Timbang Pandang “TINGGALAN ARKEOLOGIS DAN HISTORIS SEBAGAI SUMBER PENCIPTAAN”

Minggu, 1 Mei 2016, pukul 18.30 WITA

Serangkaian pameran “Mahendradatta: Jejak Arkeologis dan Sosok Historis”, diadakan acara timbang pandang atau dialog, menghadirkan para seniman dari Komunitas Perupa Tampaksiring “Amarawati Art Community” dan fotografer terpilih, Ida Bagus Darmasuta, Agus Wiryadhi Saidi dan Phalayasa. Tampil sebagai narasumber; Ida Bagus Darmasuta (fotografer) dan Susanta Dwitanaya (mewakili Perupa Tampaksiring).

Timbang pandang ini meliputi pengalaman penciptaan mereka sewaktu merespon pameran yang berangkat dari tinggalan arkeologis dan historis masa kerajaan Bali kuno, seputar abad XI, sewaktu Raja Udayana berkuasa bersama permaisurinya Gunapriya Dharmapatni atau dikenal pula sebagai Mahendradatta. Upaya para kreator ini untuk melakukan penciptaan dengan on the spot di daerah-daerah DAS Pakerisan, Petanu, Tampaksiring, membuka kemungkinan kreativitas yang lebih luas. Setidaknya mengemuka satu cara pandang, bagaimana sejarah atau tinggalan arkeologis sebagai sumber penciptaan. Bagaimana pula pengalaman-pengalaman di lapangan, sewaktu gagasan diterjemahkan dalam strategi penciptaan, halangan dan peluang macam apa yang terjadi di dalam proses tersebut? Tidakkah kreativitas yang dilakukan para perupa dan fotografer ini sejalan dengan tujuan Rumah Peradaban, satu program unggulan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi se-Indonesia yang berupaya menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam tinggalan arkeologi kepada masyarakat luas sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian ? Acara akan dimaknai pula pemutaran film dokumenter terkait tema timbang pandang ini.

Timbang pandang ini juga mencoba merunut jejak bagaimana Bali direpresentasikan selama ini. Selama ini pula, citra tentang identitas dan tradisi budaya Bali dihadirkan terus menerus dan digambarkan sebagai the last paradise atau pulau sorga, melalui sejumlah foto, postcard, film dan lukisan, terutama oleh seniman Barat. Melalui peristiwa pameran kali ini, kita dapat pula memperbincangkan upaya kreatif yang dilakukan para fotografer dan perupa untuk mengkritisi serta mengelak dari kungkungan estetik eksotik turistik, yang selama ini memang terbukti telah membangun citraan firdaus atau sorgawi bagi pulau Dewata, sedini pariwisata dirintis oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal tahun 1900-an

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s