Sinema Bentara #KhususMisbar “BUKAN PEREMPUAN BIASA”

Jumat – Sabtu, 21 – 22 April 2017, pukul 17.00 WITA

Sinema Bentara kali ini menghadirkan film-film seputar sosok perempuan, dalam aneka peran dan perspektifnya, merujuk tajuk “Bukan Perempuan Biasa”, yang berangkat dari sebuah judul sinetron yang kali pertama dilakoni bintang sohor Christine Hakim, memerankan sosok perempuan ulet dan gigih serta mandiri meski ditinggal oleh suaminya. Bukan Perempuan Biasa (1997) disutradarai oleh Jajang C. Noer dan skenarionya digarap oleh Arifin C. Noer.

Sepanjang sejarah perfilman, tidak jarang kehadiran sosok perempuan hanya dianggap sekadar pemanis visual. Namun patut pula dicatat ada sejumlah sutradara justru menjadikan perempuan sebagai sosok sentral dengan karakteristik mendalam serta memiliki ‘ketangguhan’ yang melampaui peran lelaki. Sutradara sohor dunia, Vittorio de Sica menghadirkan sosok perempuan single-parent yang tangguh bersahaja, melindungi putrinya di tengah kecamuk Perang Dunia Kedua lewat film La Ciociara (Two Women/ Dua Perempuan). Film tersebut memenangkan penghargaan Aktris Terbaik untuk Sophia Loren pada Academy Award dan Festival Film Cannes 1961 serta 22 penghargaan internasional lainnya.

Sinema Bentara April ini memaknai perayaan Hari Kartini. Kita akan menyaksikan penampilan cemerlang Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo lewat film Pasir Berbisik (Indonesia, 2001, Nan Achnas). Film tersebut meraih penghargaan Best Cinematography Award, Best Sound Award dan Jury’s Special Award For Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacific 2001. Dian Sastrowardoyo sendiri setelah Ada Apa Dengan Cinta 2, bermain sebagai Kartini dalam film besutan sutradara Hanung Bramantyo akan ditayangkan perdana bulan April tahun ini.

Disamping itu, akan ditayangkan pula sejumlah film lintas bangsa peraih berbagai penghargaan nasional dan internasional yang merefleksikan ketangguhan sosok perempuan di tengah kemelut hidup yang serba tidak mudah. Film-film tersebut di antaranya: Marguerite (Prancis, 2015, Sutradara: Xavier Giannoli); Four Minutes (Jerman, 2006, Sutradara: Chris Kraus); dan La Ciociara (Italia, 1960, Sutradara: Vittorio De Sica).

Sejalan dengan visi Bentara Budaya yang memberikan ruang bagi karya-karya baru dari berbagai budaya bangsa, kalangan, serta latar belakang berbeda, dihadirkan pula sebuah film pendek arahan sutradara muda Indonesia, Ridho Nvgroho bertajuk Harti (2016), mengisahkan sosok petani perempuan yang berupaya menghidupi putrinya seorang diri karena ditinggal suaminya. Pemutaran film pendek ini bekerjasama dengan UI Film Festival.

Program ini juga didukung oleh Sinematek Indonesia, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, serta Udayana Science Club. Sebagaimana bulan-bulan sebelumnya, Sinema Bentara kali ini masih diselenggarakan dengan konsep misbar, mengedepankan suasana nonton film bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Pemutaran film ini juga dimaknai diskusi sinema bersama Desak Putu Yogi Antari Tirta Yasa, S.Sn, M.Sn.

SINOPSIS FILM

PASIR BERBISIK
(Indonesia, 2001, Durasi: 106 menit, Sutradara: Nan Achnas)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Pasir Berbisik mengisahkan kehidupan seorang gadis bernama Daya (Dian Sastrowardoyo) tinggal bersama ibunya, Berlian (Christine Hakim) yang hidup di daerah pesisir pantai berpasir hitam di sebuah kawasan terasing. Ayah Daya, Agus pergi menghilang entah kemana saat Daya masih kecil. Daya yang kesepian, sering membayangkan sosok ayahnya saat masih kecil dengan wayang-wayang yang biasa dimainkan ayahnya. Dalam keanehannya, Daya tumbuh sebagai gadis yang introvert, lugu dan polos memiliki kebiasaan yang aneh yaitu menempelkan telinganya di atas pasir, seolah pasir itu berbisik kepadanya.

Film ini meraih penghargaan Best Cinematography Award, Best Sound Award dan Jury’s Special Award For Most Promising Director untuk Festival Film Asia Pacific 2001; Festival Film Asiatique Deauville 2002 untuk Artis Wanita Terbaik; Festival Film Antarabangsa Singapura ke-15 untuk Artis Wanita Terbaik; Festival Film Indonesia 2004 meraih nominasi di 8 kategori: Film Terbaik, Aktris Terbaik (Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim), Aktor Pendukung Terbaik (Didi Petet dan Slamet Rahardjo), Aktris Pendukung Terbaik (Dessy Fitri), Sinematografi Terbaik (Yadi Sugandi), Tata Artistik Terbaik (Frans X.R. Paat), Tata Musik Terbaik (Thoersi Agreswara), dan Tata Suara Terbaik (Adimolana Machmud dan Hartanto).

MARGUERITE
(Prancis, 2015, Durasi: 2 jam 9 menit, Sutradara: Xavier Giannoli)
Didukung oleh Alliance Française de Bali

Film ini bersetting di Paris, 1920-an. Marguerite Dumont merupakan seorang wanita paruh baya kaya raya yang memiliki krisis eksistensi diri. Ia pecinta musik dan opea. Ia gemar bernyanyi untuk teman-temannya meskipun ia bukan penyanyi yang baik. Suami dan teman-temanya selalu memuji dan menjaga mimpinya. Masalah mulai muncul saat ia memutuskan untuk tampil di panggung yang sesungguhnya.

Film ini meraih penghargaan Nazareno Taddei Award pada Venice Film Festival 2015, nominasi Golden Lion pada Venice Film Festival 2015; Aktris Terbaik, Kostum Terbaik, Desain Produksi Terbaik, Musik Terbaik pada César Awards, Prancis 2016; Pemain Wanita Terbaik pada Lumiere Awards – Prancis 2016.

FOUR MINUTES
(Jerman, 2006, Durasi: 112 menit, Sutradara: Chris Kraus)
Didukung oleh Goethe Institut Indonesien

Traude Krueger bekerja sebagai pengajar piano di penjara khusus wanita. Sembari menyeleksi murid barunya, ia bertemu dengan Jenny Von Loeben. Ketika Traude memberitahu bahwa Jenny tak bisa mengikuti kelas musik karena tangannnya yang kasar dan sikapnya yang tak kooperatif, Jenny membuktikan kemampuannya.

Film ini meraih penghargaan Aktris Terbaik, Aktris Pendatang Baru Terbaik, Skenario Terbaik, dan Sutradara Terbaik pada Bavarian Film Awards 2006, Film Terbaik pada Shanghai International Film Festival 2006 dan Reykjavik International Film Festival 2006; Penampilan Terbaik untuk Pemeran Wanita pada German Fil m Awards 2007.

LA CIOCIARA / TWO WOMEN
(Italia, 1960, Durasi: 100 menit, Sutradara: Vittorio De Sica)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Film ini mengisahkan tentang cerita seorang wanita yang berusaha untuk melindungi putrinya dari kekejaman perang dunia kedua. La Ciociara memenangkan Academy Award untuk Aktris Terbaik untuk Sophia Loren. Peristiwa tersebut merujukan pertama kalinya sebuah penghargaan Oscar kategori Aktris Terbaik diberikan untuk film berbahasa asing. Loren juga memenangkan penghargaan untuk Aktris Terbaik di Festival Film Cannes 1961 dan meraih 22 penghargaan internasional lainnya lewat film Two Women.

HARTI
(Indonesia, 2016, Durasi: 14 menit, Sutradara: Ridho Nvgroho – UIN Sunan Kalijaga)
Didukung oleh UI Film Festival

Harti merupakan janda beranak satu. Suaminya telah meninggal dan mewariskan sebidang sawah. Harti berniat melanjutkan menggarap sawah tersebut guna menghidupinya beserta sang anak. Namun suatu saat Harti menemukan sebuah benda asing di tengah sawahnya. Sebuah benda yang terlihat remeh namun sebenarnya memiliki arti lebih. Film ini terpilih menjadi finalis pada UI Film Festival 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s