PRABU UDAYANA : WIRACARITA DALAM RUPA

PRABU UDAYANA : WIRACARITA DALAM RUPA
Pameran Lukisan I Ketut Budiana
Pembukaan : Jumat, 15 April 2016, pukul 18.30 WITA
Pameran berlangsung : 16 – 24 April 2016, pukul 10.00 – 18.00 WITA

Sejarah bukan semata kisah, namun juga warisan nilai-nilai. Sebagaimana prasasti yang ditemukan di banyak tempat di Bali atau di daerah lain di nusantara ini, sebagian terbaca dan tak sedikit pula yang pupus terhapus menjadi teka-teki, mengundang pertanyaan dan keingintahuan. Demikian juga Prabu Udayana, silsilah berikut kebesaran dan keagungannya tak sepenuhnya terungkap, akan tetapi jejak arkeologis juga tinggalan historisnya terbukti kini telah menjadi telah turut mewarnai keberadaan masyarakat Bali.

Pameran bertajuk Prabu Udayana: Wiracarita Dalam Rupa, kerjasama Universitas Udayana dengan Bentara Budaya Bali, menghadirkan karya perupa sohor I Ketut Budiana (66), dengan kanvas berukuran 8339 X 140 cm.

11 . 140 x 584 cm copy

Melalui goresan garis dan komposisi warna terpilih yang penuh perenungan, sang kreator menorehkan figur sekaligus tutur di seputar Prabu Udayana yang bertakhta sekitar 989 – 1011 M. Berpermaisuri Sri Gunapriya Dharmmapatni atau dikenal sebagai Mahendradatta, Prabu Udayana adalah turunan Sri Kesari Warmadewa yang merupakan wamsakara dinasti tersebut.

Alur cerita dalam lukisan ini meliputi tahapan kehidupan: Kelahiran Udayana; masa pendidikan di Pesraman Goa-goa;pergi ke Jawa Timur bertemu calon Istri Mahendradatta; kembali ke Bali dan dinobatkan sebagai Raja; menjalankan pemerintahan; Menjalankan Wana Prasta dan Biksuka–Moksah.

Karya monumental Ketut Budiana ini mengungkapkan pula filsafat empat tahap kehidupan (catur asrama) berikut empat tujuan hidup yang saling bertautan (catur purusa arta, yakni: dharma, artha, kama, moksa). Tahap pertama adalah brahmacari – masa muda, tahap pencarian ilmu pengetahuan; tahap kedua adalah grhasta (berumahtangga), dimana kama dan artha menyatu; tahap ketiga adalah wanaprasta, yakni sewaktu dharma diutamakan; tahap keempat adalah biksuka, lepas bebasnya dari semua ikatan duniawi menuju moksa.

6 . 140 x 700 cm copy

Pameran ini telah melahirkan momentum baru, di mana nama Udayana dikukuhkan kembali sebagai peletak dasar-dasar organisasi besar bernama negara. Tokoh ini dianggap berjasa setelah melahirkan raja-raja besar di Jawa dan Bali. Airlangga, putra Udayana bersama Mahendradatta, menjadi leluhur kelahiran kerajaan besar seperti Singosari dan kemudian Majapahit. Momentum besar berikutnya, ketika berdirinya Fakultas Sastra Udayana cabang Universitas Airlangga Surabaya tahun 1958 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno. Sebagaimana kita tahu fakultas ini menjadi cikal-bakal berdirinya Universitas Udayana.

Lukisan Budiana akan menjadi momentum kontemporer, yang lahir sebagai mengejawantahan ulang terhadap kebesaran Udayana. Ia bahkan tidak lagi sekadar reka ulang terhadap sejarah, tetapi justru memaknai sejarah itu, sehingga memberi dimensi baru dalam cara kita memahami realitas hari ini.

Dipilihnya perupa Ketut Budiana tentu melalui pertimbangan yang mendalam. Selama ini kita menyaksikan proses cipta seniman tersebut yang layak diapresiasi. Perupa kelahiran Padang Tegal, Ubud ini, mengolah ikon-ikon yang hidup dalam masyarakat Bali menjadi wujud rupa yang mempribadi – suatu kreasi modern yang berlimpah kekuatan ekspresi simbolis kosmis, melampaui kebakuan bentuk lukisan Bali tradisional. Sesungguhnya yang ia raih dan tawarkan adalah upaya transformasi, diterjemahkan dalam wujud garis dan warna, memanfaatkan bukan hanya ikonografi Bali yang direvisi, tetapi suatu inovasi bersifat tematik, teknis, sekaligus stilistik.

3 . 140 x 584 cm copy

Pada sebagian karyanya, kita dapat meresapi suatu capaian yang bersifat asimilasi, mengandaikan adanya pertemuan berbagai kultural, menghasilkan sesuatu yang baru dengan unsur dasar yang dianggap telah luluh. Di sisi lain, sebagian karyanya membuahkan nilai-nilai baru yang akulturatif, dengan unsur-unsur yang dapat dilacak ke asal muasalnya. Buah ciptanya meraih orisinalitas, tetap berakar pada nilai-nilai filosofi Bali yang hakiki, mengekspresikan bagian diri Ketut Budiana yang komunal dan juga sisi lain dirinya yang individual.

Eksibisi ini tidak semata sebuah upaya memuliakan masa lalu, melainkan mencerminkan pula kekinian sekaligus pengharapan akan masa depan Bali yang lebih baik. Pembukaan pameran ini akan dimaknai pula dengan persembahan tari Prabu Udayana dan Hymne Universitas Udayana.

_MG_0720I Ketut Budiana, lahir di Padang Tegal Ubud tahun 1950. Ia telah menggelar pameran tunggal sejak tahun 1999 di ARMA Museum, Ubud, Pameran Tunggal Kazaxi Gallery Melbourne, Australia (2000), Pameran Tunggal di Tokyo Station Gallery, Japan (2003). Tahun 2008, berpameran tunggal di Maruki Art Museum, Japan, tahun yang sama juga menggelar pameran tunggal Setagaya Art Museum, Japan. Pameran bersama di antaranya; Pameran lukisan di Jerman (1980), mengikuti dan menjadi koordinator pameran di Fokuoka Jepang (1985), berpameran di Tropen Museum Amsterdam, Holand (1986), Pameran lukisan di U.S.A. (THE WORLD PRESIDEN ORGANITATION, WASHTNGTON DC, U.S.A.) (1992), berpameran di Sunjin Gallery Singapore (2005), mengikuti International painting Vestival di Ujjain Madyaprades India (2007).

Berbagai penghargaan yang ia terima, antara lain: Penghargaan dari Cormsh Colege Othe Arts tahun 1995, Penghargaan dari La Trobe University Melbourne, Australia tahun 2000, Penghargaan dari Arhus Kunsbygning, Denmark, tahun 2004, Penghargaan dari Peace Festival in Itabashi, Japan, tahun 2005. Penghargaan Wijaya Kusuma Kab. Gianyar tahun 2005. Penghargaan Seni Dharma Kusuma Propinsi Bali tahun 2008. Penghargaan dari Institut Kesenian Jakarta – LPKJ. tahun 1993. Penghargaan dari Yayasan Seni Rupa Jakarta tahun 1997 dan sederet penghargaan lainnya.


TESTIMONI 

Prof. Dr. dr. I Wayan Wita,Sp. JP; FIHA; FAsCC.
(Rektor Universitas Udayana Periode Tahun 2001-2005)
Visualisasi kepemimpinan Prabu Udayana sangat impresif menggambarkan keunggulan, kemandirian dan berbudaya menuju kejayaan. Universitas Udayana diharapkan dalam konteks kekinian melanjutkan kejayaan tersebut. Visualisasi Tari Prabu Udayana diharapkan menjadi bagian yang integral dari lukisan ini.

Pande Suteja Neka (Neka Museum)
Budiana sebagai maestro seni masa kini seorang yang kreatif membuat lukisan dengan filosofis dan mistik,
sehingga orang akan dibawa pada gaya tersendiri yaitu gaya I Ketut Budiana.

Anak Agung Gde Rai (ARMA Museum)
Menikmati karya Budiana yang dipresentasikan ke dalam kanvas merupakan gambaran perjalanan budaya Bali yang sangat unik, titik tolaknya mulai dari Udayana dan Mahendradata yang merupakan sebuah perkawinan budaya antara Jawanis dengan lokal Bali. Karya ini sungguh sebuah kreativitas yang jenius dari seorang maestro seni lukis Bali.

Dra. Ni Made Rinu, M.Si (Dekan FSRD ISI Denpasar)
Budiana tidak pernah merasa lelah berkarya baik siang maupun malam, idenya selalu mengalir bahkan untuk mencapai ide itu beliau meditasi sehingga karya-karyanya berjiwa sehingga ada gregetnya. Disamping itu beliau tetap mempertahankan sejarah tradisi dalam mencari suatu karya seni baik secara teknik maupun perwarnaan dan proses lainnya.

Putu Fajar Arcana
(Redaktur Budaya Kompas, Kurator Bentara Budaya, alumnus Universitas Udayana)

Hari-hari ini kita akan menyaksikan sejarah Udayana ditulis kembali. Pameran perupa I Ketut Budiana lewat “Prabu Udayana” dengan bentangan karya sebesar 8.339 X 140 centimeter, telah melahirkan momentum baru, di mana nama Udayana dikukuhkan kembali sebagai peletak dasar-dasar organisasi besar bernama negara. Tokoh ini dianggap berjasa setelah melahirkan raja-raja besar di Jawa dan Bali. Airlangga, putra Udayana bersama Mahendradatta, menjadi leluhur kelahiran kerajaan besar seperti Singosari dan kemudian Majapahit. Momentum besar berikutnya, ketika berdirinya Fakultas Sastra Udayana cabang Universitas Airlangga Surabaya tahun 1958 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno. Sebagaimana kita tahu fakultas ini menjadi cikal-bakal berdirinya Universitas Udayana. Lukisan Budiana akan menjadi momentum kontemporer, yang lahir sebagai mengejawantahan ulang terhadap kebesaran Udayana. Ia bahkan tidak lagi sekadar reka ulang terhadap sejarah, tetapi justru memaknai sejarah itu, sehingga memberi dimensi baru dalam cara kita memahami realitas hari ini. Kebetulan Budiana adalah perupa yang selalu berhasil menarik mitologi menjadi masalah kini yang hidup di sekitar kita. Itulah yang membuatnya begitu mulus ketika mengisahkan perjalanan Udayana dari zaman klasik sampai ia hadir di hadapan kita, kini….

 

cropped-LAMBANG-UNUD-EMAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s