Kelas Kreatif Bentara MENGULAS FILM: SCORING DALAM SINEMA

Minggu, 11 Juni 2017, pukul 15.00 WITA

Bentuk nyata dari keterikatan dunia musik dengan dunia film ada dalam musik latar (Film Score). Berbeda dengan musik biasanya, film score adalah musik orisinil yang memang dibuat untuk mengiring gambar atau visual dari sebuah film. Bentuknya bisa berupa soundtrack, dialog, sound effects, atau bahkan hanya berupa potongan perpaduan suara instrumental yang dapat meningkatkan dramatisasi suatu adegan. Bentuk film score berupa perpaduan instrumental (tanpa lirik) memang lebih banyak kita temukan saat ini.

Film Score sudah bermula sedini tahun 1940-an silam, awalnya berbentuk penampilan live orkestra yang mengiringi pemutaran film bisu. Penggabungan dari dua elemen yakni visual dan audio merupakan penemuan yang hebat di masa itu. Tidak ada pemisahan antara apa yang kita lihat dengan apa yang kita dengar serta membawa imajinasi pemirsa di dalam menikmati dan meresapi film secara lebih mendalam.

Selain berfungsi mengiringi suatu adegan dalam film, film score juga harus dapat merealisasikan konsep atau nuansa dari film itu, serta melibatkan emosional penontonnya untuk tenggelam ke dalam nuansa tersebut lewat suara. Konsep atau nuansa yang dibentuk dari film score dapat menggambarkan situasi, lokasi, waktu dan emosi karakter dalam sebuah adegan.

Pada Kelas Kreatif Bentara kali ini, I Made Adnyana (pengamat musik sekaligus pendiri Bali Music Magazine) dan Erick EST (filmmaker dan sutradara video klip) akan berbagi pengalaman dan pemahaman tentang scoring dalam sinema. Akan ditelisik juga lebih jauh, bagaimana scoring film menjadi cerminan transformasi yang terjadi pada masyarakat film Indonesia atau dunia? Juga bagaimana scoring film sebagai profesi yang berhubungan dengan sutradara, serta ragam kolaborasi kreatif macam apa yang dapat dikembangkan di era digital sekarang ini?

I Made Adnyana lahir di Pupuan, Tabanan, 23 Oktober 1971, mengawali ketertarikan dengan film sejak masih kanak-kanak. Kegemaran menonton dan mengamati film dari beragam genre, berlanjut hingga dewasa, hingga rutin menulis resensi film di Bali Post Minggu, 1993-2004. Ia juga sempat menggeluti dunia jurnalistik dan bergabung di beberapa media. Hingga kini menjadi pengajar tetap rumpun mata kuliah jurnalistik di IKIP PGRI Bali. Selain menulis naskah dan belajar menjadi sutradara, ia juga turut terlibat dalam pengambilan gambar dan penyuntingan sejumlah karya seperti “Senyum Itu” (2005), “Maaf, Aku Pernah Melupakanmu” (2008), “Kami Pasti Pulang” (2009), “Beri Kami Cahaya” (2010), “Bulan Tertutup Awan” (2011), “Cerita untuk Kawan” (2012) dan “Mentari kan Bersinar Lagi” (2013).

Erick Est yang memiliki nama lengkap Erick Ebert Sabungan Tambunan ini lahir pada 7 Februari 1980. Pria asal Medan ini dikenal sebagai sutradara video klip dan film pendek. Tercatat setidaknya 280 video klip dan 20 film telah digarapnya, antara lain video klip band The Wheels, Navicula,Superman Is Dead dan Taboo, termasuk milik bintang Norwegian Idol, Jonas Thomassen. Tahun 2004 ia mengikuti Festival Film 15:15 Australia dan film pendeknya berjudul “Rapuh” berhasil meraih predikat film terbaik. Ia juga meraih penghargaan “The Best Video Klip 6th Bite My Music Global Awards 2012 Malaysia (Blue Bird And Skoko) dan Video Klip Band Prophese 2010 (Africa Selatan).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s