Dialog Sastra #60 OBITUARI VIVI LESTARI

Jumat, 18 Mei 2018, pukul 19.00 WITA

Dialog Sastra kali ini akan membincangkan capaian karya-karya puisi Putu Vivi Lestari, sekaligus sebentuk obituari bagi penyair yang berpulang pada 8 April 2017 tersebut. Putu Vivi Lestari, kelahiran Tabanan, 14 November 1981, merupakan salah satu penyair muda yang sangat berbakat dan tumbuh pada pertengahan 1990-an. Selain menulis puisi, dia juga aktif di Teater Angin SMA 1 Denpasar. Dia juga rajin menyiarkan puisi, prosa liris, dan esai di ruang apresiasi sastra Bali Post Minggu yang diasuh Umbu Landu Paranggi.

Karya-karya Vivi Lestari banyak menyuarakan tentang persoalan perempuan dalam kaitannya dengan urusan tubuh, domestik, budaya patriarki, dan berbagai persoalan lainnya. Puisi-puisinya dibangun dari diksi dan metafora-metafora yang digalinya dari berbagai sumber Barat dan Timur, seperti Kitab Injil, Ramayana, Mahabarata, mitologi, tokoh dunia, hingga merek parfum segala. Dengan kelincahan imajinasinya, dia mampu meramu ikon-ikon Timur dan Barat menjadi puisi-puisi yang multikultur, dan mengesankan dunia kini yang lintas batas.

Obituari bagi Putu Vivi Lestari ini mengetengahkan bedah dan diskusi buku puisi “Ovulasi yang Gagal”, buku antologi puisi tunggalnya yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi, 2017. Sebagai pembicara yakni Made Sujaya, S.S., M.Hum dan Puji Retno Hardiningtyas, M.Hum, dipandu oleh Wayan Jengki Sunarta.

Obituari ini dimaknai pemutaran video “Vivi di Mata Kawan-kawan”, musikalisasi puisi oleh Teater Cakrawala dan teaterisasi puisi oleh Teater Sangsaka, pembacaan puisi oleh Pranita Dewi, Dewi Pradewi, Wulan Saraswati, dan Muda Wijaya, serta orasi budaya oleh Wayan Juniartha, wartawan The Jakarta Post dan Ketua Program Indonesia UWRF.

Selain menulis, Vivi bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Pada 2007, Vivi menikah dengan pelukis Ketut Endrawan. Mereka dikarunia dua anak. Pada tanggal 8 April 2017, Vivi menghembuskan nafas terakhir di RSUP Sanglah, Denpasar.

Puisi-puisi Vivi pernah dimuat di Kompas, Bali Post, Bali Echo, Suara Merdeka, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal PUISI, Majalah Coast Lines, Pikiran Rakyat, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, dan Jurnal Kebudayaan CAK. Puisi-puisinya juga bisa dijumpai dalam sejumlah antologi bersama, antara lain Angin (Teater Angin, Denpasar, 1997), Catatan Kepedulian (Jukut Ares, Tabanan, 1999), Ginanti Pelangi (Jineng Smasta, Tabanan, 1999), Art and Peace (Buratwangi, Denpasar, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Kompas, 2001), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Kompas, 2002), Ning: Antologi Puisi 16 Penyair Indonesia (Sanggar Purbacaraka, Denpasar, 2002), Malaikat Biru Kota Hobart (Logung Pustaka, 2004), Roh: Kumpulan Puisi Penyair Bali-Jawa Barat (bukupop, Jakarta, 2005), Karena Namaku Perempuan (FKY, 2005), Selendang Pelangi (Indonesia Tera, 2006), Herbarium: Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga, Lamongan, 2007), Rainbow (Indonesia Tera, 2008), Couleur Femme (Forum Jakarta-Paris & AF Denpasar, 2010).

Vivi pernah meraih sejumlah penghargaan sastra, antara lain “Lima Terbaik” lomba catatan kecil yang digelar Komunitas Jukut Ares Tabanan (1999), “Sepuluh Terbaik” lomba cipta puisi pelajar SLTA tingkat nasional yang diadakan Jineng Smasta-Tabanan (1999), Juara II lomba cipta puisi dalam pekan orientasi kelautan yang diadakan Fakultas Sastra Unud (1999), “Sembilan Puisi Terbaik” Art & Peace 1999, Juara II lomba cipta puisi dengan tema “Bali pasca tragedi Kuta” (2003).

Selain pernah mengisi acara di Bentara Budaya Bali, Vivi membacakan pula puisi-puisinya pada sejumlah acara sastra tingkat nasional, antara lain Pesta Sastra Internasional Utan Kayu 2003 di Denpasar, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival 2004, Festival Kesenian Yogyakarta XVII 2005, Printemps de Poetes 2006 di Denpasar, Temu Sastra Mitra Praja Utama VIII di Banten (2013).

Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang, serta aktif membangun atmosfir pergaulan kreatif yang produktif, diantara melalui partisipasinya pada agenda seni budaya di Bentara Buday Bali. Selain menghadirkan kembali karya-karya unggul yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya. Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno, pelukis Tedja Suminar serta maestro tari Ida Bagus Oka Blangsinga.

Profil Pengisi Acara:

I Made Sujaya, kini tercatat sebagai dosen tetap yayasan di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP PGRI Bali. Selain sebagai pengajar, Sujaya juga jurnalis dan editor lepas di harian warga kota DenPost, menjadi penjaga gawang rubrik sastra dan budaya pada terbitan edisi Minggu DenPost. Tapi, tulisan-tulisannya juga dimuat di Bali Post serta The Jakarta Post. Buku pertamanya, Sepotong Nurani Kuta: Catatan Seputar Sikap Warga Kuta dalam Tragedi 12 Oktober 2002 yang terbit tahun 2004 menjadi satu di antara sedikit buku mengenai Tragedi Bom Bali yang ditulis jurnalis Bali. Tahun 2007, menerima penghargaan “Widya Pataka” dari Gubernur Bali untuk buku kedua, Perkawinan Terlarang: Pantangan Berpoligami di Desa-desa Bali Kuno.

Puji Retno Hardiningtyas, S.S adalah peneliti sastra di Balai Bahasa Denpasar, kini tengah menyelesaikan pendidikan magisternya di Universitas Udayana. Ia sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan sastra seperti seminar, diskusi, dan bedah buku baik di Bali ataupun di daerah lainnya di Indonesia. Beberapa judul penelitiannya antara lain: Peparikan dalam Puisi Jawa dan Bali; Estetika Resepsi Puisi Nyongkok Di Bucu karya I Nyoman Manda; Implementasi Pengajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Upaya Pemahaman Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Pendekatan Kontekstual; dan lain-lain.

Wayan Juniartha adalah wartawan The Jakarta Post dan kurator tetap Ubud Writer and Reader Festival (UWRF). Pada masa remaja dia aktif di Sanggar Minum Kopi Bali. Dia menulis buku “Bungklang-Bungkling”. Kini dia menekuni hobi bersepeda.

Dewi Pradewi yang bernama lengkap Ni Putu Dewi Ariantini lahir di Denpasar, 12 Januari 1987. Dia adalah salah satu penyanyi lagu pop Bali papan atas yang telah memulai karirnya sejak tahun 2000-an. Pada 2005 dia merilis album berjudul “Muani Buaya”. Selain itu dia sering diundang menyanyi atau menjadi pembawa acara (MC) di berbagai event besar di Bali. Kesibukannya yang lain adalah menjadi asisten Ketua PHRI Bali dan pelatih yoga. Kini dia kuliah S-2 Kajian Budaya di FIB Unud. Pada masa sekolah di SMPN 2 Denpasar, dia juga aktif mengikuti lomba baca puisi. Beberapa kali Dewi Pradewi pernah terlibat dalam kegiatan musikalisasi puisi.

Pranita Dewi, bernama lengkap Ni Wayan Eka, lahir di Denpasar, 19 Juni 1987. Menulis puisi, prosa kris dan cerita pendek. Sejumlah puisinya pernah dimuat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Bali Post, Majalah Sastra Horison, Jurnal Block-Not Poetry. Agustus 2003, meraih Juara I Lomba Deklamasi Puisi dan Juara I Lomba Cipta Puisi Pelajar se-Bali yang digelar Teater Angin SMU 1 Denpasar. Beberapa buku kumpulan puisi bersama “Jendela” (2003), Tuhan Langit Begitu Kosong (2004), dan Herbarium (2007). Kumpulan cerpen bersama “Made Patih (2003), “Titian” (2008). Pernah memperoleh beasiswa “A Weekend Creative Workshop: Sound Poetry from Different Faiths” (2003) dalam Pesta Sastra Internasional Utan Kayu di Kuta, Bali. Nominator Krakatau Award Lomba Menulis Puisi Nasional (2004) – Dewan Kesenian Lampung. Puisinya berhasil masuk dalam Buku Antologi 100 Puisi Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008. Buku puisi tunggalnya “Pelacur Para Dewa” (2006).

Muda Wijaya, penyair dan aktor teater yang lahir pada tahun 1974. Menyelesaikan pendidikan di Denpasar sederajat SMU thn 1993. Pemenang sayembara penulisan puisi dan cerpen Balai Bahasa se-Bali (2004). Sejumlah puisinya telah dimuat media massa lokal dan nasional, antara lain: Media Indonesia, Bali Post. Warta Bali, Majalah Budaya Jejak (Banyuwangi), GM – Independen. Puisinya juga masuk dalam antologi puisi bersama Tuhan Langit Begitu Kosong (Balai Bahasa Denpasar – 2004), nominasi cerpen dalam buku antologi Tower (Balai Bahasa Denpasar – 2004), antologi bersama Maha Duka Aceh diterbitkan PDS. HB. Jassin (2005), antologi puisi Roh dari Para Penyair Bali – Jawa Barat (Bukupop 2005), Jogja 5,9 Skala Rithcer (Bentang – 2006) , Herbarium Antologi Puisi 4 Kota (Pustaka Pujangga – 2007). Pada tahun 2006 menjadi peserta Temu Sastra Nusantara Mitra Praja Utama (MPU) II di Sanur, Bali dan Peserta Temu Forum Penyair Muda di Taman Budaya Yogyakarta, juga Temu Penyair Muda Jawa Barat –Bali (2005). Selain menulis, kini menjadi pelatih teater di Teater LIMAS SMA Negeri 5 Denpasar. Buku puisi tunggalnya berjudul “Kalimah”.

Wulan Dewi Saraswati, lahir di Denpasar, 10 Juli 1994, S1 di Undiksha, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, mendalami linguistik di Pascasarjana Universitas Udayana. Kini menjadi guru bahasa Indonesia untuk penutur asing di Yayasan Cinta Bahasa, bergabung di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha 2014 dan 2015, serta mengikuti pertukaran budaya, Muhibah Seni Undiksha di Belanda dan Prancis 2014. Menjadi sutradara fragmentasi cerpen Penumpang karya Iwan Simatupang, Mega-Mega karya Arifin C. Noor; monolog Bahaya karya Putu Wijaya. Karyanya terhimpun dalam antologi Singa Ambara Raja dan Burung-burung Utara, Ginanti Tanah Bali, Kaung Bedolot, Di Ujung Benang, Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta, dan Lingga. Puisi dan cerpennya kerap dimuat dalam Koran Bali Post Minggu. Antologi puisinya bertajuk Seribu Pagi Secangkir Cinta telah terbit pada tahun 2017.

Teater Cakrawala adalah sebuah teater yang dibentuk oleh sekelompok mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Unud. Sering mementaskan musikalisasi puisi dalam acara-acara sastra di Bali. Meraih Juara III Lomba Menyanyikan Kategori Umum se-Bali oleh Komunitas Kertas Budaya, Juara III Lomba Musikalisasi Puisi Umum se-Bali (2017), Juara I Lomba Musikalisasi Puisi Umum Se-Bali di UNDIKSHA Singaraja (2017), Juara Harapan I Lomba Musikalisasi Puisi Umum se-Bali di Balai Bahasa Bali (2017), dll.

Teater SangSaka adalah kelompok teater di SMK Negeri 1 Denpasar. Mulanya bernama Teater Rumput, lalu pada 1 November 2009 berganti menjadi SangSaka. Sejumlah pementasan yang pernah ditampilkan antara lain: Operet “Ada Cinta di STM Version 2” di KHASS STIKOM Bali (2017), Operet This Week di Natya Mandala (2017), Operet “Cintai Aku Apa Adanya” di Topenk Party X SMA Negeri 2 Denpasar (2017), dramatisasi puisi di Jatijagat Kampung Puisi (2018) dll. Teater Sangsaka juga aktif mengikuti lomba diantaranya meraih Juara 3 dan Juara Terbaik Lomba Monolog (Karma) di Balai Bahasa Bali (2017), Juara 2 Lomba Musikalisasi Puisi pada Reinkarnasi Budaya FIB UNUD (2017), Juara Harapan 3 Lomba Dramatisasi Puisi di Balai Bahasa Bali (2018) dan Juara Favorit Lomba Musikalisasi Puisi pada Pekan Sastra FIB Universitas Udayana (2018). Teater SangSaka pernah pula menyelenggarakan Gelar Kreativitas SangSaka (GRAVITAS) pada 23-24 Maret 2018, menampilkan Teater SMP dan Teater SMA/SMK yang ada di Denpasar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s