europalia ke-26, tentu melalui seleksi yang ketat. Indonesia menjadi negara keempat di Asia setelah Jepang (1989), China (2009), dan India (2013), serta negara pertama di kawasan Asia Tenggara. Selama empat bulan, 10 Oktober 2017 – 21 Januari 2018, ada 486 seniman dan budayawan tampil di tujuh negara Eropa, dengan pusat penyelenggaraan di BOZAR, Centre For Fine Arts Brussels, Belgia.

Sejumlah pertanyaan segera membayangi peristiwa seni budaya strategis ini, yang belum tentu berulang puluhan tahun mendatang, terlebih lagi mengingat, dalam festival seni budaya terbesar di Eropa ini, Indonesia menghadirkan 247 karya dan program: terinci dalam 20 pameran, 71 pertunjukan tari dan teater, 95 pertunjukan musik, 34 karya sastra, tak ketinggalan 14 pemutaran film, serta 9 konferensi.

Pertanyaan itu bukan hanya perihal sistem kurasi, siapa kurator, seturut hal-hal teknis lainnya. Timbang pandang kali ini akan menelisik perihal bagaimana rujukan tematik atau empat pilar festival Europalia Indonesia ini; heritage (tradisi), contemporary (kekinian), creation (kreasi baru), dan exchange (kolaborasi); diterjemahkan sebagai persitiwa pencapaian seni budaya Indonesia, yang memiliki resonansi kini dan mendatang; bukan semata bergaung ke seluruh dunia, melainkan dapat pula menjadi momentum para kreator di Tanah Air untuk melahirkan karya-karya masterpieces.

Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali mengadakan Timbang Pandang seputar festival Europalia – Indonesia, dialog budaya seturut pertanyaan di atas — sebentuk oleh-oleh sekaligus bekal menuju Program Indonesiana mendatang. Sebagai narasumber yakni Nyak “Ubiet” Ina Raseuki, Hikmat Darmawan, Wicaksono Adi, Sang Nyoman Arsa Wijaya, Ahmad Mahendra (Kepala Bagian Umum dan Kerjasama Kemendikbud) dan Ratna Pandjaitan ( Europalia Indonesia).

Nyak “Ubiet” Ina Raseuki, lahir di Jakarta, 25 Mei 1965. Ubiet yang lebih suka menyebut diri sebagai Pesuara daripada Penyanyi ini telah menjelajahi beragam gaya musik dan menyatakan dirinya “pluralis”. Lahir dari Ayah Aceh dan Ibu Minangkabau, Ubiet remaja bergabung dengan sejumlah band pop di Sabang (Pulau Weh) dan Banda Aceh. Masuk Jurusan Musik di Institut Kesenian Jakarta (1983), dengan studi khusus vokal; Ubiet kerap terlibat dalam sejumlah pentas musik klasik-kontemporer, tradisional-kontemporer, populer-kontemporer, maupun musik untuk pertunjukan tari dan teater, dan menjadi pesuara kelompok jazz Splash Band di tengah 1980. Doktor dalam etnomusikologi (2009) dari University of Wisconsin—Madison, Amerika Serikat ini, menjelajahi berbagai wilayah Indonesia, meneliti dan menghayati nyanyian nusantara. Selain itu Ubiet kerap menyanyikan beberapa karya komposer kontemporer, termasuk karyanya sendiri, yang dipersembahkan dalam panggung musik dan rekaman, film, teater, tari, peragaan busana, hingga pameran seni rupa. Sejak 2004, ia terlibat dengan kelompok jazz Krakatau-Etno, sebagai pesuara, dan menghasilkan dua album, Rhythms of Reformation (Musikita, 2005) dan 2 Worlds (Musikita, 2005). Album solonya termasuk, Archipelagongs (Warner Music Indonesia, 2000), Music for Solo Performer: Ubiet Sings Tony Prabowo (Musikita, 2006), Ubiet & Kroncong Tenggara (demajors, 2007/2013), Komposisi Delapan Cinta (demajors, 2011).

Hikmat Darmawan yang lahir di Bandung pada 22 Mei 1970 adalah seorang pakar komik Indonesia yang mengeluarkan komik pertamanya di Koran Tempo pada tahun 2005 dengan judul Dunia Rara pada kolom komik strip. Hikmat Darmawan juga menulis esainya pada tabloid Ruang Baca, bagian dari Koran Tempo dengan judul Novel Grafis dan Masa Depan Komik. Sepak terjangnya dalam dunia komik membuatnya terpilih menjadi juri dalam Penghargaan Komisi penyiaran Indonesia pada kategori animasi tahun 2015, tidak hanya itu, beliau juga pernah menjadi salah satu delegasi untuk pameran komik Indonesia pada Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman.

?

Wicaksono Adi, Penyair, penulis esai seni-budaya, lahir di Malang, Jawa Timur, Indonesia, 18 September 1966. Menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia, juga di Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia, keduanya di Yogyakarta. Tahun 1990-1998 menjadi kontributor surat kabar Jawa Pos. Tahun 2005-2007 menjadi Direktur Program pada Yayasan Seni Rupa Indonesia, Jakarta. Tahun 2007-2009 mendirikan Majalah Film F, dan bertindak sebagai pemimpin redaksinya. Selain menulis esai dan artikel kebudayaan juga menjadi kurator pameran seni rupa dan mengeditori buku-buku seni-budaya Indonesia. Kini menetap di Jakarta, bekerja sebagai penulis lepas di berbagai media massa perihal kebudayaan dan seni. Ia salah satu pendiri dan kurator Borobudur Writers & Cultural Festival yang diselenggarakan setiap tahun di Boroburur, Jawa Tengah, Indonesia. Belum lama ini menerbitkan buku Menyangkal SORGA (2018), rangkuman pemikiran mendalamnya tentang seni budaya Indonesia.

Sang Nyoman Arsawijaya, lahir di Denpasar, tahun 1980. Menyelesaikan pendidikan di ISI Denpasar tahun 2005. Bergabung dengan Triple 2 New music for gamelan, Sang Nyoman adalah musik direktur kelompok Gamelan Wrdhi Swaram. Tahun 2000 Visiting scholar di university of ILLINOIS at Urbana – Champaign. Bergabung di Performing Lines, sebagai pemain gamelan untuk “The Theft of Sita” thn 2001. Sejak tahun 2004 hingga saat ini ia telah menulis komposisi untuk Pesta Kesenian Bali. Karyanya GERAUSCH, tahun 2005 mendapat apresiasi dari dalam dan luar negeri: ”Through Gerausch, Arsawijaya unambiguously pricked the assumptions of institutional power”. (Radical Traditions: Reimagining Culture in Balinese Contemporary. Music. By Andrew McGraw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s