Sinema Bentara #MISBAR “MEMOAR PARA MUSISI”

Kamis – Jumat, 29 – 30 September 2016, pukul 17.00 WITA

Musik boleh dikata merupakan salah satu unsur utama dalam produksi sebuah film. Jauh sebelum film suara atau film musikal dibuat pada tahun 1927-an lewat The Jazz Singer (Alan Crosland, Amerika), film-film bisu telah menggunakan musik sebagai latar (instrumen) untuk mengisi ruang imajinasi penonton dan memberikan pemaknaan terhadap gambar-gambar bergerak; secara tidak langsung turut membangun emosi, simpati, bahkan empati pemirsanya.

Sebagai salah satu kekuatan utama sebuah film, musik ternyata bisa juga menjadi tema cerita. Tak heran bila film-film musikal memikat perhatian dan minat publik luas serta digandrungi oleh penonton. Sinema Bentara kali ini menghadirkan film-film musikal arahan sutradara-sutradara tersohor lintas bangsa. Selain itu, ditayangkan pula memoar para musisi yang tidak hanya mumpuni, namun juga turut mewarnai sejarah musik dunia. Bebarapa film yang akan diputar di antaranya: Tiga Dara (Indonesia, 1950, Usmar Ismail), The Legend of 1900 (Italia, 1998, Giuseppe Tornatore ), Stanley ka Dabba (India, 2011, Amole Gupte), dan Daft Punk Unchained (Prancis, 2015, Hervé Martin-Delpierre).

Penghargaan kepada musisi atau komposer yang berdedikasi untuk film telah diberikan sejak Academy Awards ke-7 tahun 1934 dengan kategori ‘Best Original Score’ dan ‘ Best Original Song’. Di Indonesia, film musikal diproduksi pertama kali sekitar tahun 1950-an melalui film Bintang Surabaja (1951) arahan sutradara Utomo (Fred Young), disusul dengan film Tiga Dara (1956) dan Asmara Dara (1958) karya Usmar Ismail juga Tandjung Katung (1957) buah cipta Jacob Harahap. Kemudian berlanjut film Cinta Pertama (1973) dan Badai Pasti Berlalu (1977) arahan Teguh Karya yang juga meraih sukses serta mendapatkan penghargaan pada sejumlah festival.

Sinema Bentara kali ini, sebagaimana bulan-bulan sebelumnya, masih diselenggarakan dengan konsep misbar, mengedepankan suasana nonton film bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Program ini bekerjasama dengan Sinematek Indonesia, Konsulat Jenderal India di Denpasar dan Indian Cultural Centre Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut serta Udayana Science Club.

adddSelain pemutaran film, agenda ini dimaknai pula diskusi sinema bersama pemerhati film dan musik, Made Adnyana. Ia mengawali ketertarikan dengan film sejak masih kanak-kanak. Kegemaran menonton dan mengamati film dari beragam genre, berlanjut hingga dewasa, hingga rutin menulis resensi film di Bali Post Minggu, 1993-2004. Menggeluti dunia jurnalistik, sempat bergabung di beberapa media, bidang liputannya juga tidak lepas dari masalah seni budaya, hiburan dan film tentunya. Hingga kini menjadi pengajar tetap rumpun mata kuliah jurnalistik di IKIP PGRI Bali, kegemaran terhadap film dan musik tak bisa dilepaskan dari kesehariannya.

Kegemaran terhadap film pula sempat mendorong pria kelahiran Pupuan, Tabanan, 44 tahun silam ini untuk mencoba berkreasi menggarap drama elektronik, film televisi, ketika aktif sebagai pengurus Pemuda Theravada Indonesia (Patria) Bali. Selain menulis naskah dan menyutradarai, ia juga turut terlibat dalam pengambilan gambar dan penyuntingan sejumlah karya seperti “Senyum Itu” (2005), “Maaf, Aku Pernah Melupakanmu” (2008), “Kami Pasti Pulang” (2009), “Beri Kami Cahaya” (2010), “Bulan Tertutup Awan” (2011), “Cerita untuk Kawan” (2012) dan “Mentari kan Bersinar Lagi” (2013).

SINOPSIS FILM
TIGA DARA
(Fiksi, Indonesia, 1957, Durasi: 120 menit, Sutradara: Usmar Ismail)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

Sinema_tiga-daraTiga Dara adalah sebuah film komedi musikal yang dibintangi oleh Chitra Dewi (Nunung), Mieke Wijaya (Nana), dan Indriati Iskak (Nenny). Tiga bersaudari tersebut dibesarkan oleh nenek mereka di Jakarta setelah ibu mereka meninggal dunia. Film ini mengisahkan kisah asmara antara tiga dara tersebut dengan lelaki bernama Herman dan Toto yang diwarnai problematik keluarga. Tiga Dara pernah diputar di Festival Film Venesia 1959 dan meraih Tata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia 1960. Pada 2015 Tiga Dara direstorasi dan dikonversi dalam bentuk digital 4K oleh Laboratorium L’immagine Ritrovata.

THE LEGEND OF 1900
(Fiksi, Italia, 1998, Durasi: 2 jam 45 menit, Sutradara: Giuseppe Tornatore )
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

Sinema_the-legend-of-1900Bagaimana jadinya jika ada seorang manusia yang dilahirkan, dibesarkan, dan menghabiskan seluruh hidupnya hingga ajal menjemput pada sebuah kapal pesiar? Seorang bayi ditemukan di kapal pesiar kemudian dibaptis dengan nama Danny Boodman T.D Lemon 1900. Hingga suatu hari ketika beranjak dewasa, seorang manajer kapal menemukan bakat alamiah 1900 dalam bermain piano yang menjadikannya seorang pianis di kapal pesiar tersohor seantero dunia. Film ini meraih Best Original Score pada Golden Globes USA (2000); Film Terbaik, Cinematografi Terbaik, Desain Produksi Terbaik, Kostum Terbaik, dan Musik Terbaik pada David di Donatello Awards 1999; Sinematografi Terbaik pada European Film Awards 1999; Skenario Terbaik pada Golden Globes Italia 1999; Film Asing Terbaik pada Guild of German Art House Cinemas 2000, Sutradara Terbaik pada Italian National Syndicate of Film Journalists 1999; Film Terbaik dan Kostum Terbaik pada Sannio Film Festival 1999.

DAFT PUNK UNCHAINED
(Dokumenter, Prancis, 2015, Durasi: 85 menit, Sutradara: Hervé Martin-Delpierre)
Didukung oleh Alliance Française de Bali

Sinema_Daft Punk UnchainedFilm dokumenter ini mengisahkan perjalanan karir Daft Punk, duo musisi elektronik asal Prancis beranggotakan Guy-Manuel de Homem-Christo dan Thomas Bangalter yang memulai karir bermusiknya di awal tahun 1990-an dengan nama grup Darlin’. Mereka merupakan pelopor musik French House dan EDM (elctronic dance music). Kelompok ini meraih tiga Grammy Awards sekaligus tahun 2014. Film ini menceritakan tentang bagaimana duo musisi ini mencipta musik mereka, membangun citraan di ruang publik dan beragam hal yang menginspirasi mereka. Film ini meraih nominasi film dokumenter terbaik pada Doclisboa International Film Festival 2015

STANLEY KA DABBA (Fiksi, India, 2011, Durasi: 96 menit, Sutradara: Amole Gupte)
Didukung oleh Konsulat Jenderal India di Denpasar dan Indian Cultural Centre Bali

Sinema_Stanley_Ka_Dabba_PosterSebuah ‘dabba’ atau kotak makan siang, boleh jadi bukanlah hal yang penting, namun tidak bagi Stanley. Di sekolah tempatnya belajar, seorang guru mewajibkan siswa-siswinya untuk membawa ‘dabba’ apalagi setelah peraturan fulldayschool ditetapkan. Stanley, seorang anak yatim piatu tidak dapat membawa ‘dabba’ ke sekolah, hal tersebut menjadi masalah besar untuknya yang baru kelas 4 SD. Akankah teman-teman Stanley hanya tinggal diam? Bagaimana Stanley dapat menghadapi gurunya yang arogan? Film musikal ini mendapatkan penghargaan Silver Lotus Award untuk pemain anak-anak terbaik pada National Film Awards India 2012 dan meraih nominasi untuk Cerita Terbaik serta Aktris Terbaik pada Awards of the International Indian Film Academy 2012.

B-Movie: Lust & Sound in West Berlin (Dokumenter, Jerman, 1979-1985, 92 menit, Sutradara:  Jörg A. Hoppe, Heiko Lange)

Didukung Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut

Film ini menceritakan mengenai situasi musik di Berlin Barat pada tahun 80an. Cara penggambaran situasi saat itu dipakai dua cara yaitu menampilkan kembali menggunakan pemeran dan penggabungan footage asli (siaran berita, arsip pribadi). Meskipun bicara secara mendalam soal musik, namun karena Berlin pada masa itu adalah kota yang sangat politis, terutama karena ada Tembok Berlin sebagai penanda Perang Dingin. Kita akan melihat bahwa perkembangan musik (atau seni lainnya) sangat ditentukan oleh dinamika politik aktual. Soal musiknya sendiri, Berlin memang sangat penting bagi musik Jerman, baik yang klasik, folklore, punk, rock dan nantinya (sampai sekarang) menjadi salah satu pusat perkembangan music tekno/elektronis dunia.

JADWAL PEMUTARAN FILM :

Kamis, 29 September 2016
18.00 Wita – Stanley Ka Dabba
19.30 Wita – The Legend of 1900

21.00 Wita – B-Movie: Lust & Sound in West Berlin

Jumat, 30 September 2016
18.00 Wita – Tiga Dara
20.00 Wita – Daft Punk Unchained

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s