Sinema Bentara #KhususMisbar CERITA SASTRA DALAM FILM KITA

Sabtu – Minggu, 20 – 21 Januari 2018, pukul 18.00 WITA

Tidak sedikit film-film unggul, peraih berbagai penghargaan internasional atau nasional, yang berangkat dari karya sastra, baik novel, roman sejarah maupun puisi. Upaya alihkreasi atau alihmedia ini memperkaya kehidupan kreatif dunia sinema maupun susastra, serta melahirkan beragam kolaborasi dengan capaian-capaian serta ide-ide kreatif yang sering tak terduga. Sebaliknya, tak sedikit juga film-film yang berhasil secara estetika, atau apresiasi jumlah penonton, kemudian dikreasikan ulang menjadi karya sastra.

Misalnya film Dead Poet Society karya sutradara Peter Weir (1989), dibintangi aktor peraih Oscar, Robin Williams, Total Eclipse (Agnieszka Holland ,1995) tentang kehidupan penyair ternama Prancis Arthuir Rimbaud yang fenomenal. Atau juga karya-karya klasik Indonesia seperti Siti Nurbaya (Marah Rusli), dan yang terkini misalnya Laskar Pelangi (Andrea Hirata), Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy), hingga Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), dll.

Sinema Bentara kali ini akan menayangkan film-film terpilih dari mancanegara dan Indonesia, menandai program Sinema pertama pada bulan Januari 2018 yang mencoba mengedepankan hasil-hasil kreasi buah kolaborasi yang lintas batas (lintas bidang dan media) selaras tema utama Bentara Budaya 2018.

Film-film tersebut antara lain Salah Asuhan (Indonesia, 1972, Durasi: 98 menit, Sutradara: Asrul Sani); Madre (Indonesia, 2013, Durasi 1 jam 43 menit, Sutradara: Benni Setiawan); Balyakalasakhi (India, 2014, Durasi: 120 menit, Sutradara: Pramod Payyanur) dan Miracle In Milan (Italia, 1951, Durasi: 100 menit, Sutradara: Vittorio de Sica).

Masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, program kali ini didukung oleh Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling BPNB Bali Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT, Indian Cultural Centre Bali dan Konsulat Jenderal India di Denpasar dan Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, serta Udayana Science Club.

Pemutaran film ini akan dimaknai pula diskusi bersama Silvia Damayanti, S.S., M.Hum., pengajar Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dengan fokus kajian S2 Linguistik dan Wacana Sastra.

Ia lahir di Tanjung Anom, 28 Mei 1981, kini menjabat sebagai Sekretaris Prodi Sastra Jepang. Beberapa penelitiannya antara lain: Penerjemahan Kata “Hanya” dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer dan Novel Sokuseki karya Oshikawa Noriaki, Ekologi Sastra Dalam Manga Kiseki No Ringo (2017), Perempuan Dalam Puisi Cinta Shuntaro Tanikawa dan W.S. Rendra Sebuah Kajian Sastra Bandingan (2016), Figur Raksasa Dalam Cerita Rakyat Jepang (2015), Pembantukan Karakter Anak Jepang Melalui Puisi (2013), dsb.

SINOPSIS :
SALAH ASUHAN
(Indonesia, 1972, Durasi: 98 menit, Sutradara: Asrul Sani)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Film ini diadaptasi dari novel karya Abdoel Muis terbit tahun 1928, mengisahkan Hanafi, yang gagal studinya di Eropa, pulang ke kampungnya di Sumatera barat. Mulailah pertentangan antara kebiasaannya di Eropa dengan adat setempat. Hanafi menaruh hati pada Corrie du Bussee, wanita peranakan Perancis. Hubungan ini ditentang orangtua masing-masing. Hanafi sudah dijodohkan dengan Rapiah, sedang ayah Corrie tak ingin anaknya kawin dengan orang Melayu. Maka menikahlah Hanafi dengan Rapiah, meski sudah diduga tak akan lancar. Hanafi menyusul Corrie yang pergi ke Jakarta. Ternyata rumah tangga Hanafi-Corrie juga tak seperti yang diharapkan, hingga bercerai. Corrie kemudian meninggal, dan Hanafi pulang kampung lagi dengan perasaan kalah.

MADRE
(Indonesia, 2013, Durasi 1 jam 43 menit, Sutradara: Benni Setiawan)
Didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT

Madre diadaptasi dari novel karya Dewi Lestari, menceritakan tentang Tansen (27 tahun), berubah dalam sehari hanya dengan sebuah kunci lemari es yang di dalamnya terdapat adonan biang roti berumur 70 tahun bernama Madre. Kakeknya, Tan Sin Gie, memberikan warisan Madre kepada Tansen.Tansen seorang surfer yang memilih hidup bebas tanpa jeratan rutinitas. Ia terobsesi untuk mencari ombak tertinggi untuk ditaklukan. Hanya satu rutinitas ia tekuni, membagi pengalamannya pada sebuah blog yang diberi nama “Sang Pencari Ombak”. Tansen bertemu dengan pembaca blognya yang juga pengusaha toko roti ‘Fairy Bread’ bernama Meilan Tanuwidjaja. Awalnya Mei tertarik untuk membeli Madre, tapi akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Tansen menjual roti klasik.

Film ini meraih nominasi Piala Citra 2013 untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, nominasi Indonesia Movie Award 2014 untuk Soundtrack Terfavorit dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik

BALYAKALASAKHI
(India, 2014, Durasi: 120 menit, Sutradara: Pramod Payyanur)
Didukung oleh Indian Cultural Centre Bali dan Konsulat Jenderal India di Denpasar

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Vaikom Muhammad Basheer terbit tahun 1944, berkisah tentang cerita masa kecil Majeed (Mammootty) dan Suhra (Isha Talwar). Lahir dari orang tua kaya, Majeed jatuh cinta pada tetangganya Suhra yang hidup sederhana. Setelah kematian ayahnya Suhra, ia berusaha untuk tetap melanjutkan pendidikannya. Majeed memohon kepada ayahnya untuk mensponsori pendidikan Suhra, namun ayahnya menolak. Majeed kemudian mengembara ke negeri yang jauh.

MIRACLE IN MILAN
(Italia, 1951, Durasi: 100 menit, Sutradara: Vittorio de Sica)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Film ini merupakan adaptasi dari karya sastra berjudul “Totò il Buono” buah cipta Cesare Zavattini, menceritakan tentang Totò, seorang anak yang diadopsi oleh Lolotta, seorang wanita tua yang bijaksana dan baik hati. Saat Lolotta meninggal dia pindah ke panti asuhan. Pada usia delapan belas Totò, meninggalkan panti asuhan dan berakhir di penghunian kumuh di pinggiran kota Milan. Kebahagiaan tercipta sungguh hanya melalui keajabain.
Film ini kerap disebut sebagai dongeng neo-realis, menggambarkan kehidupan kelompok miskin di Milan pasca perang, Italia.

Film ini meraih penghargaan Grand Prize of the Festival pada Cannes Film Festival (1951), Italian National Syndicate of Film Journalists: Silver Ribbon; Best Production Design (1951), New York Film Critics Circle Awards: NYFCC Award; Best Foreign Language Film (1951), National Board of Review Awards: Best Foreign Films (1951).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s