Sinema Bentara “PERJALANAN DIRI”

Kamis – Jumat, 28 – 29 September 2017, pukul 18.00 WITA

Bukan hanya dalam kisah film atau novel, sebuah perjalanan boleh jadi merupakan pengalaman yang menyenangkan; menempuh jarak panjang dari kota asal; mengeksplorasi berbagai tempat dan suasana baru; mempelajari keragaman adat dan orang-orang yang barusaja dikenal; membuka wawasan akan nilai-nilai keterbukaan, toleransi, dan empati terhadap sesama. Namun, bagaimana bila tujuan awal tidak berakhir sebagaimana harapan mulanya?

Sinema Bentara kali ini merujuk tajuk “Perjalanan Diri” menghadirkan film-film lintas bangsa peraih berbagai nominasi dan penghargaan internasional, merefleksikan kisah-kisah seputar perjalanan manusia ke beragam penjuru tempat dalam pencarian jati diri yang hakiki. Film-film yang akan diputar di antaranya: Bulan Di Atas Kuburan (Indonesia, 2015, Sutradara: Edo W.F Sitanggang); Piku (India, 2015, Sutradara: Shoojit Sircar); La Dolce Vita (Italia, 1960, Sutradara: Federico Fellini); Seven Years In Tibet (Prancis, 1997, Sutradara: Jean-Jacques Annaud).

Sayang dilewatkan kelana Tigor dan Sahat pada film Bulan Di Atas Kuburan (Indonesia, 2015, Sutradara: Edo W.F Sitanggang), dua pemuda Batak yang tergiur untuk mencoba peruntungan di Jakarta harus menghadapi kenyataan bahwa mimpi dan tujuan awal mereka tidak semudah yang dibayangkan. Segala cara dilakukan untuk bertahan hidup di ibu kota. Tajuk film ini berhutang pada puisi alit Sitor Situmorang yang tersohor, Malam Lebaran, hanya 1 baris saja.

Perjalanan yang getir juga dialami Heinrich Harrer, pendaki gunung Austria pada film Seven Years In Tibet (Prancis, 1997, Sutradara: Jean-Jacques Annaud). Ia terobsesi menaklukkan Nanga Parbat di Pegunungan Himalaya, namun dipertengahan jalan terpaksa ditahan oleh tentara hingga akhirnya dipenjara di India. Film ini mengisahkan perjalanannya selama 7 tahun di Tibet, hingga ia berhasil meloloskan diri dan bersahabat baik dengan Dalai Lama.

Marcello Rubini, seorang jurnalis yang hampir putus asa pada film La Dolce Vita (Italia, 1960, Sutradara: Federico Fellini) berkelana selama lebih dari tujuh hari dan tujuh malam di Roma untuk mencari cinta dan kebahagiaan namun berujung pada kehampaan.

Berbeda dengan yang lainnya, pada film Piku (India, 2015, Sutradara: Shoojit Sircar), seorang wanita yang bekerja di New Delhi berhasil memperbaiki hubungannya yang tidak harmonis dengan ayahnya sewaktu berziarah ke luar kota.

Sinema Bentara kali ini diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang akrab, guyub, dan hangat, serta didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali Wilayah Kerja Bali, NTB, NTT, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Francaise Bali, dan Udayana Science Club.

SINOPSIS
BULAN DI ATAS KUBURAN
(Indonesia, 2015, Durasi: 120 menit, Sutradara: Edo W.F Sitanggang)
Didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali

Di kampungnya, Sabar memamerkan kesuksesannya akan hidup di Jakarta yang berstatus sebagai seorang pengusaha batu bara. Karena kisah itu, dua pemuda Batak bernama Tigor dan Sahat tetangganya tergiur untuk mencoba mengadu nasib di Jakarta. Mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa Sabar hanya tinggal di kampung kumuh, Tigor dan Sahat berusaha hidup dengan cara mereka sendiri. Tigor yang menjadi supir angkot akhirnya berkumpul dengan sekelompok preman. Berbeda dengan Sahat yang memiliki cita-cita menjadi seorang penulis besar memilih untuk menikah dengan Mona seorang putri dari penerbit buku yang bisa membuat cita-cita Sahat berjalan lancar.

“Bulan Di Atas Kuburan” merupakan film yang di remake dari judul yang sama karya sutradara Asrul Sani tahun 1973. Asrul Sani terinspirasi dari puisi Sitor Situmorang, “Malam Lebaran”, yang hanya disusun dari satu kalimat ‘Bulan di atas kuburan’. Film ini meraih penghargaan Aktris Pendukung Terpilih pada Piala Maya 2015 dan Pemeran Wanita Pendukung Terbaik pada Indonesian Movie Actors Award 2016.

Tautan trailer:

PIKU
(India, 2015, Durasi: 125 menit, Sutradara: Shoojit Sircar)
Didukung oleh Konsulat Jenderal India dan Indian Cultural Centre Bali

Piku adalah seorang wanita yang bekerja di New Delhi. Ia sangat peduli terhadap keluarga, setelah kepergian sang ibu, ia harus mengurus sang ayah yang mulai sakit-sakitan. Ia berusaha menyembuhkan ayahnya dengan melakukan perjalanan ke kota lain untuk berobat. Piku menyewa mobil dan seorang supir bernama Rana (Irrfan Khan), meski bukan merupakan anggota dari keluarga Piku, tapi ia harus terjebak dalam drama keluarga Piku. Berkat kehadiran Rama selama perjalanan, hubungan Piku dan ayahnya menjadi lebih baik dan menyenangkan.

Film ini menerima Penghargaan Filmfare 2016 untuk Film Terbaik, Aktris & Aktor Terbaik, Skenario Terbaik, Musik Latar Terbaik, Penghargaan Film Nasional untuk Aktor Terbaik 2016, Screen Award untuk Aktris dan Aktor Terbaik 2016, Penghargaan Zee Cine untuk Critic’s Choice Best Actor 2016, International Indian Film Academy Award untuk Aktris Terbaik 2016.

Tautan trailer : https://www.youtube.com/watch?v=oeiKUlUUNQ8

SEVEN YEARS IN TIBET
(Prancis, 1997, Durasi: 139 menit, Sutradara: Jean-Jacques Annaud)
Didukung oleh Alliance Francaise Bali

Seven Years in Tibet adalah sebuah film drama biografi berdasarkan pada buku 1952 dengan nama yang sama yang ditulis oleh pendaki gunung Austria, Heinrich Harrer tentang pengalamannya di Tibet antara 1944 dan 1951 saat Perang Dunia II, periode interim dan invasi Tibet pada 1950 yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Rakyat.

Film ini meraih nominasi Best Original Score pada Golden Globes Usa 1998, nominasi Grammy Awards 1998, dan menerima penghargaan Film Asing Terbaik pada Guild of German Art House Cinemas 1998 serta Audience Award pada Rembrandt Awards 1998

Tautan trailer: https://www.youtube.com/watch?v=TWkrRTPtKss

 

 

LA DOLCE VITA
(Italia, 1960, Durasi: 180 menit, Sutradara: Federico Fellini)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

La Dolce Vita mengisahkan tentang perjalanan Marcello Rubini, seorang jurnalis yang menghabiskan waktunya selama lebih dari tujuh hari dan tujuh malam di Roma dalam sebuah pencarian cinta dan kebahagiaan.

La Dolce Vita memenangkan Palme d’Or di Festival Film Cannes 1960 dan Oscar untuk Kostum Terbaik, The Newyork Times menyebut La dolce vita sebagai salah satu film Eropa yang paling terkenal dan paling banyak ditonton pada 1960an. Film tersebut dinominasikan untuk empat Academy Awards, dan memenangkan salah satunya untuk Rancangan Kostum Terbaik: Entertainment Weekly menempatkannya sebagai film terbesar ke-6 sepanjang masa. Pada 2010, film tersebut meraih peringkat #11 dalam “100 Film Sinema Dunia Terbaik” menurut majalah Empire.

Tautan trailer : https://www.youtube.com/watch?v=lHpCgL4jZZU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s