Bali Tempo Doeloe #18 RAGAM SENI AKULTURASI

Sabtu, 10 Juni 2017, pukul 19.00 WITA

Masyarakat Pulau Dewata mengalami transformasi yang panjang – dari budaya agraris komunal yang guyub dan hangat menuju masyarakat modern yang berbasis industri pariwisata dengan kecenderungan individual. Banyak seniman Bali melakukan respon kreatif atas fenomena itu dari era klasik hingga modern dan kontemporer belakangan ini. Dengan kata lain, pergulatan mereka merefleksikan proses lintas budaya (trans-culture) serta silang budaya (cross-culture) yang mempertautkan nilai-nilai warisan leluhurnya (tradisi) dengan nilai-nilai budaya lain.

Pada sebagian karya-karya tersebut, kita dapat meresapi suatu capaian yang bersifat asimilasi, mengandaikan adanya pertemuan berbagai kultural, menghasilkan sesuatu yang baru dengan unsur dasar yang dianggap telah luluh. Di sisi lain, sebagian karyanya membuahkan nilai-nilai baru yang akulturatif, dengan unsur-unsur yang dapat dilacak ke asal muasalnya.

Bagaimanakah proses cipta itu berlangsung, ragam seni akulturasi macam apa yang mengemuka? Bagaimana pula upaya para kreator itu meraih orisinalitas namun tetap berakar pada nilai-nilai filosofi Bali yang hakiki, mengekspresikan bagian diri yang komunal dan juga sisi lain dirinya yang modern-individual?

Bali Tempo Doeloe #18 ini akan membincangkan ragam seni akulturasi di Bali berikut proses panjangnya. Bila pada acara Bali Tempo Doeloe sebelumnya membahas tentang peradaban pesisir Bali Utara dengan tinggalan-tinggalan historisnya yang bersifat akulturatif, kali ini kita akan bertimbang pandang perihal pengaruh unsur-unsur budaya Cina dan budaya lain yang mewarnai proses transformasi budaya dan ragam seni yang berkembang di Bali. Misalnya keberadaan Baris Cina di Sanur dengan kostum dan ornamentiknya yang unik, seni barong di Singapadu, termasuk berbagai ragam arsitektur dan seni ukir Bali yang mendapat pengaruh asing seperti Meru yang diperkirakan mendapat pengaruh arsitektur Cina. Seni ukir dengan pola sulur atau tumbuhan dengan batang yang merambat disebut patra Cina juga dianggap sebagai pengaruh budaya Cina.

Layak dicatat pula pengaruh seniman-seniman asing yang datang belakangan di era Hindia Belanda yang mendorong olah cipta bersifat akulturatif pula, semisal: Walter Spies (Jerman), Rudolf Bonnet (Belanda), Antonio Blanco (Spanyol), Andrien Jean Le Mayeur (Belgia), Adrianus Wilhelmus Smit (Belanda), dan lainnya.

Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. I Gede Mudana, M.Si, Kepala Unit Publikasi Ilmiah Politeknik Negeri Bali yang juga Dosen Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali dan Pascasarjana Universitas Udayana serta Pascasarjana ISI Denpasar. Lahir di Karangasem, 2 Desember 1964, ia menamatkan studi S1 di Fakultas Sastra Universitas Udayana pada tahun 1988 dan kemudian menempuh IATA-UFTAA Diploma, Adelaide, Australia (1989). Ia menyelesaikan Program Magister Kajian Budaya di Universitas Udayana (2000) dan Program Doktor Kajian Budaya di universitas yang sama (2005).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s