Timbang Pandang “Seni Rupa Kita Kini”

Minggu, 14 Agustus 2016, pukul 19.00 WITA

TImbang Pandang)ND_Sampul depan SSMM 310516 1Timbang pandang kali ini akan membincangkan perihal dunia seni rupa kita kini, terangkum di dalamnya praktik-praktik penciptaan dan aneka wacana yang mengemuka selama ini, berikut tautan kreatifnya dengan bidang-bidang seni lainnya. Sebagai titik mula akan ditelisik tentang kolaborasi seni, beserta dinamika dan keberadaannya. Ragam seni kolaboratif ini mengandaikan adanya proses cipta yang lintas batas, terbukti memang kian marak belakangan ini.

Timbang pandang ini merujuk pada buku bertajuk “Satu Setengah Mata-Mata” (Penerbit Oak, 2016), menghimpun 34 tulisan hasil pengamatan Nirwan Dewanto atas sejumlah peristiwa seni dan kebudayaan, berlangsung sepanjang tahun 1995- 2015. Tulisan-tulisan itu, secara langsung atau tidak, mengungkapkan proses kreasi yang lintas batas tersebut, menggambarkan pula capaian seni terkini hasil kolaborasi antarkreator mumpuni Indonesia; atau capaian seniman yang berkarya secara individu dengan mendayagunakan aneka media.

Tulisan-tulisan Nirwan Dewanto itu bergerak bebas antara non-fiksi dan fiksi, antara “antropologi” dan catatan autobiografis, antara telaah seni dan nalar puitik, antara pembacaan-dekat dan pembacaan-jauh; mencerminkan kematangan berbahasa serta analisa yang tajam dan mendalam. Sebagian merupakan catatan kuratorial untuk pameran tunggal Nasirun, Entang Wiharso, Dipo Andy, Eko Nugroho, S. Teddy Darmawan, dan Hanafi.

Sedangkan sebagian lainnya adalah ulasan atau tanggapan pada peristiwa-peristiwa seni yang menggoda permenungannya, semisal pameran IGK Murniasih (Oktober 2000), Dadang Kristanto (2002), atau nomor-nomor pertunjukan seperti Unetsu, or The Egg Stands Out Curiosity karya Ushio Amagatsu bersama Sankai Juku; dan Suiren (Water Lilies) karya Kazuo Ohno dalam Art Summit I (September 1995).

Melalui buku ini, penulis menegaskan bahwa seni rupa bukan sekadar apa yang dipandang, melainkan juga apa yang nyaman diciptakan kembali terus menerus dalam imajinasi. Tampil selaku narasumber acara timbang pandang ini adalah Dr. I Wayan Kun Adnyana (kritikus seni rupa, kurator dan pengajar), Nirwan Dewanto (penyair, kurator) dan Dr. Jean Couteau (kurator, kritikus seni rupa dan pengamat sosial budaya).

diskusi monolog_kun adnyanaDr. Wayan Kun Adnyana, pengajar FSRD ISI Denpasar. Selain intensif mengikuti pameran seni rupa di berbagai kota, Kun juga menulis kritik seni rupa dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti Kompas, Media Indonesia, majalah Visual Arts, dll. Buku-bukunya antara lain: “Nalar Rupa Perupa”(Buku Arti, Denpasar, 2007), Bersama DR. M. Dwi Marianto menulis buku Gigih Wiyono; Diva Sri Migrasi, Galeri 678, Jakarta, 2007. Bersama Dr Jean Couteau, dan Agus Dermawan T menulis buku Pita Prada (Biennale Seni Lukis Bali Tradisional), Bali Bangkit, Jakarta, 2009. Turut merintis Bali Biennale 2005, sebagai committee dan juga kurator Pra-Bali Biennale-Bali 2005. Telah mengkurasi berbagai pameran seni rupa untuk: Tony Raka Art Gallery Ubud, Pure Art Space Jakarta, Ganesha Gallery Four Seasons Resort Jimbaran, Gaya Fusion Art Space Ubud, Danes Art Veranda Denpasar, Tanah Tho Art Gallery Ubud, Syang Art Space Magelang, Kendra Art Space Seminyak, Mondecor Jakarta, dan lain-lain.
Penghargaan: finalis UOB Art Awards 2011, Finalis Jakarta Art Awards (2010), Nominasi Philip Morris Indonesian Art Awards (1999), Kamasra Price Seni Lukis Terbaik (1998), dll.

TImbang pandang_ND_self portrait_090716_versi 01 1Nirwan Dewanto adalah seorang sastrawan, penulis seni rupa, editor sastra dan kurator Galeri Salihara. Menjalani masa kanak dan remaja di Banyuwangi dan Jember. Saat masih di SMA dia sudah menulis puisi; karya-karyanya diterbitkan di majalah antara lain Kuncung dan Kartini. Nirwan kuliah di Institut Teknologi Bandung di Bandung, Jawa Barat, meraih gelar Sarjana Geologi, kemudian pindah ke Jakarta. Pernah menjadi redaktur majalah Kalam bersama sastrawan Goenawan Mohamad. Pada tahun 1996 menerbitkan koleksi esai yang diberi judul Senjakala Kebudayaan. Buku antologi puisinya, Jantung Lebah Ratu (2008) meraih Katulistiwa Awards, Buli Buli Lima Kaki(2010), serta the Origin of Happiness (diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jerman). Pada tahun 2012 Nirwan berperan sebagai Uskup Agung Semarang, Albertus Soegijapranata, dalam film biopik Soegija yang disutradarai Garin Nugroho.

Dr. Jean Couteau, adalah budayawan dan pengamat seni asal Perancis, telah lama bermukim di Indonesia. Ia menulis lebih dari 15 judul buku dalam bahasa Inggris, Perancis dan Indonesia, antara lain : Lempad (tentang maestro lukis Bali I Gusti Nyoman Lempad), Bali Today Catatan-Catatan Kebudayaan (edisi 1 dan 2), tentang pelukis Affandi, Srihadi Soedarsono, Walter Spies, Puri Lukisan, Bali Inspires dan lain-lain. Ia juga menerjemahkan karya sejarawan besar, Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya), Keping Rahasia Terakhir karya Jean Rocher serta novel Emilie Java 1904 karya Chatherine Von Moppes, dan sebagainya. Jean Couteau menjadi penulis di berbagai media antara lain : koran KOMPAS, Majalah Tempo, The Jakarta Post, C-Art, Visual Art serta media lain di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu ia juga merupakan kurator dan dosen tamu Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, serta kerap diundang sebagai pembicara dalam forum-forum kebudayaan nasional maupun internasional. Kini ia juga aktif mengisi kolom Udar Rasa di KOMPAS setiap minggunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s