Art Fashion Exhibition “LUKISAN SULAM JEMBRANA, LINTAS BATAS KREATIVITAS”

Pameran, Workshop & Performing Art
Pembukaan : Kamis, 20 Juli 2017, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 21-26 Juli 2017, pukul 10.00-18.00 WITA
Workshop & Diskusi : Senin, 24 Juli 2017, pukul 15.00 WITA

Belakangan dunia penciptaan dipenuhi berbagai karya ‘kontemporer’, sekadar mengadopsi ikon, corak dan nilai-nilai yang diandaikan sebagai global, tersaji dalam ragam seni yang tak jelas identitasnya. Kali ini sebuah pameran Art Fashion, menggabungkan antara fine art dan fashion design berupaya menghadirkan karya-karya dengan kreativitas yang lintas batas, menuangkan gagasan secara sistematis melalui sarana artisitik serta intelektual dalam suatu dialektika antara yang lokal dan yang global.

Merujuk tajuk Threads on Threads, eksibisi kali ini menampilkan karya-karya dengan multimedium, seperti kain, benang, besi, dan artfilm serta dikemas dalam performing art (senirupa pertunjukan), menghasilkan bentuk kesenian yang ekspresif dan harmonis, sepenuhnya terinspirasi dari seni lukis sulam Jembrana, Negara. Pameran yang digagas oleh perupa Wayan Sujana Suklu dan Tjok Istri Ratna Cora ini sejalan pula upaya untuk menghadirkan kembali ragam seni langka dari Jembrana (Negara) yang kini hampir punah. Pameran ini adalah sebuah upaya menautkan seni kontemporer dan seni lukis sulam yang telah turun temurun dilakukan oleh pesulam Jembrana, Negara, berangkat dari dua kecenderungan yang berbeda yakni antara desain yang bersifat terstruktur dengan fine art yang lebih intuitif.

Pameran kali ini kerjasama Jurusan Fashion Design ISI Denpasar dan Bentara Budaya Bali melibatkan seniman dan komunitas muda kreatif, antara lain; Komunitas Benang Merah, Komunitas Stitch and Dye, Komunitas Color of Emotion, Komunitas Prabhasvara, Komunitas Perajut Mimpi, Komunitas Konstelasi Seni dan Fashion, Komunitas Pattern Dictionary, Komunitas Thread’s Expression, Komunitas Black String, Komunitas Seni Lukis Sulam Negara, Rico Anantha, Tiartini Mudarahayu serta Ksatria Pinanditha.

Digelar pula workshop dan timbang pandang tentang Art Fashion ini dalam konteks “Bahasa Universal Melalui Seni Lukis Sulam Kontemporer”. Sebagai narasumber adalah Dr. Tjok Istri Ratna Cora S., S.Sn., M.Si (Dosen Jurusan Fashion Desain ISI Denpasar) dan I Wayan Sujana “Suklu”, S.Sn., M.Sn (Perupa, Dosen Seni Rupa ISI Denpasara).

Ratna Cora, salah satu pencetus ide untuk melakukan penelitian dan pengembangan seni lukis sulam Negara. Bersama perupa Wayan Sujana Suklu, mengemas seni lukis sulam Negara dalam garapan karya art fashion, serta mendorong terbentuknya beberapa komunitas sulam. Berbekal latarbelakang doktor dalam bidang fashion dan kajian budaya, Ratna Cora mencoba menghidupkan kembali salah satu aktivitas seni langka Jembrana yang termarjinalkan.

Komunitas Benang Merah (Tudi, Rama, Wulan, Dita dan Dian) mencoba melalui karya art fashion merangkai kembali histori dan memori tentang Indonesia. Secara simbolis, menghadirkan untaian benang merah, mengikat dan mengutuhkannya kembali laiknya Tanah Air Indonesia.

Komunitas Stitch and Dye mengedepakan stitching dan dying sebagai teknik utama, menghadirkan kejutan dan efek warna serta tekstur yang berbeda serta menggali rupa baru yang tersembunyi.

Komunitas Color of Emotion, sebuah komunitas yang selalu melibatkan emosi audiens menjadi bagian dari karya art fashion mereka. Keterlibatan audiens terekam melalui berbagai ekspresi dan respon terhadap karya. Bagi Oyon, dkk peran audiens sama pentingnya dengan kehadiran sang seniman dalam karya seni.

Komunitas Prabhasvara, terdiri dari Widhya, Rizki, Eka, Kusuma Sari, Masyah dan Rina. Mereka menyajikan karya-karyanya dengan kombinasi warna yang terang dan cemerlang. Alam bawah sadar bagian dari kreativitas penerapan warna- warna Sadvarna Dvhaja, cerminan ajaran dharma Sang Budha.

Komunitas Perajut Mimpi (Dekos, Aning, Paramytha, Kristina, Maylinca dan Dian) mendayagunakan imajinasi laiknya sutradara. Karya art fashion mereka, sebuah upaya dekonstruksi dari cerita lama untuk melahirkan kisah baru.

Komunitas Konstelasi Seni dan Fashion (Elsye, Meliana, Dewi, Laksmi, dan Intan) mengedepankan kesadaran bahwa fashion dan Fine Art memiliki relasi yang kuat. Keduanya tidak dapat dipisahkan, sisi-sisinya saling melengkapi membentuk gugusan estetis yang memiliki narasi dengan jangkauan tafsir yang bebas dan luas.

Komunitas Pattern Dictionary (Niken, Trifena, Desi, Enny dan Febria) membaca kembali siklus yang terjadi dalam perkembangan fashion dunia. Komunitas ini menyulam sebuah rangkaian cerita tentang fashion dari masa ke masa. Sebuah siklus yang acap kali berulang seolah sedang mencari sebuah penyempurnaan.

Komunitas Thread’s Expression (Anna, Dwi, Novi, Awan, Irma dan Dayu Yopi) merupakan komunitas yang mencoba menghadirkan karya ekspresif melalui penerapan teknik sulam dengan penggunaan benang, mengekspos karakter dari berbagai jenis benang yang digunakan. Warna dan tekstur benang coba ditonjolkan sebagai wujud ekspresi dalam sebuah karya art fashion.

Komunitas Black String (Yuniorika, Muji, Vivin, Sulistyaningsih, Dwi Anita dan Sekarsari) mencoba bermain dengan warna monokromatik. Mengekspos detail garis yang tegas dan dinamis, menghadirkan karya yang sederhana namun elegan dan berkarakter.

Komunitas Seni Lukis Sulam Negara, fokus pada penciptaan karya seni lukis menggunakan teknik sulam. Komunitas yang terdiri dari puluhan warga Negara ini terbentuk dilatarbelakangi oleh hobi dan pekerjaan yang sama, yaitu pembuatan ider-ider dan wastra. Karya-karya mereka merupakan sumber gagasan dan ide atas terbentuknya komunitas sulam lain yang terlibat dalam pameran ini.

Rico Anantha, fashion designer yang telah menghasilkan berbagai jenis karya fashion dan malang melintang dalam kancah fashion dunia. Pada kesempatan ini Rico akan mengekplorasi sisi fine art dalam dirinya untuk menghasilkan perpaduan karya fashion design dan fine art.

Tiartini Mudarahayu, seniman muda yang kerap terlibat dalam berbagai ajang pameran, menjadikan teknik sulam sebagai salah satu teknik dalam mewujudkan karya seninya beberapa tahun terkahir. Bagi Tiar, gesekan antara benang, jarum dan kain dalam proses menyulam menghadirkan nuansa ritmis.

Ksatria Pinanditha, sinematografer muda yang telah menghasilkan beberapa film dan video. Tria juga terlibat dalam beberapa kolaborasi dengan seniman dan desainer dalam penggarapan karyanya. Dengan kemampuan sinematografi yang dimilikinya, Tria mencoba menghadirkan nuansa baru dalam sebuah artfashion film yang melibatkan seluruh seniman dan narasumber yang terlibat dalam event ini.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s