KOMPONIS KINI #2 A TRIBUTE TO LOTRING BERSAMA I PUTU ADI SEPTA SUWECA PUTRA & I PUTU GEDE SUKARYANA

Minggu, 24 Juli 2016, pukul 19.00 WITA

Sebagaimana program sebelumnya, ‘Komponis Kini #2’ juga menghadirkan dua komposer new gamelan yang masing-masing mempresentasikan buah cipta terkininya berikut komposisi-komposisi klasik karya maestro gamelan Bali. Dua komposer itu adalah I Putu Adi Septa Suweca Putra (Ubud) dan I Putu Gede Sukaryana (Tabanan). Keduanya sempat mengenyam pendidikan di ISI Denpasar. Namun, seperti para seniman Bali umumnya, sesungguhnya sedini usia mereka telah mengalami proses cipta dan pendalaman seni gamelan di banjar-banjar atau sekaa-sekaa (komunitas/grup).

Mereka adalah komposer-komposer yang telah mengalami proses cipta yang panjang, kerap diundang mempresentasikan karya-karya atau mendukung pertunjukan terpilih di berbagai kota di dunia; Malaysia, San Fransisco, New York, Brooklyn, dan lain-lain. Komposisi yang diciptakan I Putu Gede Sukaryana mengandung keunikan dan kekhasan tersendiri karena kemampuannya menyerap unsur-unsur musikal India dan mengolahnya menjadi ekspresi yang mempribadi, semisal unsur musik tabla. Adapun I Putu Adi Septa Suweca Putra, sedini awal bergiat di gamelan Cenik Wayah, bahkan ketika memulai terjun mendalami gamelan (umur 11 tahun), ia telah menunjukkan kreativitasnya dan keingintahuan yang tinggi. Tidak heran bila komposisinya belakangan ini menunjukkan semangat pembaharuan serta mengacu pada pertanyaan-pertanyaan filosofi yang mendasar sebagaimana tajuk komposisinya; Lebur Aur, Thunderstrom, atau yang kental dengan warna sosial serta otokritinya, Aku Bukan Sampah.

‘Komponis Kini’ merupakan acara berkala setiap bulannya, dihadirkan juga sebagai “A Tribute to Lotring”, sebentuk penghargaan dan penghormatan mendalam kepada maestro gamelan yang karya-karyanya terbilang immortal. Lotring adalah sebuah fenomena, seorang seniman pelopor yang memberi sentuhan personal pada keberadaan seni gamelan Bali. Musik bagi warga asal Banjar Tegal – Kuta kelahiran 1887 ini, bukan semata sebuah persembahan untuk memaknai upacara atau ritual-ritual tertentu, melainkan juga sebuah proses penciptaan dan penemuan diri yang menandai hadirnya kemodernan pada masa itu.

Semangat pencarian dan penemuan diri Lotring itulah yang diharapkan menjadi spirit program ‘Komponis Kini’ di Bentara Budaya Bali, sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya. Selain menampilkan pertunjukan musik, acara juga akan diperkaya dengan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan; sebentuk pertanggungjawaban penciptaan. Sebagai kurator adalah I Wayan Gde Yudane, Wayan Sudirana dan Dewa Alit.

Komponis kini_SukaryanaI Putu Gede Sukaryana lahir pada tahun 1987, adalah seorang musisi dan komposer dari desa Beraban di Kabupaten Tabanan. Seperti kebanyakan musisi Bali dengan pelatihan Konservatorium, kompetensinya dalam gamelan Bali dimulai pada umur 15 tahun. Selain sebagai pemain aktif dalam beberapa repertoar gamelan, juga memiliki pengalaman sebagai pemain tabla. Sebagai anggota dari kelompok seni (sanggar) Ceraken, ia telah terlibat dalam berbagai proses karya-karya baru yang bersama komposer lokal maupun internasional. Selain menekuni gamelan Bali, ia juga mempelajari musik global, khususnya India Hindustani dan Carnatic dan seni musik Barat. Komposisi Genta Hrdaya (2013) ditampilkannya bersama gamelan Taruna Mekar (desa Tunjuk, Tabanan), membuat komposisi untuk Gamelan Bike-Bike (Vancouver, Kanada, 2015), dan Gamelan Scarlatti yang berkolaborasi dengan John Noise Manis (Italy).
Komponis Kini_Adi SeptaI Putu Adi Septa Suweca Putra, lahir 29 September 1992 di Padang Tegal, Ubud. Sedari remaja ia telah berpentas gamelan ke berbagai negara, antara lain di San Fransisco, Malaysia, serta bersama gamelan Salukat tampil di Cal Performances, Berkeley CA, Cutler Majestic Theatre, Boston dan Brooklyn Academy of Music, New York sebagai musisi dalam pementasan Opera A House In Bali. Bersama grup JingGong Septa melakukan pementasan musik samulnori fusion di Korea Selatan. Selanjutnya septa diundang sebagai artist in residence of the Danish Centre for Culture and Development (CKU) Denmark pada tahun 2015. Sebagai kolaborator, Septa juga pernah membuat karya bersama dengan group Dafra Kura Band (Afrika), Filastine (Barcelona) dan Bloco (Singapura). Komposisi yang diciptakannya antara lain: Star Cluster, Lali, Space, Prastuti, Centhana Acenthana, Circle, Sekat, Uger-Uger, Mebat, Janari, Float, dan Tapak Dara. Kini ia mendirikan grup gamelan yang bernama Gamelan Natha Svara, aktif sebagai komposer, musisi gamelan dan direktur Gamelan Natha Svara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s