Bali Tempo Doeloe #20 BARONG, MITOLOGI KINI DAN NANTI

Minggu, 25 Maret 2018, pukul 19.00 WITA

Barong adalah sosok mitologis dalam khasanah kebudayaan Bali. Keberadaannya dikhidmati sebagai hal yang sakral, melahirkan atau mengilhami berbagai karya seni, antara lain tarian tradisional, berikut pertunjukan musikal gamelan yang mengiringinya. Tak ketinggalan rancang kostum atau busana yang dari waktu ke waktu berkembang selaras zaman.

Selain tarian, sosok Barong juga hadir sebagai topeng, patung, pahatan di dinding serta kerap tampil sebagai ikonik di dalam karya lukisan juga seni rupa lainnya, baik tradisional, modern maupun kontemporer. Tarian Barong diyakini merupakan peninggalan kebudayaan pra Hindu, menggambarkan nilai-nilai Rwa Bhineda kepercayaan Bali, yakni pertentangan antara kebaikan dan kejahatan yang berlangsung secara terus menerus.

Walaupun biasanya Barong digambarkan sebagai perwujudan seekor macan atau singa, ternyata banyak juga jenis-jenis barong lain seturut hewan-hewan tertentu, semisal Barong Bangkal (berwujud babi jantan besar), Barong Bangkung (berbentuk induk babi), dan juga Barong Landung (penggambaran sosok yang tinggi besar), termasuk juga sosok Banaspati Raja yang digambarkan dalam bentuk Barong Ket (penguasa hutan).

Sebagai sosok mitologis, barong juga mencerminkan transformasi sosial kultural masyarakat Bali. Masyarakat pada hakekatnya mengalami perubahan dalam laku kebudayaannya, serta senantiasa memerlukan seperangkat simbol yang dapat membantu memahami kedalaman pengalaman yang melingkupi dunia sekala niskalanya. Sejalan itu pula, maka mitologi berkembang memperoleh tafsir baru yang kontekstual dengan kekinian, dan tak jarang pula menyiratkan pengharapan akan masa mendatang. Dengan kata lain, mitologi bukan semata gambaran akan sesuatu atau nilai yang sudah lampau, melainkan dimungkinkan tertaut hal-hal Kini dan Nanti.

Bali Tempo Doeloe #20 kali ini akan membincangkan perihal mitologi tertaut transformasi sosial kultural masyarakat, juga hal-hal esensial Kini dan Nanti. Sebagai narasumber Dr. Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si. (Dosen Karawitan ISI Denpasar, Budayawan) dan Dr. Ketut Darmana, M.Hum (Dosen Antropologi Universitas Udayana).

Dr. Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si., lahir di Desa Sukawati, Gianyar, Bali, 3 Desember 1960, adalah seniman multitalenta; pelukis, pemain drama, penari dan penabuh gamelan. Kini ia merupakan Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar. Pendidikan S1-nya dalam bidang seni karawitan diselesaikannya di STSI Denpasar pada tahun 1988. Ia pengajar ISI Denpasar, juga redaktur jurnal seni budaya Mudra. Sebagai Seniman ia kerap diundang pentas di Spanyol (1992), Jerman, Belgia, Luxsemburg (1994), Jepang (1997, 2003, 2004, 2005, dan 2006), Swiss (2000), Peru (2002), Malaysia (2007), India (2008), Rusia (2010) dan Australia (2012). Aktif sebagai peneliti seni budaya dan produktif menulis esai dan kritik seni di Kompas, Gatra, The Jakarta Post, Koran Tempo, dan Bali Post.

 

Dr. Ketut Darmana, M.Hum, lahir di Klungkung, 31 Desember 1955. Kini merupakan staf pengajar Prodi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Ia menamatkan S1 di Jurusan Antropologi Universitas Udayana (1975) dan meraih gelar Master (S2) dalam bidang yang sama di Universitas Gadjah Mada, dengan kajian tentang Bentuk dan Makna Simbolik Seni Prasi Dalam Kehi-dupan Sosio-Kultural Masyarakat Bali. Selanjutnya ia menempuh program Magister (S3) juga di UGM, lulus pada tahun 2008 dengan kajian mengenai Ritual Ider Bumi Masyarakat Using Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s