SOSOK PEREMPUAN DALAM SINEMA

Sinema Bentara
SOSOK PEREMPUAN DALAM SINEMA
Sabtu – Minggu, 16 – 17 April 2016 pukul 17.00 WITA

April memang bulan yang mengingatkan kita pada sosok Kartini, figur sejarah dan pejuang emansipasi di Indonesia. Kisahnya dapat ditemui dalam beragam media. Balai Pustaka pernah menerbitkan surat Kartini terjemahan Armijn Pane berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (1938). Sosok Kartini juga pernah ditulis sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Sadja yang terbit pertama kali pada 1962. Beberapa tokoh seperti Daoed Joesoef, sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo, S. Takdir Alisjahbana, Dr. Haryati Soebadio, Ny. Aisyah Dahlan, dan lainnya, menghimpun tulisan tentang Kartini dalam buku bertajuk Satu Abad Kartini (1879-1979).

Sedini awal perkembangan media audio visual di Indonesia, sutradara kenamaan Indonesia, Sjuman Djaya, mengekalkan sosok Kartini dalam film R.A. Kartini (1982). Film yang dibintangi oleh aktris Yenny Rachman, Bambang Hermanto dan Adi Kurdi tersebut mendapatkan delapan nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 1983 dan meraih tiga Piala Citra untuk kategori Tata Musik Terbaik, Tata Kamera Terbaik dan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik. Film tersebut juga meraih penghargaan khusus Film Terbaik oleh PWI Jaya dan Piala Khusus Djamaludin Malik.

Sinema Bentara kali ini mengambil tajuk Sosok Perempuan dalam Sinema. Selain menghadirkan film fiksi dan dokumenter karya sutradara perempuan lintas bangsa peraih penghargaan nasional dan internasional, akan ditayangkan pula film-film yang mengangkat tema seputar kehidupan perempuan berikut problematiknya di berbagai negara, serta refleksi atas situasi yang melingkupi perempuan dulu dan kini.

Beberapa judul film yang diputar di antaranya: R.A. Kartini (Indonesia, 1982, Sjuman Djaya); Minggu Pagi di Victoria Park (Indonesia, 2010, Lola Amaria); Batas (Indonesia, 2011, Rudi Soedjarwo), Ulrike Ottinger- Die Nomadin vom See (Jerman, 2012, Brigitte Kramer); Unter Schnee(Jerman, 2010, Ulrike Ottinger ); 17 Filles (Prancis, ).

Program ini bekerjasama dengan Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling – Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bali (Wilayah kerja Bali, NTB, dan NTT) – Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI, Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut Indonesien, dan Pusat Kebudayaan Prancis Alliance Française de Bali.

Sinopsis Film
R.A. KARTINI
(Indonesia, 1982, Durasi 165 min, Sutradara: Sjuman Djaya)
Film ini mengisahkan tentang perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia yang pada saat itu masih belum disetarakan dengan hak-hak kaum pria dalam hal mendapatkan pendidikan dan lainnya.

Film ini mendapatkan delapan nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 1983 dan meraih tiga Piala Citra untuk kategori Tata Musik Terbaik, Tata Kamera Terbaik dan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik untuk Nani Widjaja. Film ini juga meraih penghargaan khusus Film Terbaik oleh PWI Jaya dan Piala Khusus Djamaludin Malik.

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK
(Indonesia, 2010, Durasi: 100 min, Sutradara: Lola Amaria)

Film ini menceritakan kisah perempuan bernama Sekar yang menjadi TKW di Hongkong. Sekar tidak mampu bersabar memenuhi tanggungan 7 bulan gaji untuk membayar agen, Ia gegabah meminjam uang pada rentenir. Uang tersebut dikirim ke orang tuanya sebagai bukti keberhasilannya di Hongkong, alhasil kemalangan mulai menimpanya. Kakak Sekar bernama Mayang menyusul menjadi TKW ke Hongkong hanya untuk mencari adiknya. Perjalanannya yang berliku dan tidak mudah, membuat ia belajar memahami problematik kehidupan yang pelik.

Minggu Pagi di Victoria Park meraih penghargaan Festival Film Indonesia 2010 untuk Penyuntingan Terbaik, Indonesian Movie Award 2011 untuk Pendatang Baru Favorit dan Pendatang Baru Wanita Terbaik, Jakarta International Film Festival 2010 untuk sutradara terbaik, dan Festival Film Bandung 2011 untuk Pemeran Pembantu Wanita Terpuji, Best Southeast Asian Film pada Cinemanila International Film Festival 2010 dan Silver Hanoman Award pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2010.

BATAS
(Indonesia, 2011, Durasi: 115 min, Sutradara: Rudi Soedjarwo)

Film ini mengisahkan tentang sosok perempuan bernama Jaleswari dengan ambisi dan kepercayaan diri, mengajukan diri untuk mengambil tanggung-jawab memperbaiki kinerja program CSR bidang pendidikan yang terputus tanpa kejelasan. Dia menyanggupi masuk ke daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan. Ternyata suatu kehendak belum tentu sejalan dengan kenyataan. Daerah perbatasan di pedalaman Kalimantan memiliki pola kehidupannya sendiri. Mereka memiliki titik-pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Konflik batin tak terelakan, Jaleswari berada dalam tapal batas pilihan, antara pengetahuan dan pengalaman yang dilakoninya kini.

Pada Asean International Film Festival and Awards 2013, film ini meraih empat nominasi yakni Best Screenplay untuk Slamet Rahardjo dan Lintang Sugianto, Best Film Photography untuk Edi Michael, Best Supporting Actor untuk Piet Pagau serta Best Actress untuk Marcella Zalianty yang juga bertindak sebagai produser.

ULRIKE OTTINGER- DIE NOMADIN VOM SEE
(Jerman, 2012, Durasi: 86 min, Sutradara: Brigitte Kramer)

Film dokumenter ini merupakan biografi Ulrike Ottinger, seorang sutradara sekaligus artis yang luar biasa.Capaian sinematiknya telah mempengaruhi seluruh generasi. Semuanya dimulai di tepi Danau Constance dimana Ulrike Ottinger lahir. Tempat ini juga turut mewarnai perkembangan artistik pembuatan filmnya. Rekan-rekan Ottinger yang muncul dalam film ini termasuk sejarawan seni Katharina Sykora, kolektor dan kurator Ingvild Goetz, sejarawan film Ulrich Gregor, filsuf Bernd Scherer dan aktor Irm Hermann. Pada tahun 2011, Ia menerima Hannah Höch Award. Selain itu, Berlinale (Internationale Filmfestspiele Berlin, 2012) juga memberikan penghargaan kepada Ulrike Ottinger dengan Queer Film Award.
Brigitte Kramer, yang sama seperti Ottinger lahir di Konstanz di tepi Bodensee, menelusuri perjalanan dan kiprah sang pembuat film yang, sesudah Trilogi Berlin, selalu saja menuju ke tempat-tempat yang jauh, khususnya ke negara-negara Asia, ke Mongolia, Cina, Korea dan Jepang. Kisah perjalanan itu juga disampaikan dalam pameran besar “Floating Food” di “Haus der Kulturen” di Berlin. Dalam film ini Ulrike Ottinger, Ulrich Gregor, Irm Hermann dan beberapa orang lain berkomentar mengenai sang sutradara dan karya-karyanya.

UNTER SCHNEE (BERSELUBUNG SALJU)
(Jerman, 2010/11, Durasi : 108 menit, Sutradara: Ulrike Ottinger, berwarna, 108 menit)

Unter Schnee adalah film dokumenter realistis mengenai sebuah bentang alam dan sekaligus mempelajari mitos-mitosnya. Takeo dan Mako ingin melewatkan Malam Tahun Baru di kawasan bersalju. Setelah menumpang Shinkansen, kereta cepat Jepang yang sangat modern, mereka menuju ke penginapan yang terletak di hutan sunyi yang berselubung salju. Keduanya bermaksud mengikuti rangkaian upacara perayaan. Tetapi mereka kehilangan orientasi, dari segi tempat maupun waktu, dan perjalanan mereka pun menuju dari zaman sekarang ke masa lalu. Dengan diantar oleh motif dongeng kuno tersebut, film ini langsung menuju ke zaman Edo yang telah ditelan masa, ke dunia yang penuh mitos dan rahasia; sang sutradara diam-diam melanjutkan perjalanan kedua pelancong yang tersesat, dan mengamati melalui kameranya hal apa saja dari masa lalu yang terbawa ke upacara-upacara zaman sekarang.
17 FILLES
(Prancis, 2011, Durasi: 86 min, Sutradara Delphine Coulin & Muriel Coulin)

Film ini berangkat dari kisah nyata yang berlangsung pada tahun 2008 di Gloucester High School, Massacuchets, Amerika, tentang 18 siswa perempuan yang hamil pada waktu bersamaan. Mereka membuat pakta kehamilan dan menjadi topik berbagai media besar saat itu.

Terinspirasi dari peristiwa tersebut, film ini mengambil setting di daerah Lorient, 17 gadis-gadis remaja dari sekolah tinggi yang sama membuat keputusan yang tak terduga, tidak dimengerti untuk usia anak-anak dan orang dewasa. Mereka memutuskan untuk hamil pada waktu yang sama. Camille (Louise Grinberg) tinggal sendirian bersama ibunya yang kewalahan oleh pekerjaannya. Dia adalah orang pertama yang menemukan tes kehamilan positif. Enam belas temannya yang lain memutuskan untuk hamil pada waktu yang bersamaan dan mereka semua dapat membesarkan anak-anak mereka bersama-sama. Mereka tidak mau mematuhi kode etik tradisional. Mereka memutuskan untuk mendidik anak-anak masa depan mereka bersama-sama dalam bentuk sebuah “komunitas hippie.” Namun, apakah rencana semula mereka dapat terwujud sempurna?

Film ini ditayangkan pada Cannes Film Festival 2011 dan mendapatkan nominasi Critics Week Grand Prize dan Golden Camera, meraih penghargaan Student Jury Award pada Bratislavia International Film Festival 2011, Michel d’Ornano Award pada Deauville Film Festival 2011, nominasi pada César Awards 2012, dan Montréal World Film Festival 2011.

Jadwal pemutaran film :

Sabtu, 16 April 2016 :

17.00 : Unter Schnee (D)

18.30 : Batas (D)

20.00 : R.A. Kartini (D)

 

Minggu, 17 April 2016 :

17.00 : Ulrike Ottinger- Die Nomadin Vom See (23 tahun ke atas)

18.30 : Minggu Pagi di Victoria Park (D)

20.00 : Diskusi Sinema

20.30 : 17 Filles (D)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s