Sinema Bentara “Patriotisme dan Kemanusiaan”

Jumat – Sabtu, 26 – 27 Agustus 2016, pukul 17.00 WITA

Film yang berangkat dari kisah – kisah seputar patriotisme atau bahkan nasionalisme, tidak jarang mengedepankan adegan aksi dari tokohnya yang heroik, menempatkan karakter utama dalam posisi sebagai pahlawan atau hero ditengah kecamuk konflik, baik dalam perang maupun peristiwa kemanusiaan yang mewarnai rekonsiliasi menuju perdamaian. Tetapi sesungguhnya tidak sedikit pula film-film buah karya sutradara mumpuni yang justru mengkritisi sosok hero atau pahlawan, sembari menghadirkan tokoh-tokoh biasa sehari-hari yang berjuang untuk sesama atau lingkungannya serta layak disebut pahlawan.

Memang film sebagai media audio visual boleh dikata adalah salah satu media ungkap yang strategis untuk meraih simpati dan menggugah empati penonton, sejalan dengan visi sang sutradara. Karena itu, sejarah mencatat, tak jarang film digunakan sebagai sarana propaganda, tak jarang juga tergelincit menjadi provokatif dan agitatif.

Sutradara sohor dunia peraih banyak Academy Awards maupun penghargaan internasional lainnya, seperti Vittorio De Sica (Italia) melalui filmnya The Bicycle Thief (1948) atau Steven Spielberg (Amerika) dengan karyanya Schlindler List (1993) dan The Pianist (2002); mengedepankan sisi kemanusiaan di tengah konflik yang berkecamuk, melebur batas identitas yang melekat di antara manusia.

Film-film yang akan diputar pada Sinema Bentara kali ini, tidak hanya menghadirkan kisah-kisah tokoh nan heroik, namun lebih jauh, mengisyaratkan pesan-pesan humanis yang universal; mengedepankan empati dan toleransi antar umat manusia, terlepas dari suku, bangsa, ras, maupun agama. Acara ini sejalan dengan kegiatan memaknai HUT Kemerdekaan RI ke-71, didukung oleh Sinematek Indonesia, Konsulat Jenderal India di Denpasar dan Indian Cultural Centre di Bali, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar dan Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali.

Beberapa film yang akan ditayangkan adalah film-film lintas bangsa yang telah diputar dalam berbagai festival film Internasional, di antaranya: Darah dan Doa (Indonesia, 1950, Usmar Ismail); The Round Up (Prancis, 2010, Sutradara: Roselyne Bosch); Manjhi- The Mountain Man (India, 2015, Ketan Mehta); The Bicycle Thief (Italia, 1948, Vittorio De Sica) serta Schnee Von Gestern (Jerman, 2014, Yael Reuveny).

SINOPSIS
DARAH DAN DOA (Indonesia, 1950, Durasi: 128 menit, Sutradara: Usmar Ismail)
Didukung oleh Sinematek Indonesia

cropped-darah-dan-doa11.jpgFilm ini mengisahkan perjalanan panjang (long march) prajurit RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin Kapten Sudarto. Sepanjang film ini berbagai ketegangan muncul menghadapi serangan udara dari musuh, Belanda. Selain itu berbagai konflik antar tokoh juga timbul karena adanya penderitaan dan pengkhianatan. Perjalanan diakhiri dengan telah berdaulat penuhnya Republik Indonesia pada 1950.

Film ini ialah produksi pertama Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), dan tanggal syuting pertama film ini, 300 Maret kemudian dirayakan sebagai Hari Film Nasional.

THE ROUND UP – La Rafle (Prancis, 2010, Durasi: 105 menit, Sutradara: Roselyne Bosch)
Didukung oleh Pusat Kebudayaan Prancis – Alliance Française de Bali

Sinema_La RafleFilm ini berdasarkan kisah nyata tentang seorang anak muda Yahudi. Latar kisah ini adalah penangkapan massal orang Yahudi oleh polisi Prancis yang menjadi kaki tangan Nazi di Paris pada bulan Juli 1942. Film ini telah diputar pada berbagai festival internasional di beberapa negara, seperti: Festival du Film Francophone, Yunani; Moskow, San Fransisco, Rusia, dan lain sebagainya; meraih penghargaan film terbaik “Audience Award” pada Atlanta Jewish Film Festival 2011.

MANJHI- THE MOUNTAIN MAN (India, 2015, Durasi: 120 menit, Sutradara: Ketan Mehta)
Didukung oleh Konsulat Jenderal India dan Indian Cultural Centre Bali

Sinema_ManjhiFilm ini berangkat dari kisah nyata tentang Dashrath Manjhi, seorang buruh miskin yang memiliki kasta terendah di India. Ia memahat gunung setelah kematian istrinya, Falguni karena gagal mendapat perawatan medis setelah kecelakaan. Manjhi harus berjuang melewati celah-celah gunung untuk membawa istrinya berobat, namun karena jarak yang ditempuh terlalu jauh, istrinya meninggal di perjalanan. Hanya dengan berbekal sebuah palu, Manjhi akhirnya memulai untuk menghancurkan gunung tersebut, sedikit demi sedikit, selama 22 tahun, hingga akhirnya ia berhasil membuat jalan untuk orang lain yang ingin berobat ke desa seberang. Jalan ini sendiri selesai pada tahun 1982 dan meringkas jarak tempuh yang dulunya 80 kilometer menjadi 10 kilometer. Film ini meraih nominasi untuk penghargaan aktor terbaik dan aktris terbaik pada Stardust Award for Performer Of The Year (2016) untuk Nawazuddin Siddiqui dan Radhika Apte

SCHNEE VON GESTERN – Water Under the Bridge (Jerman, 2014, Durasi: 96 menit, Sutradara: Yael Reuveny)
Didukung Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut

Sinema_schnee-von-gestern-posterFilm ini merupakan dokumenter yang mengisahkan tentang pencarian sang sutradara terhadap adik laki-laki dari neneknya yang hilang setelah Holocaust. Diketahui bahwa namanya telah diganti menjadi Peter Black pada 1945 dan menikah dengan wanita Jerman. Ia tinggal dekat kamp satelit Schlieben hingga akhir hayatnya. Sang sutradara mengisahkan cerita ini melalui kesaksian tiga generasi keluarga Peter Black. Film ini merefleksikan sebuah upaya negosiasi dalam keluarga, kilas ingatan dan rasa bersalah, juga rekonsiliasi menuju masa depan.

THE BICYCLE THIEF (Italia, 1948, Durasi: 93 menit, Sutradara: Vittorio De Sica)
Didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar

the bicycle thiefFilm ini bercerita tentang Antonio Ricci, seorang pengangguran yang mengalami depresi ekonomi pasca-Perang Dunia II di Italia. Tanpa uang yang cukup, ia harus menghidupi istri dan anaknya yang masih kecil. Ia senang akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan menempel poster, tapi dengan syarat ia harus memiliki sepeda untuk bekerja. Saat Antonio sedang menempel poster di tengah kota, sepedanya dicuri. Ia pergi berkeliling mencari sepedanya, hampi putus asa, ia menemukan sang pencuri, namun tak memiliki bukti yang cukup kuat untuk melaporkannya ke polisi. Akankan Antonio mendapatkan sepedanya kembali dan bisa bekerja lagi?

Film ini meraih penghargaan Film Asing Terbaik pada Academy Awards (1950), Film Asing Terbaik pada Golden Globes USA (1950), Film terbaik pada BAFTA Awards 1950, Film Eropa Terbaik pada Bodil Awrads 1951, Film Asing Terbaik pada Cinema Writers Circle Awards, Spanyol (1951), Film terbaik dan Sutradara terbaik pada Italian National Syndicate of Film Journalist (1949), film terbaik pada Locarno International Film Festival (1949), dan lain sebagainya.

Jadwal Pemutaran Film :

Jumat, 26 Agustus 2016
18.00 La Raffle – The Round Up
20.00 Manjhi- The Mountain Man

Sabtu, 27 Agustus 2016
16.00 Darah dan Doa
18.00 The Bicycle Thief
20.00 Schnee Von Gestern

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s