Luncur Album & Gelar Musik BERSAMA AYU WEDA & SAWUNG JABO- SIRKUS BAROCK

Jumat, 28 Juli 2017, pukul 18.30 WITA

Setelah melahirkan buku kumpulan cerpen “BADRIYAH”, kali ini Ayu Weda berbagi keprihatinan melalui album “SUDAH MERENUNGKAH KAU, TUAN?” berisikan sepuluh lagu karya Sawung Jabo yang bertemakan kepedulian sosial, politik dan refleksi diri. Sepuluh lagu ini dipilih sendiri oleh Ayu Weda, dinyanyikannya sekaligus ungkapan kepedulian dan seruan kesadaran akan keadaan negeri ini – mencerminkan perjalanan batinnya serta pandangannya terhadap perjuangan akan terjaganya martabat kemanusiaan.

Dipilihnya lagu “Hella Hella Hella” dan lagu ” Bocah Pelangi” adalah sebagai wujud keprihatinan atas nasib anak-anak jalanan, sempitnya ruang bermain dan miskinnya daya imaginasi pada anak akibat berkembangnya teknologi. Pada lagu “Sudah Merenungkah Kau, Tuan?” dan “Kesaksian Jalanan”, menunjukkan kegelisahan akan penyelewengan kekuasaan yang dilakukan para elite politik negeri. Enam lagu lainnya merupakan wujud kontemplasi diri. Bertindak sebagai Music Director: Sawung Jabo. Re- aransemen dilakukan bersama sebagian besar personal Sirkus Barock sekaligus player dalam album ini. Joel Tampeng (Gitar elektrik, Gitar akustik, Bass gitar), Bagus Mazasupa (Keyboard), Endy Barqah (Drum), Ucok Hutabarat (Biola), Denny Dumbo (Alat Tiup, Perkusi), Jecco Cello (Cello).

Peluncuran album ini dihadirkan dalam bentuk pertunjukan, menarasikan pesan-pesan dari berbagai syair lagu yang ada dalam album ini dalam bentuk musik, deklatari, monolog. Sebagai penampil adalah Ayu Weda, Sawung Jabo-Sirkus Barock, Ayu Laksmi, Cok Sawitri, Dewa Ayu Eka Putri dalam gerakan lingkaran ACP (Aku Cinta Padamu). Tampil pula sebagai pengisi acara Eny Darmayani, Sandrayati Fay, dan Trio Flowers.

PROFIL :

Ayu Weda yang memiliki nama lengkap I Gusti Ayu Made Wedayanti, lahir di Singaraja-Bali, 1 September 1963. Usai menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Singaraja Bali, Ayu Weda melanjutkan studinya ke Universitas Airlangga dengan mengambil Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Sosiologi. Pada era 1980’an dia dikenal sebagai Lady Rocker dan telah mengeluarkan beberapa album. Selain menjadi seorang seniman, Ayu Weda juga dikenal sebagi pemerhati seni, sosial budaya, dan sastra.

Sejak remaja Ayu Weda telah mengikuti berbagai festival dari tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Di era 1980’an Ayu Weda pernah menyandang predikat “The Best Performance of Lady Rocker”, dan mengeluarkan album “Rindu Teman Sehati” yang diciptakan oleh pencipta lagu Widuri, Adriadi. Pada era 1990’an Deddy Dores menciptakan lagu untuk Ayu Weda pada single album “Memetik Bintang”. Ayu Weda penah menjadi finalis Puteri Remaja Indonesia tahun 1981 yang diselenggarakan Majalah Gadis. Juara tiga dan penampil terbaik pada pemilihan terbaik pemilihan Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1980 bersama grupnya trio Ayu Sister.

Sirkus Barock didirikan Sawung Jabo di Yogyakarta tahun 1976. Embrio dari grup yang awalnya bernama Barock ini adalah Keluarga Arek-Arek Suroboyo (KAAS), sebuah ikatan pelajar dan mahasiswa asal Surabaya yang sedang belajar di Yogyakarta. Sirkus Barock telah menghasilkan sejumlah album, misalnya Anak Setan, Bukan Debu Jalanan, Kanvas Putih, Fatamorgana, Jula Juli Anak Negri, Anak Angin dan Perjalanan Waktu.

Sejak berdiri hingga kini, Sirkus Barock memang identik dengan Sawung Jabo. Personel lain di kelompok itu kerap berganti, tetapi peran Jabo sebagai vokalis dan pemimpin grup tak tergantikan hingga kini. Kendati demikian, Sirkus Barock bukanlah semata-semata sirkus pribadi Sawung Jabo. Kelompok itu juga ditopang oleh musisi-musisi muda dengan keterampilan tinggi.

Dilahirkan dengan nama Mochamad Djohansyah pada 4 Mei 1951 di Surabaya, Sawung Jabo merupakan musisi legendaris yang serba bisa. Ia pernah bergabung dengan Bengkel Teater pimpinan penyair/dramawan WS Rendra, mengembara di Australia dan berkolaborasi dengan musisi di sana serta berkarya bersama sejumlah musisi ternama Indonesia. Sawung Jabo dikenal produktif dalam melahirkan karya seni atau terlibat dengan para seniman dari bermacam daerah seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, Bandung, Sidoarjo, Jember, bahkan sampai negara Australia. Di Bali, ia terlibat dalam pembentukan kelompok Anak Angin, sebagai hasil Kemah Budaya yang intens dilakukannya sejak beberapa tahun terakhir.

Ayu Laksmi, dilahirkan di Singaraja-Bali, 25 November 1967 dengan nama I Gusti Ayu Laksmiyani, proses kreatifnya dijalani secara otodidak sejak usia dini. Bakat yang ada di dalam dirinya, ditempa dan dibentuk kembali tanpa henti. Laksmi konsisten mengasah talenta dalam dunia seni suara yang kini berhasil disajikan dalam sebuah seni pertunjukan. Bali tetap dipilih sebagai tempat berproses: belajar sendiri dari literatur dan diskografi musik. Mengenali, menghayati, mengalami, mencoba, adalah proses penempaan yang tak pernah usai, bahkan masih dilakukannya hingga hari ini.

Tak hanya sebatas musik, Laksmi juga merasa tertantang untuk menekuni bidang seni lainnya. Ia pernah bermain dalam film Under the Tree garapan sutradara Garin Nugroho, juga terlibat dalam film Ngurah Rai (Dodid Wijanarko) dan Soekarno (Hanung Bramantyo). Di panggung teater, ia pernah menjajal kemampuannya dalam repertoar Gandamayu bersama Teater Garasi, 3+1 Perempuan Patah Hati bersama Cok Sawitri, Dayu Ani, dan Aryani Willems, Made in Bali dalam program Indonesia Kita, juga Mono Act Psikopat.

Cok Sawitri, lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968. Selain merupakan aktivis teater, Cok Sawitri juga adalah penulis yang telah melahirkan karya artikel, puisi, cerita pendek dan novel. Hingga kini, Cok Sawitri begitu aktif dalam aktivitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali di tahun 1997 dan Kelompok Tulus Ngayah di tahun 1989. Cok tercatat sebagai salah satu penasehat The Parahyang untuk majelis Desa Pekraman atau desa adat di Sidemen, Karangasem, Bali. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang perempuan dan kemanusiaan sampai grup-grup teater di Bali. Karya-karyanya lebih banyak berbasiskan kearifan lokal, kembali ke akar budaya Bali sebagai “Ibu”-nya.

Eka Putri lahir di keluarga seniman di Banjar Pengosekan pada 13 Oktober 1991, dan bernaung dalam Sanggar Seni Cudamani – sebuah Yayasan Seni Tari dan Tabuh Tradisional Bali, yang dikelola oleh keluarga. Dewa Ayu Eka Putri menghabiskan masa tumbuh dengan mendengar, melihat, berlatih, berkolaborasi dan kemudian mencipta seni tradisional Bali dalam bentuk tari dan musik tradisional maupun kontemporer. Dalam masa belajar di Cudamani, ia seringkali berkolaborasi dengan seniman nasional dan internasional, melakukan berbagai tour di dalam dan luar negeri, kemudian juga melakukan berbagai kegiatan ngayah yang secara langsung melibatkan dan mempengaruhi pola pikir seni serta hasil karya Dewa Ayu Eka Putri. Lulusan dari Antropologi Udayana ini mahir bermain gamelan Bali terutama kendang, gangsa, terompong, rebab, kemudian juga mahir dalam berbagai tarian Bali. Menyenangi olah vokal tradisi terutama Palawakya, juga mulai menjajaki seni teater dan kontemporer serta aktif mengikuti berbagai festival nasional dan international.

Ni Luh Putu Eny Darmayani atau yang biasa dipanggil Eny, berasal dari Kerobokan,Badung. Sejak belia, perempuan kelahiran 27 Januari 1995 ini memang gemar menari, khususnya tari Bali. Seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya pengalaman yang didapat, membawa Eny ingin mencoba satu hal yang baru, yaitu tari kontemporer. Hingga kini minatnya dalam bidang tari membuatnya banyak belajar tentang dunia penciptaan. Lulusan ISI Denpasar ini pun mendapat peringkat terbaik pada ujian tugas akhir dengan karyanya yang berjudul “Solek Saluk”.

Hingga kini Eny masih aktif berkarya dan membentuk komunitas Eny Art Dance untuk mendidik dan mencetak generasi penari Bali yang baru.

Sandrayati Fay adalah seorang penyanyi dan penulis lagu berdarah Filipina-Amerika dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Bali dan Jawa. Ia dibesarkan di keluarga yang menggemari musik. Dalam perjalanan musiknya, Sandra sempat berkolaborasi dengan band Nosstress, dimana mereka bertemu di One Dollar for Music, sebuah yayasan yang berbasis di Bali. Meski masih terbilang muda, Sandra sudah pernah berdiri di banyak panggung besar. Pada suatu kesempatan, ia juga pernah berduet bersama Iwan Fals.

Sejauh ini, Sandra telah banyak menciptakan lagu yang merupakan ekspresinya terhadap alam, identitas dan cinta. Dari Hati, demikianlah yang biasa ia ucapkan sebagai bentuk dan penegasan sikap terhadap hidup dengan segala yang mengitarinya.

Trio Flowers berawal dari Kemah Budaya tahun 2016 di Tabanan yang diinisiasi Sawung Jabo, tiga perempuan yang masih berstatus pelajar SMA ini bertemu. Mereka pun bersama-sama terlibat dalam pembuatan album band Anak Angin yang bernaung di bawah bendera Mata Angin Communication. Dari sanalah gagasan grup perempuan bernama Trio Flowers terbentuk, menyatukan mereka dengan mempertahankan karakteristik vocal masing-masing. Kini, Dila Mufidah, Mitha Intan Wulandari dan Anindita Satyanandani, mencoba membuat warna baru untuk menyemarakkan blantika musik di Bali.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s