Sinema Bentara #KhususMisbar KEMBALI KE MULA DIRI

Sabtu – Minggu, 10 – 11 Desember 2016, pukul 17.00 WITA di Bentara Budaya Bali
Sabtu, 17 Desember 2016, pukul 19.00 WITA di Museum ARMA, Ubud

Sinema Bentara akhir tahun 2016 ini secara khusus menghadirkan film-film terpilih karya sutradara kenamaan lintas bangsa yang mengetengahkan tema seputar upaya pencarian jati diri seseorang, bahkan sebuah bangsa. Film-film ini dihadirkan sebagai ajakan untuk sejenak undur merenung diakhir tahun, melakukan semacam kontemplasi sekaligus mengkritisi diri di tengah perjalanan bangsa Indonesia setahun ini yang penuh dengan kegaduhan dan keriuhan politik, serta masalah-masalah sosial.

Tema kali ini tecermin melalui film bertajuk 8 ½ , karya sutradara mumpuni Federico Fellini (Italia), Au Revoir Les Enfants (Good Bye Children) arahan sutradara sohor Prancis- Louis Malle; Phoenix besutan sutradara Christian Petzold (Jerman) hingga film Guru Bangsa: Tjokroaminoto arahan sutradara internasional asal Indonesia, Garin Nugroho.

Film-film yang akan ditayangkan memiliki kisah yang menarik dan istimewa. Federico Fellini dalam 8 ½ mengungkapkan upaya penelusuran jati diri sedari masa kanak hingga puncak karirnya sebagai sutradara sohor, dituturkan dengan gaya surealistik, menghadirkan berbagai montase adegan flashback hingga visual alam bawah sadar sang tokoh. Sedangkan film Au Revoir Les Enfants merupakan autobiografi masa kecil sang sutradara, Louis Malle yang dahulu bersekolah di asrama Katolik dekat Fontainebleau dan menjadi saksi peristiwa Gestapo.

Film Phoenix arahan sutradara Christian Petzold juga menawarkan kisah pencarian jati diri seorang wanita Yahudi bernama Nelly yang berhasil bertahan dari kamp Auschwitz harus berhadapan dengan konflik antara mempertahankan masa lalunya di Berlin atau hidup dengan wajah dan identitas baru.

Guru Bangsa: Tjokroaminoto, film Indonesia arahan Garin Nugroho mencoba menghadirkan kisah biografi Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro), seorang pendiri Sarekat Islam sekaligus guru yang melahirkan banyak intelektual muda Indonesia, termasuk Soekarno yang kelak menjadi proklamator kemerdekaan Republik Indonesia.

Sinema Bentara kali ini masih dihadirkan dengan konsep Misbar, gaya menonton bersama yang populer di era tahun 70-80an dengan mengedepankan suasana nonton film bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Program ini bekerjasama dengan Sinematek Indonesia, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali, dan Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, serta SET Production.

Sinema Bentara kali ini juga bekerjasama dengan ARMA, memutar sejumlah film terpilih di Museum ARMA, Ubud.

SINOPSIS & PROFIL SUTRADARA  

AU REVOIR LES ENFANTS/ GOODBYE, CHILDREN
(Prancis, 1987, Durasi: 104 menit, Sutradara: Louis Malle)
Didukung : Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali

sinema_au-revoir-les-enfantsPerancis, tahun 1943. Julien, merasa sedih ketika harus kembali ke sekolah asrama setelah liburannya. Di sekolah muncul Jean Bonnet, murid baru yang pandai terutama dalam matematika dan Julien merasa iri sekaligus kagum. Jean diam-diam mencari tahu siapa Julien, ia pun akhirnya mengetahui bahwa nama Jean sebenarnya adalah Jean Kippelstein, seorang Yahudi. Bapa Jean, Sang Pastor Kepalalah yang berbaik hati melindungi Jean dari kejaran tentara Nazi yang kejam. Tidak adal alasan bagi Jean untuk membenci Julien, ia dihinggapi pertanyaan membingungkan: kenapa kita harus membenci Yahudi? Siapa manusia di dunia ini yang bisa meminta ingin dilahirkan dengan agama apa dan ras apa?

Film ini meraih 5 penghargaan sekaligus pada Venice Film Festival 1987 yakni Golden Lion, OCIC Award, Sergio Trasatti Award, Special Golden Ciak dan UNICEF Award serta mendapatkan Film Asing Terbaik pada SESC Film Festival Brazil 1989, National Board of Review USA 1987, London Critics Circle Film Awards 1990, Guild of German Art House Cinemas 1989. Film ini menerima penghargaan sebagai film terbaik pada European Film Festival 1988, César Awards Prancis 1988, Bodil Awards 1989, dan lain sebagainya.

Louis Marie Malle merupakan seorang sutradara, penulis skenario dan produser film berkebangsaan Perancis yang memenangkan nominasi Academy Award. Dia dilahirkan di Thumeries, Perancis pada 30 Oktober 1932. Ia memulai karirnya di dunia film sejak tahun 1953. Ia menempuh pendidikan di Institute of Advanced Cinematographic Studies di Paris pada tahun 1950. Ia pernah bekerja sebagai asisten sineas Robert Bresson dan dipekerjakan oleh Jacques-Yves Cousteau menjadi operator kamera pada Calypso. Kemudian Cousteau mempromosikan dirinya untuk menjadi co-director dalam film The Silent World (1956). Ia kemudian menggarap beberapa film kenamaan termasuk film kejahatan Ascenseur pour l’échafaud (1958), drama Perang Dunia II Lacombe, Lucien(1974), film kejahatan romantis Atlantic City (1980), komedi-drama My Dinner dengan Andre (1981) , dan film otobiografi Au revoir les enfants (1987). Dalam filmnya yang berjudul Au Revoir Les Enfants (1987), Malle mampu menemukan katarsis untuk pengalaman yang telah menghantuinya sejak pendudukan Jerman Perancis dalam Perang Dunia II. Ia memang dikenal menggarap sejumlah film dalam masa Perang Napoleon, yang mengeksplorasi kehidupan dan maknanya.

GURU BANGSA: TJOKROAMINOTO
(Indonesia, 2015, Durasi: 160 menit, Sutradara: Garin Nugroho)
Didukung : SET Production & Sinematek

sinema_guru-bangsa-tjokroaminotoSetelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda memasuki babak baru yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya, yaitu dengan gerakan politik etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro) yang lahir dari kaum bangsawan Jawa di Ponorogo, Jawa Timur, membangun organisasi Sarekat Islam, organisasi resmi bumiputera pertama terbesar kala itu, sehingga bisa mencapai 2 juta anggota. Ia berjuang menyamakan hak dan martabat masyarakat bumiputera di awal 1900 yang terjajah. Perjuangan menjadi benih lahirnya tokoh dan gerakan kebangsaan.

Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Tjokro juga mempunyai banyak murid-murid muda yang pada akhirnya menetas, memilih jalan perjuangannya masing-masing, meneruskan cita-cita Tjokro yang mulia untuk mempunyai bangsa yang bermartabat, terdidik, dan sejahtera. Salah satu muridnya di Soekarno yang kelak menjadi proklamator kemerdekaan Republik Indonesia.

Film ini meraih penghargaan sebagai film, penata artistik, dan kamera terpuji pada Festival Film Bandung 2015; Ensemble Cast Terbaik dalam ajang Indonesian Movie Actor Awards 2016; Sinematografi, Perancang Busana dan Artistik Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015, Penata Kamera Terbaik dan Penata Artistik Terbaik pada Usmar Ismail Awards 2015, Film Bioskop Terpilih dan enam penghargaan lainnya dalam Piala Maya 2015.

Garin Nugroho Riyanto merupakan seorang produser dan sutradara film kenamaan Indonesia. Namanya semakin dikenal setelah film garapannya yang berjudul Cinta dalam Sepotong Roti (1990) dikenal luas. Film keduanya, Surat Untuk Bidadari (1992), membawa namanya ke panggung film internasional. Garin Nugroho juga peduli pada masalah lingkungan hidup yang tercermin dalam filmnya yang bertema lingkungan, yaitu Under the Tree.Ia juga mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bernama SET pada tahun 1987. LSM tersebut bertujuan untuk membuat bahasa yang baru, menciptakan spirit penciptaan dan membuat komunitas. Dari LSM tersebut lahir sutradara muda, seperti Riri Riza.

Garin Nugroho memulai kariernya sebagai kritikus film dan pembuat film dokumenter. Ia telah menyelesaikan sedikitnya dua puluh film (dokumenter, film pendek dan film panjang). Pada perayaan 250 tahun Mozart, ia terpilih sebagai salah satu dari enam sutradara inovatif dunia untuk membuat film yang kemudian melahirkan Opera Jawa.

8 ½
(Italia, 1963, Durasi: 138 menit, Sutradara: Federico Fellini)
Didukung : Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

sinema_8-1-2-fellini8 1/2 berpusat pada sutradara kenamaan bernama Guido Anselmi yang tengah disorot karena sedang dalam proses pembuatan film bertemakan science-fiction. Namun Guido tidak bahagia, ia sesungguhnya tidak mempunyai cukup inspirasi untuk menggarap film ini. Waktu menuju shooting hari pertama semakin dekat, namun Guido semakin tidak punya arah mau dibawa kemana film ini. Akhirnya ia mencoba menggali masa kecilnya untuk menemukan jati diri sesungguhnya.

Film ini meraih penghargaan Film Asing Terbaik dan Kostum Terbaiki pada Academy Awards 1964, Film Eropa Terbaik pada Bodil Awards 1964, Sutradara Terbaik pada Golden Goblets Italia 1963 dan Italian National Sydicate of Film Journalists 1964, Grand Prix pada Moscow International Film Festival 1963, dan lain-lain.

Federico Felini, merupakan seorang sutradara film dan penulis skenario berkebangsaan Italia, kelahiran 20 Januari 1920. Ia dikenal karena memiliki keunikan dalam memadukan fantasi dengan gambar yang terkesan membumi. Ia diakui sebagai salah satu pembuat film yang paling berpengaruh sepanjang masa. Ia pernah meraih penghargaan nominasi Academy Award sebagai sutradara dan skenario terbaik. Beberapa judul film garapannya yang telah memenangkan piala Oscar diantaranya berjudul La Strada (1954), 8 1/5 (1963), Amarcord (1973), II Casanova di Federico Fellini (1976). Dan filmnya yang bartajuk 8 ½ pernah dinobatkan sebagai 10 film terbesar sepanjang masa. Dalam rentang karir hampir lima puluh tahun, Fellini juga memenangkan Palme d’Or untuk La Dolce Vita, dan pernah dinominasikan untuk dua belas nominasi Academy Awards. Pada tahun 1993, ia dianugerahi Lifetime Achievement Award di Academy Awards ke- 65 di Los Angeles.

PHOENIX
(Jerman, 2014, Durasi: 94 menit, Sutradara: Christian Petzold)
Didukung : Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien

sinema_phoenixPhoenix merupakan adaptasi dari novel bertajuk Le Retour des Cendres (1961) karya Hubert Monteilhet. Film ini berlatar di Jerman setelah Perang Dunia Kedua, dimana Nelly, seorang perempuan Yahudi berhasil bertahan dari kamp konsentrasi di Auschwitz memutuskan untuk mencari suaminya bernama Johnny in Berlin. Akibat operasi rekonstruksi wajah yang dilakukannya, suaminya tidak mengenalinya. Apakah Nelly berhasil meraih cinta dan kehidupannya yang lama dengan wajahnya yang baru? Ataukah kenyataan tersebut membawanya menjalani kehidupan baru?

Film ini meraih penghargaan Film Asing Terbaik pada AFCA 2016, Central Ohio Film Critics Association 2016, Kansas City Film Crirtics Circle Awards 2015, London Film Festival 2014; menerima penghargaan Pemeran Wanita Terbaik pada German Film Awards 2015, Seattle Film Critics Awards 2016, Seattle International Film Festival 2015, dan TFCA Award 2016, serta FIPRESCI Award pada San Sebastián International Film Festival 2014, dan lain sebagainya.

Christian Petzold lahir pada 1960 di Hilden. Ia belajar ilmu sastra dan bahasa Jerman dan ilmu teater di Freie Universität Berlin, kemudian pada 1988-1994 belajar ilmu penyutradaraan di Akademi Film dan Televisi Jerman di Berlin. Selain itu, ia juga sempat menjadi asisten sutradara bagi Harun Farocki dan Hartmut Bitomsky. Beberapa karya Christian Petzold yang mendapat penghargaan perfilman antara lain adalah Die innere Sicherheit (2001; Film Cerita Terbaik di ajang Penghargaan Film Jerman, Penghargaan Film Negara Bagian Hessen), Yella (2007; Beruang Perak Berlinale dan predikat Aktris Terbaik untuk Nina Hoss di ajang Penghargaan Film Jerman), Jerichow (2008; berkompetisi di Festival Film Internasional Venice, Penghargaan dari Perhimpunan Kritikus Film Jerman) dan Dreileben – etwas Besseres als den Tod (Penghargaan Grimme, Penghargaan Film Televisi Terbaik bersama dua sutradara lain yaitu Dominik Graf dan Christoph Hochhausler). Untuk film Barbara (2012) Christian Petzold antara lain dianugerahi Beruang Perak Berlinale sebagai Sutradara Terbaik.

JADWAL PEMUTARAN FILM :
Sabtu, 10 Desember 2016
17.00 Registrasi
18.00 Au Revoir Les Enfants/ Good Bye Children
20.00 Phoenix
Minggu, 11 Desember 2016
17.00 Registrasi
18.00 Guru Bangsa: Tjokroaminoto
20.30 8 ½

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s