Pameran Topeng “SINGAPADU: THE POWER BEHIND THE MASK”

Pembukaan : Minggu, 6 Agustus 2017, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 7 – 13 Agustus 2017, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Bila ada sebuah desa yang kreativitas masyarakatnya lintas zaman, tak surut oleh deras waktu dan perubahan, pastilah salah satunya adalah Singapadu. Modernitas –yang kerap mengikis keluhuran nilai-nilai lokal serta capaian seni setempat– justru memicu daya kreatif yang tinggi berikut kesadaran penciptaan yang teruji. Pengaruh dari luar disikapi secara kritis serta diolah melalui tahapan adaptasi yang berkelanjutan. Hasilnya sungguh mengagumkan; bukan semata kesemarakan berkesenian serta inovasi kreasi dari tradisi yang dilestarikan melainkan sebentuk penemuan-penemuan baru yang mengekspresikan semangat kekinian.

Bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali, Asosiasi Seniman Singapadu menyelenggarakan pameran retrospektif topeng merujuk tajuk “Singapadu: The Power Behind the Mask”. Kali ini dihadirkan ragam tapel, baik yang berbentuk topeng barong (Bebarongan) atau topeng dramatari (Patopengan). Di samping topeng-topeng klasik , ditampilkan juga karya sejumlah seniman muda berupa topeng-topeng modern dan kontemporer.

Ini memang kali kedua Topeng Singapadu dipamerkan di Bentara Budaya Bali, sebelumnya diadakan 6 tahun lalu, tepatnya November 2011. Maka, sewaktu bertemu dengan perwakilan Asosiasi Seniman Desa Singapadu, perupa Made Supena serta prajuru desa, Bapak Ketut Aryana, Bapak Wayan Susila, dan Bapak Made Suarmika; mengemuka bahwa eksibisi ini boleh dikata sebuah upaya retrospektif, dengan sendirinya bersifat reflektif.

Keberadaan Topeng Singapadu yang tersohor ini memiliki latar historis yang panjang. Berdasarkan catatan Prof. Dr. Dibia, penciptaan Topeng Singapadu berawal sejak sekitar awal abad ke-18. Generasi pertamanya adalah I Dewa Agung Api dari Puri Singapadu, salah satu putra dari Dewa Agung Anom atau kerap dikenal sebagai Sri Aji Wirya Sirikan, Raja atau Dalem Sukawati yang berasal dari Klungkung.

Adapun para seniman yang karya-karyanya dipamerkan kali ini antara lain: Cokorda Oka Tublen, I Wayan Tedun, I Wayan Tangguh, I Gusti Putu Berata, I Ketut Sarwa, I Wayan Pugeg, I Ketut Muja, I Wayan Wardana, Cokorda Raka Tisnu, I Nyoman Renu, I Nyoman Repot, I Made Hartawan, I Wayan Tebegunastra, Mangku Ketut Korma, I Kadek Ariawan, I Wayan Salin, I Nyoman Bawa, I Wayan Sarwa, I Ketut Kodi, I Made Martin, I Nyoman Narka, I Ketut Berati, I Gusti Putu Miasa, Cokorda Sutrisna Putra, Jero Mangku Adi Kusuma, I Nengah Soma, I Ketut Dirga, I Made Sutiarka, Cokorda Putra Wiyuda, Cokorda Raka Sedana, I Wayan WItarja, I Made Mesium, I Gusti Ngurah Mirjana, I Wayan SUkarya, I Made Sugiantara, Cokorda Alit Hartawan, I Nyoman RUbig, I Nyoman Bandung, Kadek Puiarta. Sebagai kurator adalah Prof. Dr. I Made Bandem, MA. dan Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA.

Pada pembukaan pameran dihadirkan sebuah tari kreasi “Barong Api” yang mengisahkan bagaimana Cokorda Agung Api, sang pelopor Topeng Singapadu, terinspirasi membuat Barong Ket dari kilauan cahaya matahari. Bertindak sebagai koreografer adalah I Nyoman Cerita dan Kadek Sugiarta, penata tabuh I Wayan Darya. Seturut itu juga, peristiwa ini akan dimaknai satu timbang pandang yang berangkat dari buku “Barong Kunti Sraya” karya Ni Luh Swasti Wijaya Bandem. Sebagai pembahas adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA. dan I Ketut Kodi, SSP, M.Si. Timbang pandang tersebut akan diawali tayangan dokumenter Barong Kunti Sraya 1928 hasil direpatriasi yang dilakukan oleh STMIK STIKOM Bali dan Arbiter Cultural and Traditions New York.

.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s