Sinema Bentara CERMIN KITA: DARI ENDE HINGGA SOLINO

Rabu – Kamis, 30 -31 Agustus 2017, pukul 18.00 WITA

Sinema Bentara kali ini menghadirkan film-film terpilih, mencerminkan kecintaan terhadap Tanah Air sejalan dengan upaya menimbang ulang dan memaknai semangat nasionalisme dalam perspektif yang lebih luas. Merujuk tajuk “Cermin Kita: Dari Ende Hingga Solino”, akan diputarkan film-film lintas bangsa yang tidak hanya merefleksikan spirit perjuangan nasionalisme, juga berbagai kisah yang mengedepankan nilai-nilai keterbukaan, toleransi, kemanusiaan, dan cinta kasih yang universal.

Kisah dalam film-film terpilih kali ini terangkai di dalam sosok-sosok tertentu, yang oleh alasan perang, politik serta kekerasan lainnya, harus terusir dari kampung halaman atau tanah airnya. Mereka berjuang menemukan kehidupan yang lebih baik sekaligus merenungkan arti kemanusiaan, berikut panggilan pengabdian pada bangsa dan negara.

Semisal film Soekarno: Ketika Bung Di Ende (Indonesia, Sutradara: Viva Westi) yang mengisahkan Soekarno saat diasingkan ke Ende pada 1934 bersama istri Inggit Garnasih, anak Ratna Djuami, dan ibu mertuanya Amsi. Pengasingan yang membuatnya banyak merenung ini membuat Soekarno sampai pada konsep dasar negara yang pada 1945 dirumuskan sebagai Pancasila.

Selain itu diputar juga film Solino (Jerman, Sutradara: Fatih Akin) menceritakan sebuah keluarga Italia yang mengungsi ke Jerman pada 1964, berharap mendapatkan penghidupan ekonomi yang lebih layak. Hingga suatu hari, kecintaan terhadap kampung halaman yang membuat mereka sukses di negeri rantauan. My Sweet Pepper Land (Perancis, Sutradara: Hiner Saleem) melukiskan keadaan perang yang genting di perbatasan Iran, Irak, dan Turki; bagaimana hukum dapat ditegakkan di sebuah desa terpencil, pusat segala pengedaran barang ilegal; siapapun bisa menjadi lawan atau kawan.

Sinema Bentara secara khusus juga memutarkan film Oom Pasikom (Indonesia, Sutradara: Chaerul Umam) yang berangkat dari tokoh kartun buah cipta GM Sudarta, merefleksikan sketsa kehidupan Ibu Kota yang tidak melulu modern dan indah, namun terkadang sepi terasing. Dihadirkan pula perjuangan hidup masyarakat kelas menengah ke bawah yang terpinggirkan di tengah gedung-gedung megah.

Film-film yang akan diputar selengkapnya: Soekarno: Ketika Bung Di Ende (Indonesia, 2013, Drama-Biografi, Durasi: 137 menit, Sutradara: Viva Westi); Oom Pasikom (Indonesia, 1990 , Durasi: 84 menit, Sutradara: Chaerul Umam); My Sweet Pepper Land (Perancis, 2013, Durasi: 95 menit, Sutradara: Hiner Saleem); Solino (Jerman, 2002, Durasi: 124 Menit, Sutradara: Fatih Akin).

Program ini didukung oleh Pusat Pengembangan Perfilman RI, Sinematek Indonesia, Pusat Kebudayaan Perancis Alliance Francaise Bali, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut, dan Udayana Science Club. Acara ini diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang akrab, guyub, dan hangat. Selain pemutaran film, akan dimaknai dengan sesi diskusi bersama narasumber terpilih.

SINOPSIS FILM
Soekarno: Ketika Bung Di Ende
(Indonesia, 2013, Drama-Biografi, Durasi: 137 menit, Sutradara: Viva Westi)
Didukung oleh Pusat Pengembangan Perfilman Indonesia

Karena aktivitas politiknya, Soekarno diasingkan ke Ende pada 1934. Ia pergi bersama istri Inggit Garnasih, anak Ratna Djuami alias Omi, dan ibu mertuanya Amsi. Masa awal di pengasingan itu dilalui dengan sulit. Yang paling menyakitkan adalah rakyat setempat tidak ada yang berani bertegur-sapa dengannya dan kemana-mana ia selalu diikuti oleh polisi. Pengasingan yang membuatnya banyak merenung ini membuat dia sampai pada konsep dasar negara yang pada 1945 dirumuskan sebagai Pancasila. Ketika ia sakit keras, Inggit menulis surat kepada MH Thamrin, agar Soekarno dipindah. Berkat bantuan Thamrin, Soekarno pindah ke Bengkulu setelah empat tahun di Ende. Film ini diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan tidak diedarkan di bioskop umum.

Oom Pasikom: Parodi Ibukota
(Indonesia, 1990 , Durasi: 84 menit, Sutradara: Chaerul Umam, Penulis: GM Sudarta & Marseli)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Film ini merupakan sebuah sketsa kehidupan di Ibukota Jakarta. Oom Pasikom, sopir taksi yang sangat sayang akan mobil pribadi tuannya, juga pelit karena penghasilannya sebenarnya pas-pasan. Sebaliknya, istrinya (Lenny Marlina) terlibat pergaulan atas dan konsumtif, karena usahanya menjadi makelar barang-barang perhiasan. Lewat kacamata Oom Pasikom ini, kisah-kisah “kecil” ibukota disampaikan: arisan nyonya-nyonya, istri yang kesepian, operasi kebersihan kota yang “tak adil” buat pengusaha kecil, mahasiswi yang sedang menulis skripsi dan lain-lain. Film ini menerima penghargaan Aktris Terpuji pada Festival Film Bandung Indonesia (1991).

My Sweet Pepper Land
(Perancis, 2013, Durasi: 95 menit, Sutradara: Hiner Saleem)
Didukung oleh Alliance Francaise Bali

Di perbatasan Iran, Irak, dan Turki, di sebuah desa terpencil pusat segala pengedaran barang ilegal, Baran, seorang polisi yang baru bertugas, berniat untuk menegakkan hukum. Mantan pejuang kemerdekaan Kurdi ini kini harus berhadapan dengan Aziz Aga, bos mafia. Ia juga bertemu dengan Govend, seorang guru perempuan muda yang tidak hanya cantik, namun juga sulit ditundukkan.

Film ini diputar pada Cannes Film Festival 2013 kategori Un Certain Regard Award dan meraih penghargaan Best Feature pada Chicago International Film Festival 2013, Special Jury Award pada Abu Dhabi Film Festival 2013; Award of the Youth Director pada Cabourg Romantic Film Festival 2013, Achievement in Directing pada Asia Pacific Screen Awards 2013, Special Festival Award Outstanding Performance for Actress pada Stony Brook Film Festival 2014. My Sweet Pepper Land juga dinominasikan sebagai film terbaik pada Oslo Films from the South Festival 2013.

Solino
(Jerman, 2002, Durasi: 124 Menit, Sutradara: Fatih Akin)
Didukung oleh Goethe Insitut Indonesien

Film ini diawali dengan kisah keluarga Amato pada 1964 di sebuah desa Apulia, Italia bernama Solino yang sepakat untuk migrasi naik kereta menuju Jerman, negara dengan keajaiban ekonomi dan iming-iming lowongan kerja sebagai pegawai tetap. Menyadari sulitnya untuk bekerja di pabrik industri, suami istri Romano dan Rosa mencoba sebuah ide untuk menyelamatkan keluarga dengan membuka “Ristorante Solino“ sebagai bisnis keluarga. Sepotong kampung halaman di negeri yang baru dengan Pizza und Pasta sebagai pembawa keberuntungan.

Film ini meraih penghargaan Aktor Muda Terbaik dan Skenario Terbaik pada Bavarian Film Awards 2013, Silver Guild Film Award pada Guild German Art House Cinemas 2003, dan nominasi Aktor Pendatang Baru pada New Faces Awards, Jerman 2003.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s