Pustaka Bentara BUKU TIGA SEKAWAN

Rayni N. Massardi, Jodhi Yudono dan Noorca M. Massardi
Jumat, 25 Agustus 2017, pukul 18.30 WITA

Pustaka Bentara kali ini menghadirkan peluncuran buku tiga sekawan, yakni Rayni N. Massardi dengan “Daun Itu Mati”, Jodhi Yudono dengan “Paijo dan Paijah” serta kumpulan puisi haiku karya Noorca Massardi “Hai Aku”. Ketiga buku itu diterbitkan oleh Penerbit Kaki Langit Kencana, menandai persahabatan tiga penulis yang telah terjalin puluhan tahun serta capaian terkini karya-karya mereka. Selain dialog atau takshow bersama para penulis, ditampilkan pula sebentuk alihkreasi dari buku masing-masing berupa pembacaan karya, pentas teater, pertunjukan musik dan video art.

Daun Itu Mati karya Rayni Massardi

Daun Itu Mati karya Rayni Massardi

“Daun Itu Mati” dihadirkan berupa Graphics Short Stories, mengisahkan 7 cerita pendek dan 20 “puisi”, di mana seluruh kisahnya memiliki benang merah perihal perjuangan manusia mengatasi ketakberdayaannya di tengah gempuran kekerasan hidup yang datang bergelombang. Hampir semua cerpen bernada gelap, menuturkan renungan terdalam batin manusia yang terpinggirkan. Buku ini dimaknai gambar-gambar atau ilustrasi karya Christian AS.

Paijo & Paijah karya Jodhi Yudono

Paijo & Paijah karya Jodhi Yudono

Adapun “Paijo dan Paijah, The Paijo Family”, mengisahkan tentang keluarga urban yang datang dari Surabaya dan mencari penghidupan yang lebih baik di Jakarta. Pergumulan pantang menyerah dari sebuah keluarga kecil; bapak, ibu, dan anak semata wayang mereka.

Hai Aku karya Noorca Massardi

Hai Aku karya Noorca Massardi

Sedangkan kumpulan puisi “Hai Aku” adalah karya kedua Noorca Massardi dalam format haiku setelah Hai Aku Sent To You (2017). Yang hadir dalam buku puisi “Hai Aku” Noorca Massardi ini adalah waktu yang bersandar pada hari, mulai dari Senin hingga Minggu. Pilihan hari sebagai penanda “Hai – Aku” Massardi ini tidak semata merujuk pada momen puisi “alit” itu diciptakan, melainkan juga menggambarkan pengalaman sang aku –lirik terkait peristiwa keseharian yang dialami, sekaligus mengajak pembacanya membangun asosiasi –segugusan citraan—cerminan dari penghayatan sang kreator pada kejadian-kejadian terpilih.

Rayni N. Massardi, lahir di Brussels, Belgia, pada 29 Mei 1957. Lulusan Universitas Paris III, Sorbonne Nouvelle, Departement d’Etude et de Recherches Cinematographiques, Paris, Perancis (1981), ini cerpen-cerpennya pernah dimuat di pelbagai koran dan majalah dan terpilih dalam antologi Laki-Laki yang Kawin dengan Peri: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1995 dan Riwayat Negeri yang Haru: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2006. Kumpulan cerpennya adalah: Istri Model Baru (1990), Pembunuh (2005), I Don’t Care (2008), Awas Kucing Hilang (2010), dan Terima Kasih Anakku (2012). Ia juga menulis karya nonfiksi, antara lain: Ngoprek ‘Santai’ Syair Lagu: Dari Taman Langit sampai Tak Ada yang Abadi (2010), Hidup Enggak Enak Itu Enak! (2007), 1655: Tak Ada “Rahasia” dalam Hidup Saya! (2005), dan Inspirasi Mode Indonesia (2003). Novel pertamanya, Langit Terbuka diluncurkan pada 10 Januari 2015 di Bentara Budaya Bali bersama novel suaminya, Straw (Noorca M. Massardi).

Jodhi Yudono lahir di Cilacap, 16 Mei 1963. Mulai menjalani “kutukan” sebagai penulis sejak SMP saat dirinya menjadi juara menulis tingkat sekolah di SMP N 2 Cilacap. Untuk memenuhi k3senangannya menulis, Jodhi pun banyak menulis puisi dan surat cinta pesanan kawan-kawan sekelasnya. Mulai aktif menulis di media massa akhir dekade 80an. Karya-karyanya berupa esai, cerpen, cerita bersambung, puisi, dan karya jurnalistik tersebar di berbagai media. Sejak 1990 – 1996 bekerja sebagai wartawan di Tabloid Citra, 1996-2000 di Majalah Jakarta-Jakarta, 2000 – hingga kini di kompas.com. Buku-buku yang pernah ditulis: “Mbah Surip We Love You Full”, dan beberapa antologi puisi.

Noorca M. Massardi, anak kelima dari dua belas bersaudara, lahir di Subang, Jawa Barat, pada 28 Februari 1954. Pewarta, penulis drama (Bhagawad Gita, Kertanegara, Kuda-Kuda, Jas Buka Iket Blangkon, Perjalanan Kehilangan, Terbit Bulan Tenggelam Bulan, Growong, dan lain-lain), serta skenario film (Sekuntum Duri) ini mengawali kariernya sebagai penulis lakon/aktor/sutradara Teater Lisendra dan anggota Teater Ketjil di Jakarta. Lulusan Ecole Superieur de Journalisme (ESJ) Paris, Prancis (1978), ini sudah menerbitkan tujuh novel. Yakni Sekuntum Duri (1978), Mereka Berdua (1982),September (2006),d.I.a. Cinta dan Presiden (2008) — semuanya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas, Media Indonesia, dan Seputar Indonesia — lalu Straw (2015) dan 180 (2106) — yang terakhir ini ditulis berdua dengan Mohammed Cevy Abdullah. Novelnya yang terbaru adalah Setelah 17 Tahun(2016). Sejak akhir 2013 hingga kini, Noorca bekerja sebagai redaktur eksekutif Kebudayaan —majalah internalterbitan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, dan ikut mempersiapkan televisi digital Indonesia TVsebagai direktur program dan pemberitaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s