Dialog Sastra #58 BAHASA IBU DALAM EKSPRESI GENERASI KINI

Minggu, 4 Februari 2018, pukul 18.00 WITA

Dialog Sastra kali ini akan membincangkan bagaimana penulis-penulis muda, khususnya di Bali, memperjuangkan bahasa ibunya sebagai sarana ekspresi. Ini bukan perkara romantisme atau mengagungkan masa lampau, melainkan upaya menyikapi aneka problematik kekinian di era multimedia yang serba lekas dan bergegas.

Sebuah bahasa konon layaknya organisme. Maka, niscaya karena itu, tidak sedikit bahasa-bahasa di dunia ini yang perlahan menghilang dan punah. Bahasa Kawi atau Bahasa Jawa Kuno, berikut tulisannya, juga tengah menghadapi dilema seperti itu. Banyak pihak yang prihatin dan mencoba melakukan upaya-upaya konservasi, terlebih mengingat bahwa banyak karya-karya besar semisal Kitab Sutasoma, Negarakertagama dan lain-lain, terbukti mengandung keindahan bahasa sekaligus bermuatan nilai-nilai serta ajaran luhur kemanusiaan.

Sebagai narasumber dialog kali ini yakni I Putu Supartika, penulis muda Bali yang selama aktif menulis karya-karya sastra yang menggunakan bahasa Bali sebagai media ekspresi, serta Titah Pratyaksa,M.Ikom (Akademisi, Pemerhati Budaya Bali). Selain perihal upaya mempertahankan penggunaan bahasa Ibu, akan dibincangkan pula mengenai bagaimana bahasa Ibu dapat mewakili ekspresi generasi kini, di tengah ramainya penggunaan media sosial, berikut kemunculan bahasa-bahasa ‘gaul’ yang menyertainya. Program ini sekaligus juga memaknai Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO diperingati setiap tanggal 21 Februari.

Hari Bahasa Ibu Internasional ditetapkan oleh UNESCO pada 17 November 1999 dan secara rutin diperingati di seluruh dunia sejak tahun 2000. Peringatan ini berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh, sekaligus diniatkan untuk menyuarakan perdamaian, kesadaran linguistik, keanekaragaman budaya dan multibahasa.

Namun jauh sebelum penetapan Hari Bahasa Ibu Internasional tersebut, sastrawan Ajip Rosidi telah menggagas Hadiah Sastra Rancage sebagai salah satu upaya merawat dan memuliakan Bahasa Daerah atau Bahasa Ibu. Hadiah Sastra Rancage merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage, yang didirikan oleh budayawan Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S. Ekajati, dan beberapa tokoh lainnya. Pada awalnya (tahun 1989 hingga 1993), penghargaan ini hanya mencakup sastra Sunda, namun kemudian diberikan juga kepada dunia sastra Jawa (sejak 1994), sastra Bali (sejak 1998), dan sastra Lampung (sejak 2008).

I Putu Supartika adalah lulusan Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Matematika. Tulisan Putu dalam bahasa Bali dan Indonesia telah diterbitkan di beberapa media, termasuk KOMPAS, dan juga menerbitkan buku kumpulan cerpen berbahasa Bali yang berjudul Yen Benjang Tiang Dados Presiden dan kumpulan puisi berjudul Lelakut. Pada tahun 2017 ia memenangkan Hadiah Sastera Rancagé dari Yayasan Kebudayaan Rancagé Bandung. Ia juga telah diundang sebagai pembicara dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017. Kegiatan Putu saat ini adalah mengelola jurnal sastra Bali modern, Suara Saking Bali.

I Gede Titah Pratyaksa, lulusan S2 Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sedari kuliah aktif dalam berbagai kegiatan pers kampus seperti UKM Atma Jaya Broadcasting Network (ABN), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (2009-2010), UKM Teras Pers, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (2010-2011), Persatuan Wartawan Indonesia (2014 – sekarang), dll. Pernah menjadi kontributor Koran Bali Travel Newspaper di Daerah Istimewa Yogyakarta (2009-2014), Wartawan Koran Harian Jogja (2012), dan kini menjadi Dosen Tidak Tetap STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Ia meraih The 1ST Winner of The Ratu Boko Journalist Writing Contest (2012), Juara Harapan I Lomba Menulis Artikel dan Foto Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (2012), Juara II Lomba Fotografi dalam acara Pemuda Hindu Fair Yogyakarta (2013), Peserta Foto Terbaik Workshop Menulis Dunia Traveling (‘Let’s Go to the Trip) oleh Tirana House Yogyakarta (2014), dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s