Sinema Bentara #KhususMisbar GURU: DIGUGU DAN DITIRU

Kamis- Jumat, 18 – 19 Mei 2017, pukul 17.00 WITA

Sinema Bentara kali ini merujuk tajuk perihal Guru, didamba sebagai panutan yang layak digugu dan ditiru. Bukankah kemajuan sebuah bangsa tidak terlepas dari peran guru yang membentuk karakter generasi penerus? Tanpa figur pendidik penuh dedikasi serta sabar mengayomi, bolehlah dikata tak akan lahir generasi yang tercerahkan sebagaimana catatan sejarah pendirian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Ir. Soekarno, Presiden RI pertama, di dalam bukunya yang sohor itu, “Di bawah Bendera Revolusi”, menyatakan bahwa alangkah hebatnya pekerjaan seorang guru, menjadi pemimpin di sekolah, membentuk akal dan jiwa anak-anak didiknya, dan dari tangannyalah lahir seorang manusia yang utuh.

Bermacam-macam kisah tentang guru yang menjadi teladan kita, tidak jarang menginspirasi sineas-sineas Indonesia bahkan dunia untuk mengangkat peran mulianya ke layar lebar. Kisah biopik Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang melahirkan banyak intelektual muda Indonesia kala itu, seperti: Soekarno, Semaoen, Kartosoewirjo, dihadirkan dengan audio visual yang mumpuni oleh sutradara Garin Nugroho pada tahun 2015.

Namun, dibalik harum penghargaan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, guru adalah seorang manusia biasa. Dalam kehidupan kesehariannya, juga mengalami aneka problematik dan kesulitan, bahkan kerap berhadapan dengan situasi yang dilematik: antara menjaga idelisme dan perannya yang mulia atau terpaksa bersikap realistis demi mengatasi masalah yang merundungnya.

Kisah pelik menjadi seorang guru yang menghadapi otoritas kekuasaan dan perasaan bersalah ketika melakukan hal yang melenceng dari norma dan hukum, diangkat oleh sutradara kenamaan Indonesia, Sjuman Djaja melalui film ‘Si Mamad’ (1973). Film ini meraih penghargaan Piala Citra pada FFI 1974 sebagai Film Terbaik dan Pemeran Utama Pria Terbaik.

Selain film Si Mamad, Sinema Bentara kali ini juga menghadirkan film-film fiksi dan dokumenter tiga negara yang mengangkat kisah-kisah seputar guru dan pendidikan berikut problematik kehidupan kesehariannya. Film-film yang akan diputar tersebut telah meraih sejumlah penghargaan, baik tingkat nasional maupun internasional, di antaranya: Sokola Rimba (Indonesia, Fiksi, 2013, Durasi: 90 menit, Sutradara: Riri Riza); Sokola Dilao (Indonesia, Dokumenter, 2015, Durasi: 13 menit, Sutradara: Tomy Almijun Kibu); Être et avoir/ To Be and To Have (Prancis, Dokumenter, 2002, Durasi: 104 menit, Sutradara: Nicolas Philibert); dan Do Dooni Chaar (India, Fiksi, 2010, Durasi: 110 menit, Sutradara: Habib Faisal).

Sinema Bentara kali ini memaknai Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei sekaligus Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Film-film yang dipilih mencerminkan semangat kedua hari nasional itu, yaitu dalam pengertian ‘mulia’ sehari-hari serta ‘Guru Bangsa’ yang mencerahkan masyarakat, sebagaimana tergambarkan melalui sosok Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Al Asy’ari, Dr. Soetomo, dr. Wahidin Soedirohusodo, dan lain-lain.
Program ini didukung oleh Pusat Perfilman Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling – BPNB Bali, NTB, NTT – Kemendikbud RI, Program Fasilitasi Produksi Film Pendek 2015 dari Pusat Pengembangan Perfilman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pusat Kebudayaan Prancis – Alliance Française de Bali, Indian Cultural Centre Bali, Konsulat Jenderal India di Denpasar, serta Udayana Science Club.

Sinema Bentara kali ini masih digelar dengan konsep misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang guyub dan hangat. Dimeriahkan pula dengan Pasar Kreatif Misbar dan pertunjukan musik dari anak-anak muda yang berprestasi di bidangnya. Selain pemutaran film, kegiatan ini akan dimaknai dengan diskusi bersama Gede Basuyoga Prabhawita, S.Sn,M.Sn.

Gede Basuyoga Prabhawita, S.Sn,M.Sn. merupakan Dosen Jurusan Film dan Televisi FSRD Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Ia menempuh studi S-1 bidang Televisi dan Film di ISI Surakarta dan menyelesaikan program magisternya pada bidang Penciptaan Film di ISI Surakarta. Ia memperoleh penghargaan sebagai penata kamera pada Karya Terbaik I Film “Valdano” , Seni Media Rekam dalam Kegiatan Pameran Seni Rupa Dies Natalies ISI Surakarta ke-46, sebagai penulis naskah “Pilihanku” yang memperoleh penghargaan Film Terbaik Salam Award I ISI Surakarta (2011), Film Terfavorit Salam Award I ISI Surakarta (2011), Nominasi Tarung Solo Festival Film Solo (2012), Nominasi Salatiga Film Festival (2012) dan sebagai penulis naskah pada video “Menebar Kasih Menuai Cinta”, Juara I Kontes Video Iklan Layanan Masyarakat “Great Love Award 2016” oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat.

SINOPSIS FILM
SI MAMAD (Indonesia, Fiksi, 1973, Durasi: 110 menit, Sutradra: Sjuman Djaja)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Mamad (Mang Udel) adalah seorang guru yang terpaksa melanggar kejujuran dirinya dengan berkorupsi kecil-kecilan, seperti mencuri kertas kantor untuk menghadapi kelahiran bayinya yang ketujuh. Perbuatan ini ternyata malah menyiksa dirinya apalagi ketika ia hendak menjelaskan duduk perkaranya kepada atasannya (Aedy Moward), yang bersikap realistis namun sebenarnya mengerti keadaannya. Mamad yang selalu diganggu perasaan bersalah belum bisa lega hatinya sebelum bisa menjelaskan masalahnya, sementara kesempatan untuk itu selalu lepas, bahkan puncaknya dirasakan sangat mengganggu oleh atasannya.

Si Mamad memenangkan Piala Citra pada FFI 1974 antara lain sebagai Film Terbaik (dengan pujian) dan Pemeran Utama Pria (dengan pujian). Film ini didasarkan pada cerita pendek karangan penulis Rusia, Anton Chekhov, yang berjudul Matinya Seorang Pegawai Negeri, sebuah kisah tentang Ivan Dmitritch Tchervyakov.

Tentang Sutradara:
Sjuman Djaja merupakan sutradara sekaligus penulis sohor asal Indonesia. Ia dilahirkan di Jakarta, 5 Agustus 1934 dan wafat pada 19 Juli 1985. Ia sempat menempuh pendidikan di All Union State Institute of Cinematography, Moskow, Rusia pada rentang tahun 1959 – 1964. Sewaktu masih duduk di Taman Madya, Sjuman sering main sandiwara. Pertengahan ’50-an banyak menulis cerpen, sajak dan esai sastra. Ia kemudian turut main dalam beberapa film sebagai figuran. Tahun 1956 karyanya “Kerontjong Kemajoran” di filmkan dengan judul “Saodah”. Kerja di Persari di bidang Penulisan, kemudian menjadi Asisten Sutradara untuk film “Anakku Sajang” (1957).

Karya film Sjuman yang juga mendapat penghargaan adalah cerita terbaik untuk “Laila Majnun” (1975) dalam FFI 1976 di Bandung, Sutradara Terbaik pada film “Si Mamad” (1973) dalam FFI 1974, dan pada FFI 1977 di Jakarta terpilih sebagai sutradara terbaik lewat karyanya “Si Doel Anak Modern” (1976). Semua film-film yang disutradarainya, skenarionya ditulisnya sendiri, termasuk “Pinangan” (1976) dan “Yang Muda Yang Bercinta” (1977).

SOKOLA RIMBA (Indonesia, Fiksi, 2013, Durasi: 90 menit, Sutradara: Riri Riza)
Didukung oleh Bioskop Keliling BPNB Bali, NTB,NTT – Kemendikbud RI

Setelah hampir tiga tahun bekerja di sebuah lembaga konservasi di wilayah Jambi, Butet Manurung (Prisia Nasution) telah menemukan hidup yang diinginkannya, mengajarkan baca tulis dan menghitung kepada anak-anak masyarakat suku anak dalam, yang dikenal sebagai Orang Rimba, yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Duabelas. Suatu hari Butet terserang demam malaria di tengah hutan, seorang anak tak dikenal datang menyelamatkannya. Nyungsang Bungo (Nyungsang Bungo) nama anak itu, berasal dari Hilir sungai Makekal, yang jaraknya sekitar 7 jam perjalanan untuk bisa mencapai hulu sungai, tempat Butet mengajar. Akankah Bungo bisa turut belajar membaca, di tengah berbagai hal yang membatasinya?

Sokola Rimba meraih penghargaan Film Terbaik Piala Maya 2013, Pemeran Utama Wanita Terfavorit Indonesian Movie Awards 2014, dan Nominasi Pemeran Anak Terbaik Indonesian Movie Awards 2014.

Tentang Sutradara:
Riri Riza merupakan seorang sutradara, penulis naskah, produser film kelahiran Makassar, 2 Oktober 1970. Ia menamatkan studi filmnya di Institut Kesenian Jakarta. Film bertajuk Kuldesak (1998) merupakan film besutannya pertamanya, ia garap bersama Nan Achnas, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani. Film tersebut telah mendapatkan nominasi untuk Silver Screen Award – Best Asian Feature Film dalam Singapore International Film Festival tahun 1999. Ia kemudian semakin dikenal luas dalam beberapa film garapannya, seperti Petualangan Sherina (2000), Eliana Eliana (2002), Gie (2005), Untuk Rena (2005), 3 Hari untuk Selamanya (2007), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009) Atambua 39° Celcius (2012), Sokola Rimba (2013), Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016). Berkat karyanya ia telah memperoleh banyak penghargaan seperti pada ajang Piala Citra, ASEAN International Film Festival and Awards, Asia-Pacific Film Festival, Brussels International Independent Film Festival, Singapore International Film Festival, Vancouver International Film Festival, dan lain-lain. Film terbarunya yang bertajuk Athirah (2016) telah memenangkan 6 Piala Citra tahun 2016 lalu.

SOKOLA DILAO
(Indonesia, Dokumenter, 2015, Durasi: 13 menit, Sutradara: Tomy Almijun Kibu)
Didukung oleh Program Fasilitasi Produksi Film Pendek 2015, Pusat Pengembangan Perfilman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Penyeragaman kurikulum pendidikan di negeri ini kerap dilaksanakan tanpa melihat kebutuhan lokal peserta didiknya. Hal ini menjadikan banyak anak negeri yang lupa akan nilai-nilai lokal. Sadar akan hal itu, sekelompok pemuda Suku Bajo Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara mendirikan Sikola Dilao, untuk mendidik anak-anak Bajo tentang kerifan lokal Suku Bajo demi kehidupan mereka yang lebih baik.

ÊTRE ET AVOIR/ TO BE AND TO HAVE
(Prancis, Dokumenter, 2002, Durasi: 104 menit, Sutradara: Nicolas Philibert)
Didukung oleh Pusat Kebudayaan Prancis, Alliance Française de Bali

Film dokumenter ini merekam kegiatan sebuah sekolah di sebuah desa kecil Saint-Etienne sur Usson, Auvergne, yang saat itu populasi penduduknya sekitar 200 orang saja. Desa ini hanya memiliki satu ruang kelas, di mana murid-muridnya yang berusia 4 – 11 tahun diajar oleh seorang guru yang sabar dan memiliki dedikasi tinggi bernama Mr. Lopez.

Film ini ditayangkan pada Cannes Film Festival 2002 dan meraih sejumlah penghargaan di antaranya: Sacramento French Film Festival Audience Prize 2003, Best Editing pada César Awards, Prancis 2003, Film Dokumenter Terbaik pada: French Syndicate of Cinema Critics 2003, National Society of Film Critics Awards, USA 2004, Prix Louis Delluc 2002, Valladolid International Film Festival 2002, dan Étoiles d’Or, Prancis 2003.

Tentang sutradara:
Nicolas Philibert, merupakan sutradara sekaligus aktor kelahiran Prancis, 10 Januari 1951. Ia dikenal luas melalui beberapa film diantaranya: Être et avoir / To Be and to Have (2002), In the Land of the Deaf (1992) dan La Maison de la radio (2013). Film Être et avoir, tentang kehidupan sehari-hari di sekolah kelas satu di sebuah desa kecil di Auvergne. Film ini memenangkan Prix Louis Delluc 2002, dan menjadi box office di Prancis dan di kancah internasional. Film ini diputar dari kompetisi di Festival Film Cannes 2002.

DO DOONI CHAAR (India, Fiksi, 2010, Durasi: 110 menit, Sutradara: Habib Faisal)
Didukung oleh Indian Cultural Centre Bali dan Konsulat Jenderal India di Denpasar

Hidup bisa sulit bagi seorang pria (Rishi Kapoor) yang berprofesi sebagai guru dan mengajar di sebuah sekolah untuk mencari nafkah. Ia tinggal di sebuah flat sederhana di Lajpat Nagar, Delhi dan menghadapi tingkat inflasi yang tinggi, sedangkan penghasilannya hanya bertambah sedikit. Sebagai seorang ayah, ia memiliki seorang putri remaja yang sedang bertumbuh dan dan seorang istri (Neetu Kapoor) yang mendambakan kehidupan lebih baik. Akankah ia dapat memenuhi dan mewujudkan impian istri dan anak-anaknya?

Film ini meraih empat penghargaan sekaligus pada Filmfare Awards 2011 seperti: Aktor Terbaik, Dialog Terbaik, Desain Produksi Terbaik, dan Desain Kostum Terbaik. Film ini juga memenangkan Film Fiksi Terbaik pada National Film Awards, India 2011.

Tentang sutradara:
Habib Faisal, merupakan seorang penulis naskah dan sutradara asal India. Ia menyutradarai serial televisi Lavanya dan sempat bekerja di New Delhi sebagai videografer di NDTV. Ia dikenal luas sebagai sutradara melalui film Do Dooni Chaar, yang telah memenangkan penghargaan Filmfare for Best Dialogue tahun 2011. Ia turut menulis naskah beberapa film di India yang sukses meraih box office.

Jadwal Pemutaran Film
Kamis, 18 Mei 2017
17.00 Wita Si Mamad
18.50 Wita Pertunjukan Musik
19.00 Wita Sikola Dilao
19.15 Wita Do Dooni Chaar

Jumat, 19 Mei 2017
17.00 Wita Être et avoir (To Be and To Have)
18.45 Wita Pertunjukan Musik
19.00 Wita Diskusi Sinema
19.45 Wita Sokola Rimba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s