Workshop & Kolaborasi Street Art BERSAMA JANDAMARRA CADD (AUSTRALIA) DAN KOMUNITAS DJAMUR (BALI)

Workshop & Kolaborasi Mural : Kamis, 13 Juli 2017, pukul 14.00 -17.00 WITA
Pemutaran Dokumenter : Kamis, 13 Juli 2017, pukul 19.00 WITA

Seni visual, dalam beragam gaya dan wujud, ditorehkan ditembok-tembok terpilih di pinggir jalan atau dihablurkan spontan di sudut tertentu sebuah bangunan, belakangan kian marak di Bali, terlebih di kawasan Denpasar dan daerah wisata kosmopolitan Kuta-Legian. Ekspresi seni di ruang publik ini atau dikenal sebagai street art, sebagaimana fenomena serupa di berbagai kota lainnya, adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial kultural masyarakat setempat.

Kali ini, Kedutaan Besar Australia di Indonesia dan Konsulat Jenderal Australia di Denpasar bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali menyelenggarakan sebuah workshop street art, menghadirkan perupa Indigineous-Aborigin sohor Jandamarra Cadd (44) berkolaborasi dengan seniman street art terpilih dari Komunitas Djamur, merujuk tajuk semacam seruan kesadaran akan lingkungan dan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism).

Selain berbagi pengalaman perihal estetik dan stilistik ragam street art masing-masing, kolaborasi ini juga akan mengeksplorasi lebih dalam ikonik-ikonik yang berangkat dari ragam visual atau wujud rupa hewan-hewan tertentu yang bersifat simbolis dan mistis, baik yang bersumber pada kultur indigenous Aborigin maupun Bali. Hewan-hewan ikonik itu akan dikreasikan sedemikian rupa sehingga dapat dihadirkan dengan ragam visual kontemporer berikut warna-warni yang sugestif dan imajinatif sehingga publik terpikat dan dapat menyelami pesan yang terkandung di dalamnya berupa seruan kesadaran akan lingkungan dan pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism).

Jandamarra Cadd merupakan seniman Aborigin keturunan Yorta Yorta dan Dja Dja Wurung Victoria, lahir tahun 1973 di Brisbane, Australia. Ia mulai melukis sejak usia 15 tahun, dikenal sebagai seniman yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan gaya dan media, perpaduan unik antara teknik seni tradisional Aborigin dan seri potret kontemporer, buah penemuan yang mempribadi. Dalam banyak lukisannya, ia mengekspresikan batin manusia yang mendambakan kedamaian, cerminan pengharapan kaum tertindas atau minoritas. Meski demikian, karya-karyanya penuh dengan warna-warni yang memikat, menuturkan nilai-nilai universal yang mempertautkan manusia lintas bangsa.

Ia telah menggelar pameran tunggal keliling Australia bertajuk KINSHIP: A Culture of Connection (2014-2016); PAST.PRESENT.FUTURE (2012-2013); dan turut dalam berbagai pameran bersama di sejumlah galeri seni di Australia seperti National Gallery of Australia; Art Gallery New South Wales; Gosford Regional Gallery; Maitland Regional Art Gallery; Lismore Regional Gallery; Coffs Harbour Regional Gallery; Broken Hill Regional Art Gallery; Griffith Regional Art Gallery, dan lain-lain. Beberapa penghargaan yang pernah diraih: Finalist in The Kennedy Prize 2016; Finalist in The Clayton Utz Art Award 2016; Winner of People’s Choice – Sunshine Coast Art Prize 2016; Finalist in The Sunshine Coast Art Prize 2016; Finalist in The Percival Portrait Painting Prize 2016; Finalist in The Black Swan Art Prize 2015; Winner of SJOGHC Online People’s Choice Prize 2015; Finalist in The Archibald Prize 2014; Finalist for Indigenous Artist of the Year – The Deadly Awards 2013; Finalist for Indigenous Artist of the Year – The Deadly Awards 2011; People’s Choice Award 2010 – Que Sera Sera Exhibition (Toowoomba); People’s Choice Award 2008 – Wondai Art Gallery Through Our Eyes – Collaborative exhibition; Indigenous Employees Award 2007 – National Art Award (Canberra) Drawn Together; Highly Recommended 2007 – Arts Spectacular Competition; The People’s Choice Award 2005 – Faces of Arranounbi, Redcliffe Cultural Centre.

Komunitas Djamur didirikan pada 27 Desember 2007, acuan semangat yang mereka junjung yakni kritis, menolak kemapanan, dan berekspresi secara bebas dalam kebersamaan. Komunitas ini bersifat terbuka dan egaliter sebagaimana jamur yang mudah tumbuh menyebar di manapun. Dalam sikap kritis itulah komunitas ini mempersepsikan anggotanya sebagai “produk gagal kesenimanan”, sebentuk ironi atau parodi untuk seniman-seniman sohor mapan yang berkarya di studio-studio pribadi serta berpameran di ruang-ruang representatif yang terpandang dan bergengsi. Menariknya, anggota Komunitas Djamur justru mengedepankan eksistensinya dengan menolak untuk dikenal publik sebagai sosok individu atau pribadi. Mereka menegaskan keberadaannya sebagai Sang Anonim.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s