Komponis Kini #1 A Tribute to Lotring BERSAMA I WAYAN SUDIRANA DAN SANG NYOMAN ARSAWIJAYA

Jumat, 24 Juni 2016, pukul 19.00 WITA

Dua komposer gamelan baru atau new music for gamelan akan mempresentasikan komposisi terkininya di Bentara Budaya Bali dalam acara bertajuk ‘Komponis Kini’, sebuah program yang direncanakan berkala setiap bulan dan menghadirkan seniman-seniman terpilih. Melalui program ini, para komposer bukan hanya menghadirkan karya-karya kreasinya sendiri, melainkan juga menampilkan suatu garapan musik karya-karya klasik dari para maestro terdahulu.

Dengan demikian, program ini adalah sebuah upaya re-formasi, memberi format dan pemaknaan baru (re-interpretasi) terhadap gending-gending yang tergolong klasik atau yang sudah ada, sekaligus melakukan penciptaan (re-kreatif) yang (sama sekali) baru, buah respon perenungan yang panjang atas perjalanan ragam seni ini. Maka yang dikedepankan bukan semata sebuah upaya konservasi, namun juga eksplorasi yang lebih mendalam terhadap ragam komposisi musikal ini; sebuah penciptaan baru melampaui kebakuan serta tetap merefleksikan makna filosofis tertentu.

Upaya terencana dan berkelanjutan ini diniatkan bukan semata untuk memberikan pencerahan, namun juga berbagi apresiasi agar masyarakat turut merayakan bentuk-bentuk kesenian yang lahir dari ekspresi kekinian dengan capaian artistik yang terpujikan serta bermutu tinggi.

Bila program ‘Komponis Kini’ dihadirkan juga sebagai A Tribute to Lotring, tidak lain adalah sebuah penghargaan dan penghormatan mendalam kepada maestro gamelan yang karya-karyanya terbilang immortal. Lotring adalah sebuah fenomena, seorang seniman pelopor yang memberi sentuhan personal pada keberadaan seni gamelan Bali. Musik bagi warga asal Banjar Tegal – Kuta kelahiran 1887 ini, bukan semata sebuah persembahan untuk memaknai upacara atau ritua-ritual tertentu, melainkan juga sebuah proses penciptaan dan penemuan diri yang menandai hadirnya kemodernan pada masa itu.

Semangat pencarian dan penemuan diri Lotring itulah yang diharapkan menjadi spirit program ‘Komponis Kini’ di Bentara Budaya Bali, sekaligus sebuah ajang bagi komponis-komponis new gamelan untuk mengekspresikan capaian-capaian terkininya yang mencerminkan kesungguhan pencarian kreatifnya. Selain menampilkan pertunjukan musik, acara juga akan diperkaya dengan timbang pandang atau dialog bersama para komposer bersangkutan; sebentuk pertanggungjawaban penciptaan.

Program ‘Komponis Kini’ diawali dengan menghadirkan karya-karya dua komponis Bali yakni I Wayan Sudirana (Ubud) dan Sang Nyoman Arsawijaya (Denpasar). Bertindak sebagai kurator adalah Wayan Gde Yudane, Dewa Alit, dan I Wayan Sudirana.

Tentang Lotring
I Wayan Lotring lahir pada 1887 merupakan warga asal Banjar Tegal, Kuta. Lotring mulai mendalami gamelan dengan belajar tari Nandir di Puri Blahbatuh, Gianyar. Nandir inilah yang kelak menjadi legong, yang tari dan tabuh (ansambel musik) palegongannya kelak dipelajari Lotring dari Anak Agung Bagus Jelantik dari Saba, Sukawati pada tahun 1917.

Ia berkawan dekat dengan Colin McPhee, musikus kelahiran Kanada yang residensi di Bali serangkaian upaya eksplorasi kesenian yang dilakukannya. Pertemuan Lotring dengan Colin McPhee terjadi pada tahun 1932. Lotring memang seorang maestro yang karya-karyanya menginspirasi hingga kini. Sedini masa itu, secara terbuka ia menyatakan dirinya sebagai seorang komposer laiknya sahabatnya, Colin McPhee. Ia adalah sosok seniman yang memperkenalkan ragam gamelan palegongan Layar Samah, yang kelak dikenal begitu masyur di Bali.

Tentang Komponis

I Wayan Sudirana lahir di Ubud, Bali, pada tanggal 31 Mei 1980. Dia adalah lulusan ISI Denpasar (2002), dan juga anggota pertama dari Sanggar Cudamani, sekaligus salah satu musisi yang aktif di dalam percaturan musik baru untuk gamelan Bali. Dia juga pernah menjadi “Artis in Residence” di University of British Columbia (UBC) dari 2004 sampai 2006, dan melanjutkan studi pada jenjang pasca sarjana di Universitas tersebut. Gelar Master of Arts dalam bidang Ethnomusicologi diraihnya pada tahun 2009, dan Doctor of Philosophy dalam bidang Ethnomusikologi dari UBC pada tahun 2013.

Sang Nyoman Arsawijaya, lahir di Denpasar, tahun 1980. Menyelesaikan pendidikan di ISI Denpasar tahun 2005. Bergabung dengan Triple 2 New music for gamelan, Sang Nyoman adalah musik direktur kelompok Gamelan Wrdhi Swaram. Tahun 2000 Visiting scholar di university of ILLINOIS at Urbana – Champaign Bergabung di Performing Lines, sebagai pemain gamelan untuk “The Theft of Sita” thn 2001.

Sejak tahun 2004 hingga saat ini ia telah menulis komposisi untuk Pesta Kesenian Bali. Karyanya GERAUSCH, tahun 2005 mendapat apresiasi dari dalam dan luar negeri: ”Through Gerausch, Arsawijaya unambiguously pricked the assumptions of institutional power”. (Radical Traditions: Reimagining Culture in Balinese Contemporary. Music. By Andrew McGraw)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s