Sinema Bentara #KhususMisbar SEMERBAK MAYANG DI MEDAN PERANG

Rabu – Jumat, 22 – 24 Februari 2017, pukul 17.00 WITA

Perang selalu menghadirkan tragedi yang memilukan. Namun nyatanya, sejarah kita tak putus dirundung kisah-kisah kekerasan dan kekejaman yang berulang, konflik dan pertempuran seakan adalah keniscayaan yang tak terelakkan. Sinema Bentara kali ini manayangkan film-film terpilih yang mengedepankan pengalaman dan sentuhan kemanusiaan meski berlatar peristiwa dan kisah pertempuran, baik Perang Dunia I, Perang Dunia II maupun masa Perang Dingin setelahnya. Kisah-kisah mengharukan dan menyentuh itu dituangkan oleh para sutradara mumpuni menjadi renungan yang dalam, ibarat Semerbak Mayang di Medan Perang.

Sinema Bentara kali ini bukan hanya semata menghadirkan kisah cinta para tokoh yang dibayangi perpisahan karena peperangan, melainkan konflik batin yang mencekam dan mengundang berbagai pertanyaan yang esensial tentang apa itu ‘Musuh’, apa itu ‘Bangsa’ serta makna ‘Pahlawan’ yang sebenarnya.

Masih dengan konsep misbar, pemutaran film ini digelar di halaman terbuka dengan layar lebar, mengedepankan suasana nonton film bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Karya-karya yang ditampilkan adalah film lintas bangsa yang meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Film-film itu tidak semata menuturkan drama percintaan, namun tertaut pula konflik perang yang tengah berlangsung, baik secara fisik maupun batin berikut absurditas para tokohnya. Di samping itu disandingkan pula film-film karya sutradara mumpuni, baik dari Indonesia maupun mancanegara dengan tujuan memperkaya perspektif kita tentang sejarah sinema selama ini termasuk peran para kreatornya dalam mengeksplorasi sebuah tema yang sama.

Film-film yang diputar antara lain: Doea Tanda Mata (Indonesia, 1984, Teguh Karya); Baarìa (Italia, 2009, Giuseppe Tornatore); Grace of Monaco (Prancis, 2014, Olivier Dahan); Masaan (India, 2015, Neeraj Ghaywan); 4 Tage im Mai (German, 2011, Achim von Borries). Program ini merupakan kerjasama dengan Sinematek Indonesia, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Francaise de Bali, dan Konsulat Jenderal India di Denpasar, Indian Cultural Centre Bali, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, serta Udayana Science Club.

Selain pemutaran film, agenda dirangkaikan pula dengan diskusi sinema bersama budayawan yang juga Konsul Kehormatan Italia di Denpasar, Pino Confessa. Giuseppe ‘Pino’ Confessa merupakan seniman kelahiran Taranto, Italia, 1953. Sedari belia, ia telah menekuni seni pertunjukan commedia dell’arte, sebuah bentuk teater yang menggunakan topeng sebagai medium. Ia adalah sosok yang menjembatani berbagai kesenian Indonesia – Italia. Pino Confessa melawat ke Indonesia kali pertama pada tahun 1979 dan kemudian memutuskan untuk menetap di Bali. Pada tahun 1999, ia dipercaya oleh Kedutaan Besar Italia menjadi Konsul Kehormatan Italia di Bali hingga kini. Tahun 2014 lalu Pino Confessa bekerjasama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) menggelar Malam Budaya Italia, dengan memperkenalkan musik dan sajian menu khas Italia. Ia juga salah satu pihak yang memungkinkan kerjasama BBB dengan sutradara legendaris Eugenio Barba, pentas Odin Teatret, Februari 2016 lalu.

SINOPSIS FILM
DOEA TANDA MATA
(Indonesia, 1984, Durasi: 100 menit, Sutradara: Teguh Karya)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

doea_tanda_mataFilm yang berlatar tahun 1930-an di Hindia Belanda (Indonesia) ini, mengisahkan tentang Gunadi, seorang pemuda Klaten yang memutuskan untuk ikut dalam kelompok pergerakan bawah tanah dengan mencetak selebaran-selebaran gelap. Di percetakan tersebut, Gunadi berkenalan dengan Ining, yang menjadi kekasihnya kelak. Suatu ketika Gunadi bentrok dengan kelompoknya, karena tidak bisa mengendalikan diri mengetahui sahabatnya dan adik Ining mati ditembak Belanda. Dendam tersebut membuatnya berusaha mendekati komisaris polisi, sosok dibalik kematian sahabatnya itu. Ining yang juga memiliki dendam atas kematian adiknya, bersedia menjadi gundik sang komisaris, sementara Gunadi diterima menjadi sopir. Akankah Gunadi dan Ining bisa kembali bersama dan dendam mereka terbalaskan?

Film ini meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik, Penata Musik Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik pada Piala Citra 1985.

Teguh Karya, lahir di Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937. Selain sebagai sutradara film legendaris Indonesia, Teguh Karya juga sempat memimpin Teater Populer sejak tahun 1968. Ia memperoleh enam kali penghargaan sebagai Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia . Film-filmnya melahirkan banyak aktor dan aktris terkemuka Indonesia seperti Slamet Rahardjo, Christine Hakim, dan Alex Komang. Adapun beberapa film garapannya yang telah memperoleh Piala Citra diantaranya Cinta Pertama (1974), Ranjang Pengantin (1975), November 1828 (1978), Di Balik Kelambu (1983), Ibunda (1986), Pacar Ketinggalan Kereta (1988).

BAARÌA
(Italia, 2009, Giuseppe Tornatore, 163 menit)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

p7918659_v_v8_aaFilm Baarìa berkisah tentang anak laki-laki bernama Peppino yang tumbuh di kota Bagheria (dikenal juga sebagai Baaria) dalam kurun waktu 60 tahun (1920an-1980an). Tidak hanya menceritakan drama kisah cinta Peppino dewasa dengan Mannina, film ini juga menuturkan kehidupan keluarga di Italia dalam tiga generasi berikut refleksi atas situasi ekonomi, sosial, dan politik masa itu, terutama saat Perang Dunia II tengah berlangsung.

Baaría merupakan film pembuka pada Festival Film Internasional Venice ke-66 tahun 2009 dan menerima penghargaan sutradara terbaik pada acara tersebut. Film ini juga telah meraih sejumlah penghargaan di festival film internasional lainnya seperti: Film Terbaik pada Kineo Awards Italia 2010 dan Capri Movie Award, Hollywood 2009. Sutradara terbaik pada Golden Globes Italia Award 2010 dan David di Donatello Awards 2010, Sinematografi terbaik pada Flaiano International Prizes 2010, serta dinominasikan sebagai film asing terbaik pada Golden Globes, USA 2010.

Giuseppe Tornatore merupakan seorang sutradara dan penulis berkebangsaan Italia, kelahiran 27 Mei 1956. Lahir di Bagheria dekat Palermo, Tornatore mengembangkan pemahamannya dalam bidang akting dan teater dari usia 16 tahun. Pada 2007, ia memenangkan Silver George untuk Sutradara Terbaik di Festival Film Internasional Moskwa ke-29 untuk The Unknown Woman. Beberapa film kenamaan garapannya diantaranya The Professor (1986), Cinema Paradiso (1988), Everybody’s Fine (1990), Especially on Sunday (1991), 1995: The Star Maker (1995), Lo schermo a tre punte (1995), Ritratti d’autore: seconda serie (1996) dan The Legend of 1900 (1998).

GRACE OF MONACO
(Prancis, 2014, Durasi 103 menit, Sutradara: Olivier Dahan)
Didukung oleh Allliance Francaise de Bali

grace-of-monacoFilm Grace of Monaco tidak semata mengisahkan biografi Grace Kelly, seorang aktris sohor yang memutuskan untuk meninggalkan dunia hiburan hollywood untuk menikah dengan Pangeran Rainier III dan menjadi Putri Monako, namun juga berbagai konflik serta problematik pelik. Pada awal tahun 1960 terjadi perselisihan politik antara Pangeran Rainier III dan Charles De Gaulle dari Prancis. Perselisihan tersebut mengakibatkan adanya invasi militer Prancis ke Monako yang memiliki dampak besar bagi rakyat Monako. Saat krisis internasional melanda serta invasi Prancis, krisis pun tidak hanya berdampak dalam hubungan keluarga, pernikahan dan negaranya, tetapi juga pergulatan batin Grace. Ia harus menghadapi pilihan yang sulit. Apakah kembali ke dunia hiburan sebagai bintang film terkenal yang dicintai dan dipuja atau perannya sebagai istri terhadap suami dan anak-anaknya serta dunia kerajaan yang kini menjadi rumahnya?

Film ini adalah salah satu karya Olivier Dahan, sutradara film La Vie En Rose asal Prancis. Grace of Monaco menerima penghargaan Outstanding Television Movie pada Primetime Emmie Awards 2015 serta Outstanding Performance by a Female Actor in a Television Movie pada Screen Actors Guild Awards 2016.

Olivier Dahan lahir pada tanggal 26 Juni, 1967 di La Ciotat, Prancis. Ia merupakan sutradara dan penulis, yang dikenal untuk garapan film La Vie en Rose (2007), Crimson Rivers 2: Angels of Apocalypse (2004) dan Grace dari Monaco (2014). Ia sempat menempuh pendidikan di Marseille School of Art dan memperoleh diploma seni pasca sarjana pada tahun 1991. Sebelum mengarahkan film, ia sempat memamerkan lukisannya di sejumlah tempat, dan menggarap video musik dan bekerja untuk beberapa perusahaan rekaman yakni Virgin, EMI, Sony, dan Polygram.

MASAAN
(India, 2015, Durasi 109 menit, Sutradara: Neeraj Ghaywan)
Didukung oleh Konsulat Jenderal India di Denpasar dan Indian Cultural Centre Bali

masaanMasaan menyuguhkan berbagai persoalan sosial yang ada di pinggir kota-kota India melaui tokoh-tokohnya yang sedang jatuh cinta satu sama lain. Film ini mengisahkan dua plot cerita yang kemudian disatukan pada akhir kisah. Kisah pertama menceritakan perihal sosok Devi dan Piyush yang tidak sengaja tertangkap razia polisi di sebuah kamar hotel. Mereka berdua di tuduh telah berhubungan suami istri. Pengakuan Devi lalu direkam oleh salah satu anggota polisi yang kemudian melakukan pemerasan terhadap ayahnya Devi. Kisah lainnya mengenai sosok bernama Deepak, pemuda pintar yang berasal dari keluarga miskin. Ia bekerja sebagai seorang pembakar mayat. Deepak menyukai seorang gadis berkasta tinggi. Deepak ingin melampaui batasan dari kastanya. Kedua latar kisah yang memiliki latar dan problematikanya masing-masing ini, kemudian bertemu pada satu titik hingga akhir kisah. Diawali dari pertemuan antara Devi dengan Deepak di sebuah bus menuju Sangam.

Film ini meraih penghargaan FIPRESCI Prize pada Cannes Film Festival 2016, Best Debut Film of A Director pada National Film Award, India 2016, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik pada SAARC Film Festival, Sri Lanka, 2016 serta Zee Cine Awards 2016.

Neeraj Ghaywan merupakan sutradara India yang telah memenangkan penghargaan pada Cannes Film Festival dan FIPRESCI (Federasi Internasional Of Film Critics). Ia lahir dan dibesarkan di Hyderabad, India. Neeraj membuat film pendek pertamanya yang terpilih untuk Competition section of PFCOne pada tahun 2010. Pada Januari 2014 ia menulis skenario “Fly Away Solo” dan dianugerahi Sundance Institute / Mahindra global Filmmaking Award. Dia membuat sebuah film berdasarkan skenario itu untuk film Masaan. Ia juga menerima Indira Gandhi Award untuk Debut Film Terbaik ‘Masaan’ dalam India Film Awards Nasional ke-63.

4 TAGE IM MAI (4 DAYS IN MAY)
(German, 2011, Durasi: 97 menit, Sutradara: Achim von Borries).
Didukung oleh Goethe Institut Indonesien

4_days_in_mayJerman di bulan Mei 1945, empat hari menjelang akhir Perang Dunia II: Sebuah kelompok pengintai Rusia menduduki rumah yatim piatu di pesisir Laut Baltik dan mencoba membuat kesepakatan dengan para penghuninya. Sementara itu, satu unit tentara Jerman masih berkemah di tepi pantai sambil menanti kesempatan menyeberang ke Denmark. Kedua belah pihak sudah letih berperang – hanya seorang pemuda yatim berusia 13 tahun ingin menjadi pahlawan dan berusaha menciptakan konfrontasi di antara kedua pasukan yang bermusuhan. Tetapi kategori “kawan” dan “lawan” sudah lama tidak mengikuti aturan propaganda perang. Namun situasi akhirnya tetap menjadi genting, karena akhlak dan kekerasan tidak memandang kebangsaan.

Film ini meraih penghargaan Golden Boat pada Vyborg Account Film Festival Window to Europe” (2011) dan diputar pada Locarno Film Festival, Switzerland (2011).

Achim von Borries, merupakan sutradara asal Jerman kelahiran 13 November 1968. Debut filmnya bertajuk England! telah diputar dalam berbagai festival internasional serta telah dianugerahi penghargaan sebagai Skenario Terbaik dan Sinematografi Terbaik. Ia juga sukses menggarap film drama perang Ukrania yang berjudul “4 Days in May”. Setelah menggarap film bertajuk “Love in Thoughts” ia bekerja sebagai direktur pertelevisian dan menulis skenario beberapa film seperti film yang bertajuk Alone in Berlin, 4 Days in May, dan Good Bye Lenin!. Beberapa penghargaan yang telah ia raih diantaranya, Cottbus Film Festival of Young East European Cinema, German Film Critisc Associtaion Awards, Munich International Festival of Film School, serta Trieste Film Festival.

JADWAL PEMUTARAN FILM :

Rabu, 22 Februari 2017
17.00 Wita Pasar Misbar
18.30 Wita Grace of Monaco
20.00 Wita Masaan

Kamis, 23 Februari 2017
17.00 Wita Pasar Misbar
18.30 Wita Baaria
21.00 Wita Diskusi Sinema Narasumber: Pino Confessa (Budayawan)

Jumat, 24 Februari 2017
17.00 Wita Pasar Misbar
18.30 Wita Doea Tanda Mata
20.00 Wita 4 Days in May

Partner :

Sinema Bentaaraitalian-consulatelogo-iccrLogo Konsulat IndiaSinema_Logo Sinematek IndonesiaSinema Bentara_Logo_Goethe-InstitutPrint

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s