OBITUARI MAESTRO IDA BAGUS OKA BLANGSINGA

Pertunjukan, Pameran Memorabilia, Tayang Dokumentri dan Testimoni
Sabtu, 29 April 2017, pukul 19.00 WITA
Pameran berlangsung : 30 April – 5 Mei 2017, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Obituari kali ini dipersembahkan bagi maestro tari Kebyar Duduk, Ida Bagus Oka Wirjana atau yang lebih dikenal dengan Ida Bagus Oka Blangsinga. Penari kelahiran Banjar Blangsinga, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh tahun 1929 ini berpulang pada 3 Februari 2017 lalu di usia 87 tahun. Pada tahun 2013 lalu sempat pula digelar di Bentara Budaya Bali sebuah acara bertajuk “Tribute to Maestro Blangsinga: 75 Tahun Berkarya”. Selain pertunjukan tari alih generasi, dimaknai pula berbagai respon kreatif dari sejumlah perupa dan fotografer.

Sejak masih sangat belia Ida Bagus Oka Wirjana sudah belajar menari Baris di bawah bimbingan pamannya Ida Bagus Kompiang. Tari Kebyar Duduk dipelajarinya secara diam-diam, otodidak, melalui pengamatan langsung sewaktu maestro I Ketut Marya (Mario) berlatih atau pentas. Kala itu semasa penjajahan Jepang dan Ida Bagus Oka Wirjana masih duduk di Sekolah Rakyat di Tabanan. Sewaktu mempelajari secara mendalam Kebyar Duduk, Ida Bagus Oka Wirjana kemudian banyak mendapatkan bimbingan dari tokoh-tokoh kesenian di Gianyar seperti Anak Agung Gede (Puri Sukawati), Cokorde Oka (Puri Singapadu), Bapak Geriya, dan Bapak Geredek (Singapadu).

Sebagai rangkaian dari Obituari ini akan ditayangkan dokumenter sosok Ida Bagus Oka Wirjana, pertunjukan Tari Baris oleh I Wayan Purwanto serta Tari Kebyar Duduk oleh Ida Ayu Triana Titania Manuaba. Keduanya merupakan murid Ida Bagus Oka Wirjana. Pertunjukan tari ini akan diiringi sekaa gong Pinda pimpinan I Ketut Cater.

Selain itu, akan ditampilkan pula pameran memorabilia Ida Bagus Oka Wirjana dan testimoni dari keluarga serta sahabat. Adapun Seniman yang karya-karyanya dipamerkan yakni:
Doddy Obenk, Tjandra Hutama K, D P Arsa Putra, Komang Parwata SSn., I Gusti Agung Wijaya Utama SSn., Dechi IDK Rudita Widia Putra, Windujati, I Putu Apriwidana, Adriaan Palar, Ida Bagus Alit, Carola Vooges, Irina, Miranda Risang Ayu Palar, Dushanka, Luciana Ferrero, Yoko Yamada, Kaori Ohiya (Inaba).

Secara khusus, Dr. I Made Bandem dan Dr. I Wayan Dibya, dua budayawan sekaligus maestro seni Bali juga akan berbagi pandangannya perihal kiprah serta capaian Ida Bagus Oka Wirjana selama ini, berikut sumbangsihnya terhadap dunia kesenian di Bali. Program ini merupakan kerjasama dengan Yayasan Ida Bagus Oka Blangsinga.

Sedari muda Ida Bagus Oka Wirjana telah tampil menari di Istana Kepresidenan masa Soekarno dan menjadi duta negara dalam kunjungan di Eropa, Asia, Amerika, dan Jepang. Pada tahun 1954, bersama Made Darmi Rupawati, Gadung Arwati dan Gusti Ayu Manjawati, Oka Blangsinga mewakili Indonesia dalam sebuah Festival Tari di Pakistan. Ia juga pernah tampil di Hawai, Tokyo, Hongkong, Singapura bersama Sekaa Gong Sanur (1962), juga ke Swedia (Stockholm) pada tahun 1991. Atas dedikasinya berkesian, Ida Bagus Oka Wirjana memperoleh sejumlah penghargaan antara lain dari Panglima Daerah Angkatan Kepolisian XVI Nusa Tenggara Barat (1969), sekolah-sekolah di Kota Nara Jepang (1981), Wija-Kesuma dari Bupati Gianyar (1985), Dharma Kusuma Media dari Gubernur Bali (1987), Penghargaan dari Gubernur Sapporo Jepang (1988), Penghargaan dari Dewan Kesenian Pusat Jakarta (1999), SIWA NATARAJA dari Institut Seni Indonesia Denpasar (2008).

Obituari adalah sebuah program yang diniatkan sebagai penghormatan pada dedikasi, totalitas dan capaian para seniman lintas bidang. Selain menghadirkan kembali karya-karya masterpieces yang bersangkutan, dibincangkan juga warisan kreativitas sang seniman, berikut sumbangsihnya pada kemajuan seni budaya. Program Obituari ini ditandai pula acara testimoni dari rekan dan sahabat, yang merefleksikan kehangatan persahabatan serta pergaulan kreatif mereka selama ini. Bentara Budaya Bali pernah menggelar acara Obituari bagi penyair Wayan Arthawa, pelukis Wahyoe Wijaya, kurator seni rupa Thomas Freitag, koreografer dan penari I Nyoman Sura, pematung I Ketut Muja, serta kartunis dan cerpenis I Wayan Sadha, aktor teater Kaseno dan pelukis Tedja Suminar.

Profil Seniman & Narasumber :

Ida Ayu Triana Titania Manuaba (Gek Nia), lahir pada tanggal 27 September 1998. Menjalani pendidikan di Institut Seni Indonesia Denpasar Bali. Merupakan cucu dari Ida Bagus Blangsinga, sebagai seniman muda dengan berbagai bakat yang diturunkan oleh kakeknya mulai banyak mendapatkan prestasi dan penghargaan dibidang seni.Sejumlah prestasi yang diraihnya antara lain: Putri kampus Institut Seni Indonesia(2016), Juara 3 tari Teruna Jaya se Bali (2016), Mengikuti festival seni di Enoshima japan, Enoshima Bali Sunset (2015), Juara 1 Tari Oleg Tamulilinganse Bali (2014) dan Juara 4 Lomba Vocal group tingkat Nasional (2012).

I Wayan Purwanto, koreografer dan penari, lahir di Singapadu, 17 November 1968. Menamatkan pendidikan di STSI Denpasar (1996). Ia sempat bergabung di Sanggar Tari dan Tabuh Semara Ratih, Ubud, Sanggar Tari “Puri Saraswati” Singapadu dan Yayasan Intan Budaya Negeri, Peliatan, Ubud. Pernah berkolaborasi dengan One Extra Company Dance and Theatre Australia : Dancing Demon (1991), kolaborasi Tari Kontemporer Potret Diri dengan Maestro Noh Jepang Reijiro Tsumura dan Penari Balet Kaori Kagawa (2012), Kolaborasi Tari Kontemporer Pencaharian dengan Yukiko Onishi, Chikako Bando (2012). Ia juga berpentas ke berbagai negara seperti Jepang, Brasilia, Swedia, Inggris, Australia, dll. Pada tahun 2013 ia juga berkolaborasi dengan sejumlah seniman dan penari dalam pertunjukan “A Tribute to Maestro Blangsinga” di Bentara Budaya Bali. Aktif dalam berbagai festival tari dan meraih penghargaan, antara lain: Juara I Tari Kebyar Duduk Pesta Kesenian Bali (1985), Juara I Tari Oleg Tamulilingan Pesta Kesenian Bali Bali (1986), Juara I Festival Remaja Tingkat SMA, Tari Kelompok (1987), Peserta Pekan Penata Tari Karya Cipta Baru Tingkat Nasional (1991), Peserta Indonesia Dance Festival (1993), Festival Seni Tari Mahasiswa Tingkat Nasional (1993), Juara 1 Koreografer Tari Kreasi Anak-anak Nukupari PKB (1996), dll. Ia merupakan koreografer sejumlah pertunjukan dan tari, antara lain: Tari Angkus Prana, kolaborasi dengan Nyoman Sura dan pemusik Dwiki Darmawan (2011), Kala Rau ing Kalangan (2016), dll.

I Ketut Cater, lahir pada tanggal 13 Juli 1966 di Br. Pindha .Saba Blahbatuh Gianyar. Ia sudah ikut kompetisi menabuh gambelan sejak ia berumur7 tahun sekitar kelas IV SD sebagai wakil kabupaten Gianyar di ajang PKB I pada tahun 1979. Ia mulai sebagai komposer membuat dan menciptakan musik kreasi Bali sejak awal mulai kuliah di STSI sampai sekarang setiap tahun untuk kebutuhan PKB Bali. Penghargaan yang diraihnya antara lain: Penghargaan dalam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional I di Surakarta (1991), mewakili Indonesia dalam World Expo’92 Sevilla, Spain (1992), World Children Festival Amsterdam Belanda (2003) dan lain-lain. Mewakili Sanggar Semara Ratih Ubud, ia juga pernah kolaborasi dengan Group Gambelan di Basel/Freiburg Swiss, juga kolaborasi dengan koreografer tari Esther Sutter dan Ensemble Sonia Carioni, juga Enrico Masseroli ( Italia )

Dr. I Made Bandem, MA, penari Bali, pemusik, penulis dan Rektor ISI Yogyakarta (1997 – 2006. Mendapat gelar master tari dari UCLA, dan gelar Ph.D ethnomusicology dari Wesleyan University, Midleton, Connecticut, Amerika Serikat (1980), serta meraih gelar profesor tari Bali dari College of the Holy Cross di Worcester, Massachussets, Amerika Serikat. Kerap memberikan kuliah tari dan gamelan di berbagai universitas di Amerika Serikat dan melalukan riset yang mendalam terhadap musik tradisional di nusantara. Buku-bukunya antara lain: ’Kaja dan Kelod: Balinesse Dance in Transition’ (1981 yang dicetak kembali 1995), didistribusukan oleh Oxford University Press, Kuala Lumpur, Malaysia, dan mendapat penghargaan di seluruh dunia, ’Prakempa: A Cosmology in Balinese Music’, ‘Wayang Wong in Contemporary Bali’, ‘Traditional Theatre of Indonesia’ dan ‘Encyclopedia of Balinese Dance’s’ yang menjadi acuan untuk mempelajari seni Indonesia. Menerima penghargaan UNESCO Music Council Award (1994), Adhi Karya Award dari Departemen Pos dan Telekomunikasi RI (1992), Dharma Kusuma Award dari pemerintah propinsi Bali (1995) dan Lempad Award dari Sanggar Dewata Painting Association (1998), Habibie Award (2003), Fumio Koizumi Prize (2006). Ia juga menjadi Direktur artistik bagi Indonesia untuk festival seni internasional, seperti : Expo Vancouver-Kanada (1986), Expo Brisbane-Australia (1988), Festival Indonesia di Amerika Serikat (1990, 1991), Expo Sevilla-Spanyol (1992), Hannover Fair di Jerman (1995) dan Indonesia Japan Friendship Festival (1997).

Dr. I Wayan Dibia, lahir di Singapadu, 12 April 1948. Lulus dari ASTI Denpasar tahun 1973, kemudian, melanjutkan ke ASTI Yogyakarta (tamat 1975). Ia mendapatkan gelar PhD dari University of California, Amerika Serikat pada tahun 1992 serta guru besar bidang koreografi dari STSI Denpasar pada tahun 1999.

Sebagai penari, ia sering mengikuti pentas baik di dalam negeri maupun luar negeri. Lawatan pentasnya di luar negeri di lakukan antara lain di Iran (1969), Jerman (1975), Hongkong (1977), serta Singapura (1977). Sedangkan pentasnya di dalam negeri antara lain, Dramatari ‘Calonarang Katundung Ratnamanggali’ (Yogyakarta, 1974), Dramatari ‘Sunda Upasunda’ (Yogyakarta, 1975), Dramatari ‘Cak Subali Sugriwa’ (Denpasar, 1975), Dramatari ‘Cak Dewa Ruci’ (1982), Sendratari ‘Abimanyu Gugur’ (Denpasar, 1976) dan Dramatari ‘Apa’ (Denpasar, 1977). Beberapa hasil karya tarinya seperti : Tari Manuk Rawa yang diciptakan bersama I Wayan Beratha pada tahun 1981, Tari Puspa Wresti, Tari Wirayuda dll.

Pemimpin sanggar tari Bali Waturenggong di Denpasar ini, pernah bekerja sama dengan beberapa seniman tari, diantaranya dengan I Made Bandem MA, menyusun Dramatari Topeng ‘Puputan Badung’ (Denpasar, 1977), dengan Ikranagara menata drama ‘Rimba Triwikrama’ (Jakarta, 1978), serta dengan Keith Terry memproduksi tarian terkenal ‘Tjak’ (1990). Beberapa buku pernah ia tulis, antara lain, ‘Catatan Beberapa Seni Pertunjukan Bali’ (sebuah karya bersama ASTI Denpasar, 1977), ‘Perkembangan Seni Tari Bali’ (Proyek Sasana Budaya Bali-Denpasar) dan ‘Pengantar Karawitan Bali’ (ASTI Denpasar, 1978).

Sering juga berkunjung ke berbagai lembaga pendidikan untuk bertukar pengetahuan tentang dunia seni khususnya seni tari, salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Holy Cross College in Worcester, New England, Amerika Serikat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s