SOSOK PEREMPUAN DALAM SAJAK ZAWAWI IMRON

Dialog Sastra #50
SOSOK PEREMPUAN DALAM SAJAK ZAWAWI IMRON
Sabtu, 9 April 2016 pukul 18.30 WITA

Dialog sastra_Zawawi Imron4D. Zawawi Imron (71) memang penyair lintas zaman, terus kreatif dan produktif serta teruji melahirkan sajak-sajak cemerlang. Kali ini, melalui acara dialog sastra, ia hadir di Bentara Budaya Bali membacakan sejumlah karya terpilihnya, terutama yang menggambarkan sosok perempuan, termasuk perannya sebagai Ibu, baik simbolis maupun harfiah, yang menyentuh dan mencerahkan.

Dilahirkan 1 Januari 1945 di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, ia sohor disebut sebagai penyair Celurit Emas, salah satu judul buku antologi puisinya (terbit tahun 1980) dan terpilih menjadi Buku Puisi Terbaik di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Puisi-puisinya menghadirkan metafor-metafor segar yang terilhami dari desa kelahirannya serta kehidupan nelayan Madura yang berlayar lintas samudera. Bahasa puisinya jernih dan mengandung kedalaman renungan, serta mengejutkan para pembaca dengan kesanggupannya untuk mengekalkan momen puitik keseharian secara akrab dan guyub.

Kumpulan sajaknya “Bulan Tertusuk Ilalang” mengilhami sutradara Garin Nugroho membuat film dengan judul serupa (1994), dibintangi oleh Ki Soetarman, Norman Wibowo, Ratna Paquita. Film ini juga meraih beberapa penghargaan, di antaranya Best Director Festival des 3 Continents, Nantes, France (1997), International Film Critics Award (1996), dll.. Kumpulan sajaknya “Nenek Moyangku Airmata” terpilih sebagai Buku Puisi Terbaik dan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1985. Ia memperoleh berbagai penghargaan, antara lain: S.EA Write Award (2011) dan Hadiah dari Majelis Sastra Asia Tenggara (2011).

Penyair yang menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep ini kerap diundang membacakan karya-karyanya dalam berbagai peristiwa sastra nasional maupun internasional, antara lain di Winternachten, Belanda, Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002), dll. Karya-karyanya antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985), Bantalku Ombang Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999). Puisi-puisinya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris dan Bulgaria.

Dialog sastra Bentara Budaya Bali yang selalu diadakan sandyakala hingga malam hari ini, terutama untuk penyair Zawawi Imron, mengingatkan momen bersejarahnya, yakni ketika ia tampil di Bentara Budaya Yogyakarta tanggal 22 Desember 1984 membacakan puisi-puisi dalam “Celurit Emas”. Demikian pula pada kesempatan acara di Bali ini, ia akan membacakan puisi-puisi terpilih dari kumpulan tersebut, ditambah beberapa puisi-puisi cemerlang serta karya-karya terkininya yang merujuk tema acara, termasuk sajak ode yang menyuratkan penghormatan kepada sosok Kartini. Selain pembacaan puisi, akan dibincangkan pula seputar proses cipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s