WORKSHOP BERSAMA KOMUNITAS AIR LANGIT

Sabtu, 11 Maret 2017, pukul 15.00 WITA
Minggu, 12 Maret 2017, pukul 10.00 WITA

Sejarah mencatat, ada banyak masyarakat yang hidup sehat dengan Air Hujan. Hal itu sudah berlangsung secara turun-temurun puluhan bahkan ratusan tahun. Sebut saja masyarakat di beberapa daerah di Pulau Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di sana air tanahnya bersifat payau, banyak mengandung logam berat, sehingga tidak aman dikonsumsi terus-menerus. Demikian pula daerah perbukitan kapur Wonosari, Yogyakarta, sulit sekali mendapatkan air tanah. Air Hujan pun dimanfaatkan sejak dulu kala oleh masyarakat lereng timur Merapi (ketinggian di atas 400 meter dari permukaan air laut), seperti Kecamatan Kemalang dan Jatinom, Kabupaten Klaten. Meskipun hawanya dingin, sejuk, tanaman dan hutan hidup subur, namun tidak ada mata air. Menggali tanah hingga kedalaman 10 hingga 40 meter pun tidak menemukan air. Syukurlah Air Hujan tersedia berlimpah pada setiap musimnya.

Romo V. Kirjito, sejak beberapa terakhir telah melakukan riset dan kajian mengenai pengolahan air hujan sebagai air minum sehat. Berdasarkan penelitiannya, Air Hujan di Indonesia memiliki kandungan mineral terlarut (total dissolved solid/TDS) di bawah 20 miligram per liter (mg/l). Angka ini lebih rendah dari batas ketentuan WHO tentang kadar mineral dalam air tertinggi yang boleh dikonsumsi, yaitu 50mg/liter. Penelitian itu juga menyebutkan bahwa semakin rendah nilai TDS, maka air tersebut semakin murni.

Romo Kirjito kemudian mengembangkan teknologi sederhana untuk penampungan dan pengolahan air hujan menggunakan peralatan sehari-hari dengan biaya yang terbilang murah. Atas upayanya membangun kesadaran publik tentang manfaat Air Hujan ini, Romo Kirjito meraih penghargaan Maarif Award (2010) di bidang kepemimpinan lokal, lingkungan dan kemanusiaan dan penghargaan Kebudayaan Kementerian Pendidikan RI (2015) dalam bidang Penelitian Budaya Air Hujan secara sientifik. Di Bali sendiri, atas dorongannya, telah berdiri Komunitas Air Langit Bali yang secara guyub berupaya memasyarakatkan penemuan ini.

Workshop Bersama Komunitas Air Langit ini serangkaian program “Sedulur Air”, mengedepankan perihal proses pembuatan instalasi ionisasi Air Hujan di bawah arahan langsung Romo Kirjito, Arya Bima Prayitna, dr. Frederik Kosasih dan Edgar Nguwisa. Akan dipaparkan pula berbagai upaya dan kajian yang telah dilakukan komunitas ini guna mempelajari Air Hujan secara saintifik eksperimental.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s